Friday, December 15, 2006

Kesaksian Seputar Tragedi Kudeta 1965: Buku Harian Seorang Tapol

Ia termasuk tapol yang mujur dalam arti memiliki kesempatan menulis buku harian selama beberapa tahun (1966-1971). Ketika itu ia bersama ratusan tapol lain dijadikan romusa modern melakukan kerja rodi di daerah Banten dalam proyek Angkatan Darat yang disebut ’Operasi Bhakti Siliwangi’, antara lain memperbaiki jalan-jalan di daerah Banten sepanjang beberapa puluh kilometer, membangun kampus Universitas Maulana Yusuf (UNMA), antena radio persiapan RRI Serang, membersihkan pelabuhan Karangantu. Piringan hitam yang diputar di radio itu ternyata miliknya yang dibawanya dari Moskwa dan telah dirampas dari kamar asramanya di Cilegon. Kesempatan menulis buku harian merupakan barang langka, bahkan suatu kemewahan bagi seorang tapol G30S. Pena, kertas, buku, informasi dan perangkat peradaban lain merupakan musuh besar bagi rezim penindas jika jatuh ditangan mereka yang dianggap lawan politiknya.

Dalam salah satu catatannya, cukup menarik bahwa penangkapan di Banten dilakukan sejak dini. Minggu, 3 Oktober 1965, Ir. Soerjo Darsono diambil oleh Polisi dari mes di Serang dan dibawa ke Cilegon. Pada suatu hari pasti datang pula giliran kami yang lain, karena suasana menyudutkan PKI dan organisasi-organisasi massa yang dianggap ada kaitannya dengan PKI semakin gencar. Aparat didaerah terkesan lebih rajin mendahului Jakarta. Begitu cepatnya vonis dijatuhkan kepada PKI dan organisasi mantelnya, atau sesuatu yang memang sudah diatur demikian? Sebagai tapol, Ir. DSM Sastrosudirdjo sadar buku harian yang ditulisnya mengandung risiko. Dengan demikian ia secara sadar pula menerapkan berbagai kiat berkelit. Sebagian catatan itu dibuatnya dalam bahasa Rusia dengan huruf Kiril, juga dengan huruf Jawa dalam bahasa Jawa. Selanjutnya secara berangsur dikirimkannya melalui saudara kandung yang menjenguknya untuk disimpan bersama buku-buku koleksi miliknya yang sebagian masih dapat diselamatkan. Dengan masgul ia mencatat ketika melihat sebuah buku tebal kamus teknik yang dibawanya dari Moskwa dijadikan ganjal korsi jaksa yang memeriksanya, ”Ia seorang terpelajar bergelar sarjana hukum, tetapi belum berbudaya.”

Ketika menjadi mahasiswa di ITB Bandung, ia memasuki CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang digolongkan sebagai mantel PKI dengan pertimbangan sederhana, tidak ada perploncoan. Ketika ia memilih studi ke Moskwa dalam jurusan metalurgi, hal itu pun dilakukannya dengan pertimbangan lugas, pabrik baja pertama Indonesia di Cilegon dengan bantuan dan teknologi Uni Soviet. Tidak ada pertimbangan dan semangat politik atau ideologi yang menggebu sebagai yang menjadi kecenderungan umum masa itu sebagai respons terhadap retorika politik kebangsaan Presiden Sukarno. Dengan penuh idealisme ia menimba ilmu yang akan berguna bagi tanah air tercinta. Semangat semacam itulah yang terus-menerus dipeliharanya dalam bertahan hidup selama 12 tahun sebagai tapol di tahanan, kerja rodi dan pembuangan dalam solidaritas tinggi sebagai bagian watak pribadinya. Ia menjadi anggota SBBT (Sarekat Buruh Baja Trikora) beberapa bulan sebelum meletusnya G30S, ia bukan anggota resmi ataupun anggota ilegal PKI, bahkan ia pun bukan penganut Marxisme. Pernyataan ini tidak ada urusannya dengan pemaafan, pujian atau memandang rendah. Kenyataan itu merupakan salah satu petunjuk penindasan yang dilakukan rezim yang berkuasa dilakukan terhadap seluruh elemen yang dianggap membahayakan sang rezim.

Bagi banyak aktivis organisasi (kiri), dipenjarakan bukan merupakan kejutan besar tanpa disangka, meskipun pembunuhan besar-besaran tetap merupakan hal yang tidak diperhitungkan bahkan oleh para petinggi PKI pun. Bagi para aktivis hal itu merupakan risiko sikap politik yang dipilihnya. Sebaliknya bagi Ir. DSM Sastrosudirdo sesuatu yang tak pernah terlintas dibenaknya. Ia belajar, bekerja, belajar berorganisasi tanpa melakukan kalkulasi politik, tetapi lebih dibimbing oleh kata hati nurani tanpa pamrih apa pun kecuali ingin berbuat sebaiknya untuk negeri ini melalui kemampuan dan studinya. Di tengah kemelut tercemplung sebagai tapol pekerja rodi dengan nasib tidak menentu, ia masih sempat meneruskan hobinya untuk belajar bahasa Italia. Ia mengulang mimpi Italianya yang menjadi kenyataan ketika sedang studi di Moskwa, berkeliling ke berbagai pelosok Italia sebagai tamu kehormatan sejumlah keluarga pada suatu libur musim panas pada 1962.

Perjalanan gratis itu diorganisasikan oleh koran penting Italia, L’Unita, sebagai tanggapan terhadap surat pembaca yang ditulisnya dari Moskwa. Di samping sempat melempar tiga koin di Fontana di Trevi, Roma, ala film dan lagu romantis Three Coins in the Fountain, tempat ratusan turis tiap hari berduyun-duyun datang untuk melempar koin. Ia pun sempat didaftar sebagai anggota kehormatan Pemuda Anti Fasis. Dalam kunjungannya ke kota Grosseto, bagian dari agenda koran L’Unita, tempat partai komunis memenangkan pemilu lokal, dirinya disambut bak tamu agung. Dalam hatinya sempat malu karena merasa dirinya seorang pemuda yang bukan apa-apa. ”Tuan rumah yang menyambutku tahu benar aku bukan tokoh, hanya seorang mahasiswa dari negeri jauh. Benar-benar sambutan luar biasa yang mengharukan. Aku dibawa ke Balai Kota diperkenalkan pada walikota yang tengah rapat, ada kepala polisi dan beberapa pejabat tingkat daerah. Semuanya menyambut dengan antusias dan bukan basa-basi, bahkan aku diantar salah seorang dari pejabat daerah untuk meninjau sebuah proyek, Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, Lardarello. Di kota ini aku tinggal bersama keluarga muda Barzanti Nedo, di via Porto Lorento 47. Rupanya ada pula orang Italia yang mengenakan semacam bakiak kayu di rumah, aku pun mengikuti cara mereka. Mimpi pun berakhir, ia mendapati dirinya masih sebagai tapol. Ia tak pernah menyesal akan keputusan-keputusannya, akan nasib yang menimpanya.

Menurut catatannya urusan korupsi sudah dihadapinya ketika dia baru saja bekerja di Proyek Pabrik Baja Trikora di Cilegon, bagian penerimaan barang-barang dari Uni Soviet. Ketika itu, Ir. Tunky Ariwibowo yang kelak menjadi orang penting Orde Baru juga bekerja ditempat yang sama. ”Pengalaman baru juga kujumpai di Cilegon, korupsi dalam bentuknya yang begitu telanjang tanpa tedeng aling-aling, dibicarakan dengan santai tanpa rasa bersalah atau malu. Di awal 1965 sebagian pekerjaan pengangkutan barang eks Rusia dari Tanjung Priok ke Cilegon diborongkan pada kontraktor yang memiliki armada angkutan cukup besar, Direktorat Angkutan Angkatan Darat (DAAD), bagian dari Angkatan Darat. Proses negosiasi penentuan tarifnya tidaklah kuketahui, di atasku ada pimpinan lebih tinggi, Ir. Lintong Toruan dan diatasnya Ir. Tunky Ariwibowo. Sebagai tenaga pelaksana dan pengawas dilapangan aku tinggal menerima kiriman barang di Cilegon, menghitung kubikasi barang yang sebagian besar berbentuk peti kayu atau tonase yang dibongkar dilapangan, kemudian mengakurkan dengan tagihan kontraktor untuk periode yang sama. Suatu kali terjadi selisih begitu besar, kontraktor mengirim seorang petugas berpangkat letnan satu membawa tagihan Rp. 121.000.000. Menurut perhitunganku, dalam periode tagihan yang sama nilainya hanya Rp. 96.000.000, selisih Rp. 25.000.000.

Utusan dari Jakarta bersikukuh jumlah tagihannya sebesar angka tersebut, sedang aku pun bersikeras dengan catatanku. Karena tidak tercapai kata sepakat, datang atasan sang letnan satu, seorang letnan kolonel. Beberapa kali tidak berhasil rupanya membuat Pak Letkol putus asa, dia datang ke asrama malam hari dan meminta berbicara empat mata. Malam itu dia berterus terang mengatakan sebenarnya dia pun tahu nilai tagihan sebenarnya 96 juta, tetapi sengaja dinaikkan menjadi 121 juta. Antara percaya dan tidak, dalam hati kubayangkan dinaikkan 25 juta, kenaikan lebih dari 25 prosen, untuk siapa saja? Pak Letkol berjanji memberiku sekian, lalu siapa lagi yang diberi janji? Kalau berita acara penerimaan barang kuteken, atasanku akan langsung memberi tanda ’Acc’ dan kuitansi akan dibayar oleh Bagian Keuangan. Sebagai perbandingan gaji pokok sebagai Pegawai Negeri golongan F-2 saat itu Rp. 17.200 ditambah tunjangan beras dan lain-lain bisa mencapai Rp. 40.000. Dengan tegas kukatakan kepada Pak Letkol aku tidak akan meneken Berita Acara yang keliru tersebut. Beberapa kali Pak Letkol mengirim utusan dari Jakarta mendesak, datang dengan memakai pakaian seragam militer dan sekian kali pakai pakaian sipil, tetap kutolak. Akhirnya dia pun menyerah mengubah Berita Acara sesuai data yang benar, saat disodorkan aku bilang, “Kalau angka ini yang Bapak sodorkan, dari dulu sudah saya teken”. Itulah korupsi telanjang tersebut.

Sekalipun studi dan pekerjaannya dibidang teknik, perhatiannya sangat luas pada bidang-bidang lain, ekonomi, politik, sosial, sejarah, sastra, musik, bahasa, ekologi, dengan demikian catatannya berwarna-warni penuh dengan aspek kemanusiaan. Bertahun-tahun ia terlatih menulis catatan harian, selalu memberikan deskripsi dengan teliti dan rinci, mudah bagi kita membayangkannya. Catatan yang dibuatnya akan dapat dijadikan bahan dasar menarik bagi pembuat film yang berminat. Sebagai seorang tapol yang sedang bekerja rodi, ia masih sempat memikirkan soal sejarah Banten yang hilang karena penemuan benda-benda bersejarah ketika dilakukan pengerukan pelabuhan kuno Karangantu tidak didokumentasikan. Ia sempat membuat uraian tentang gagasan Propinsi Banten yang dewasa ini sudah menjadi kenyataan.

Ketika membaca majalah luar negeri (Februari 1970) tentang kekayaan seorang pejabat Orba sebesar 38 juta dollar, ia langsung menghitung. Ongkos seorang tapol ketika itu Rp. 35/hari, jika dijadikan Rp. 100 maka tiap tapol akan makan kenyang bergizi. Dengan kurs Rp. 378 masa itu, maka sang koruptor dapat memelihara 500 budak tapol yang ada di Banten dengan kenyang bergizi selama 554 tahun. Perhitungan sederhana yang pahit ini menggugah renungan kita. Selama lebih dari 30 tahun ini berapa miliar dollar kekayaan negeri ini telah dijarah oleh para penguasa dan pengusaha hitam. Berapa miliar dollar dana yang telah terakumulasi mereka kuasai dengan segala macam cara? Bukankah kini dengan dana tersebut mereka dapat memperbudak jutaan rakyat, 200 juta rakyat Indonesia? Karenanya money politics merupakan ancaman nyata yang telah dan akan terjadi, tidak aneh jika reformasi baru kulit tanpa isi.


(Sebagian pengantar naskah belum terbit Ir Djoko Sri Muljono, Banten Seabad Setelah Max Havelaar, Catatan Seorang Tapol 12 Tahun Dalam Tahanan, Kerja Rodi & Pembuangan, penyunting dan pengantar oleh Harsutejo)
Harsutejo/rumahkiri.net

Jugun Ianfu: Sejarah Perbudakan Seksual Jaman Jepang

Jugun Ianfu atau disebut juga budak seks dalam masa Jepang, kembali diangkat ke permukaan. Dalam putaran pertama kampanye tanggal 10 Nopember 2006 diadakan pemutaran film dan diskusi bertema “Jugun Ianfu: Sejarah Perbudakan Seksual Jaman Jepang Yang Terlupakan”. Jaringan advokasi Jugun Ianfu Indonesia terdiri dari berbagai lembaga non pemerintah seperti Koalisi Perempuan Indonesia untuk Demokrasi, Komnas HAM, dan Lembaga Bantuan Hukum, memulai kampanye advokasi mengangkat masalah ini.

Radio Nederland berbincang-bincang dengan koordinator Jaringan Advokasi Jugun Ianfu Dyah Bintarini, ibu Mardiyem salah seorang eks Jugun Ianfu dan Budi Hartono dari LBH Jogyakarta. Berikut rangkuman perbincangan tersebut.

Perempuan Menjadi Budak Seks
Dalam perang dunia ke II, sekitar 200.000 perempuan Asia dipaksa menjadi budak seks tentara kerajaan Jepang untuk memenuhi kebutuhan seks para serdadunya. Pada Desember tahun 2001 di Den Haag Negeri Belanda, Peradilan Internasional, ICC, memutuskan agar pemerintah Jepang meminta maaf dan memberi ganti rugi kepada para perempuan yang dipaksa menjadi budak seks semasa perang dunia II. Tribunal Internasional Kejahatan Perang Terhadap Perempuan juga menyatakan bahwa Kaisar Jepang Hirohito dan pejabat-pejabat senior Jepang lainnya pada waktu itu bersalah melakukan kejahatan perang.

Pahlawan
Peradilan yang didirikan oleh koalisi kelompok-kelompok perempuan dan aktivis HAM ini merupakan lanjutan peradilan di Tokyo satu tahun sebelumnya, di mana pada waktu itu didengar kesaksian-kesaksian dari para eks Jugun Ianfu. Tetapi keputusan tribunal tidaklah mengikat, dan lebih bersifat seruan moral belaka. Saat ini, lima tahun sudah berlalu tapi belum tampak kemajuan yang berarti. Menurut Dyah Bintarini, generasi muda tidak mengetahui sejarah Jugun Ianfu. Karena itulah sejarah Jugun Ianfu tersebut harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sejarah di Indonesia. Para perempuan eks Jugun Ianfu tidak layak disebut perempuan bernasib sial ataupun pembawa aib. Tetapi patut disebut sebagai pahlawan.

Memperjuangkan Hak
Para perempuan eks Jugun Ianfu saat ini telah memasuki usia senja. Bahkan banyak yang telah tutup usia. Ibu Mardiyem yang diberi nama Momoye oleh tentara Jepang, walaupun sudah memasuki usia senja masih gigih memperjuangkan hak-hak para eks Jugun Ianfu. Ibu Mardiyem: "Sebetulnya saya tahun 1959 itu sudah mulai berontak, ya. Tapi pada siapa saya ini mencari keadilan mau ngadu pada siapa? Saya nggak pernah nganggur untuk kesibukan supaya nggak terlalu ingat masa lalu. Setelah 1993 ada pengacara Jepang di Jakarta, 13 orang mendaftar. Belum ada reaksi dari pemerintah. Setelah ada pengumuman saya baca, langsung ke LBH. LBH saja belum siap. Jadi yang pertama ke LBH itu saya".

Pengakuan dan Permintaan Maaf
Sejumlah LSM perempuan di Jepang yang bersimpati pada perjuangan eks Jugun Ianfu mengundang ibu Mardiyem ke Jepang bahkan ke negara-negara asing lainnya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada masa lalu. Yang terpenting bagi ibu Mardiyem dan para perempuan eks Jugun Ianfu bukan saja masalah ganti rugi, tetapi yang terutama adalah pengakuan salah dan permintaan maaf.
Di Tokyo Jepang, tempat dilaksanakan Peradilan Rakyat Internasional yang mayoritas terdiri dari perempuan, para perempuan eks Jugun Ianfu berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Saya sangking terharunya sampai mencucurkan air mata demikian ibu Mardiyem. "Saya sebelumnya sudah siap mental pokoknya saya kalau ada peluang, saya tetap berjuang terus. Di pundak saya beban berat sekali. Bukan untuk saya sendiri atau kelompok saya sendiri. Yah, Indonesialah". Tutur ibu Mardiyem. Beserta para eks Jugun Ianfu, ibu Mardiyem tidak saja menghadapi lembaga formal seperti pemerintah Jepang dan Indonesia dalam menuntut keadilan dan pengakuan, tapi mereka juga harus menghadapi tatapan sinis, sindiran, dan perlakuan masyarakat yang menghakimi.
Masalah Moral

Dalam keputusan Peradilan Rakyat Internasional antara lain diputuskan mengenai masalah moral, yaitu Kaisar Hirohito dinyatakan bersalah dalam kejahatan seks perang dunia ke II dan harus melakukan permintaan maaf kepada para korban demikian Bpk. Budi Hartono. Tetapi keputusan tersebut tidak mengikat. Bagaimana tentang kemungkinan pembentukan tribunal internasional seperti Tribunal Yugoslavia atau Rwanda?

"Tadinya kita mau mengarah ke sana tapi ada hambatan karena ada batas-batas dalam Peradilan Internasional yaitu harus ada ikut sertanya, dalam hal ini adalah negara. Sementara negara Indonesia sendiri tidak perduli sama sekali terhadap korban kejahatan seks ini. Justru pemerintah Indonesia ini cenderung sangat ketakutan terhadap pemerintah Jepang, karena dikaitkan dengan bantuan yang masuk di Indonesia". Demikian bpk. Budi Hartono dari LBH Jogyakarta.

Sumber:
www.ranesi.nl /Juliani Wahjana dan Nina Nanlohy

Wednesday, December 13, 2006

Digul di Bulan Desember

Kasih sayang guru yang tak terlupakanKasihan ya, anak buaya itu..
Hujan terus menerus. Sungai Digul meluap dan arusnya deras. Pohon-pohon yang tumbang di hulu sungai Digul hanyut terbawa air yang mengalir deras. Kami yang tinggal di kampung B dan kampung C tidak kebanjiran, karena tempat perumahan kami cukup tinggi. Hanya ladang-ladang di tepi sungai Digul digenangi air. Dari rumah teman kami, Bedjo kecil anaknya oom Prawiro, ladang-ladang yang tergenang air itu bisa terlihat jelas. Ladangnya oom Matsari, oom Prawiro, oom Surodirodo, oom Wongsokarno dan lain-lain digenangi air. Air itu melebihi tingginya lanjaran kacang panjang. Biasanya kalau sudah kebanjiran seperti ini hanya tanaman kacang tanah yang bisa terus tumbuh dan bisa dipanen. Yang lainnya tak bisa diharapkan lagi.
Hujan belum juga reda. Pagi-pagi aku yang biasanya malas bangun digugah beberapa kali oleh adikku Rahmah. Rahmah memang rajin dan tak pernah terlambat bangun. Dan aku yang pemalas bangun, tetap ingin tidur. Selimut jarik (kain panjang) yang sudah lusuh dan penuh tambalan itu ditarik adikku Rahmah. “Bangun. Cepat sarapan. Telurnya yang setengah sudah kumakan. Sisanya setengah untuk mas Ribut (Ribut namapanggilanku waktu kecil). Cepat dikit. Nanti telat sekolah seperti kemarin. Untung meneer Said Ali tidak marah. Malu ‘kan?”
Aku segera bangun, cuci muka – tidak berani mandi karena dingin. Ibuku tidak marah, sebab ibuku tahu aku belum sembuh betul dari sakit malaria dan malariaku kronis. Waktu diopname di rumah sakit darah merahku hanya tinggal 40%. Aku tidak tahu cara menghitung darah, aku hanya menirukan apa yang dikatakan dokter Van Alderen ketika itu.
Setelah aku sarapan ibuku segera keluar rumah gerimisan memotong dua pelepah daun pisang raja di samping rumah. Dengan berpayungkan daun pisang itu kami berdua berangkat ke sekolah.
Aku dan adikku Rohmah berjalan hati-hati melewati rumah oom Nanang (Zainal Abidin), guru kami waktu kami sekolah di MES (Malay English School). Dulu ketika ayahku masih natura (natura adalah orang-orang buangan Digul yang tidak mau tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda dan hanya mendapat catu berupa beras, kacang hijau, gula merah dan lain-lain dalam bentuk natura) kami sekolah di sekolah partikelir (swasta) tapi karena sekarang ayahku sudah tunduk kepada gubernemen dan mau bekerja di seberang (tempat tinggal para bb ambtenaar–bb singkatan dari binnenlands bestuur–pegawai pemerintah kolonial Belanda).
Oya, aku teruskan dulu perjalananku dan adikku ke sekolah. Setelah melewati rumah oom Nanang dan semak-semak kecil kami membelok ke kiri menuruni jurang menyeberang jembatan. Kemudian melewati rumah teman kami Rusdi anaknya oom Samingun, rumah oom Sadi, lewat jembatan di bawah pohon Loo, kemudian lewat rumah oom Sumo Taruno yang anaknya adalah mas Bedjo besar, yu Watiyem, Siti Natura gendut (namanya sama dengan anaknya oom Mohammad Amin atau oom Madamin adik yu Khamsinah)–dan terus berjalan melewati rumah Oom Sunaryo ayahnya mbak Sulastri yang sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis, lewat rumah oom Nurati yang pintar melukis, lewat rumah meneer Said Ali guru kami, lewat rumah oom Sugoro (Sugoro yang memberi nama “Irian” utk New Guinea atau Papua), lewat rumah oom Sarpinudji kemudian menyeberang jalan lewat badminton baan dan sampailah di sekolah. Pakaianku dan pakaian adikku basah. Hanya sebagian kecil saja yang kering.
“Het is veel beter dan jullie niet naar school gaan,” kata meneer Said Ali. Rupanya guru kami itu merasa iba dan kasihan melihat kami basah kuyup.
Siapa bilang meneer Said Ali galak, kata hatiku. Meneer Said Ali memang sering memberi hukuman kepada anak-anak yang nakal dan beling. Tapi itu semua karena rasa kasih sayangnya kepada anak-anak didiknya.
Hari itu kami belajar tekun. Suara meneer Sujitno Reno Hadiwirijo kami dengarkan dengan tekun, diselingi suara bunyi hujan di atap sekolah yang terbuat dari seng. Temanku sekelas Mintargo, (anak oom Sarpinudji), Tri Harsono (anak oom Hardjo Prawito, Fadalat (anak oom Agus Sulaiman), Rukmini (anak oom Ibnu), Sukaesih (anak oom Djojo Penatas) dan lain-lain. semuanya belajar dengan rajin. Di kelasku ini tidak ada anak yang beling. Hanya kadang-kadang Mintargo teman akrabku itu suka nyelelek dan membuat teman-teman wanita marah.
Bel jam satu tanda pelajaran usai berbunyi. Dengan tertib kami mengemasi buku pelajaran dan berbaris keluar sekolah.
Mujur hujan sudah reda. Di langit awan putih masih menggantung menandakan masih akan hujan lagi. Temanku mas Supadmoyo (anaknya oom Hardjo Prawito kakaknya Triharsono) berlari-lari menghampiriku. Dia berbisik di telingaku, “nanti kita peraon, ya” (peraon – berperahu – main perahu). “Baklah, aku tunggu ya. Tapi jangan kesorean," jawabku.
Berperahu sambil Main dengan Anak Buaya
Sebenarnya siang itu aku harus pergi mengaji. Tapi karena aku merasa sudah hafal betul yang diajarkan oom Fakih (guru ngaji kami–kalau istilah sekarang biasa disebut ustadz), saya sengaja membolos.
Sekitar jam dua lewat temanku mas Supadmoyo dan adiknya Triharsono bersuit dari kejauhan. Aku segera keluar rumah, membawa Juzama dan pamit kepada emakku. “Mbok, aku pergi ngaji, ya,” kataku. Dan aku mencium tangan emakku yang lembut itu dan bergegas keluar rumah.
Dengan melewati halaman rumah oom Kadirun (rumahnya mas Suroso, yu Niswati, yu Siti Aisah, Sukarno, Sumono dan entah siapa lagi nama adik-adiknya) aku memasuki jalan di depan rumah oom Djojo Tugimin (ahli musik) dan kemudian bersama mas Supadmoyo dan Triharsono kami menyusuri jalan melewati rumah mbah Brahim, rumah oom Agus Sulaiman (rumah yu Suhaindah, mas Sayuti, yu Sutihat, Fadalat, Fatonah) dan langsung menuruni jurang yang menuju ke belik (sumur tempat mandi ) yang dibuat oleh oom Kadirun. Kami sampai di belik yang penuh air dibanjiri air sungai Digul yang banjir. Ya, di dekat belik itu ada sungai kecil atau anak sungai yang bermuara di Sungai Digul. Di tepi sungai kecil itulah perahu ayahku tertambat.
Perahu ayahku namanya “Entong” karena bentuknya memang mirip kepompong atau tempat ulat “bertapa” untuk menjadi kupu-kupu. Tapi walaupun perahu ini seperti kepompong bentuknya, lajunya bukan main dan mendayungnya tidak memakan banyak tenaga. Panjang perahu ini hampir 8 meter dan cukup lebar dan tidak oleng dan tidak mudah terbalik seperti perahu oom Subroto dari Malaria bestrijding yang bercat putih itu.
Rantai perahu segera kulepas dari tambatannya. Dengan Sigap mas Supadmoyo naik di haluan Triharsono naik di tengah dan aku naik dan duduk di bagian belakang (kemudi). Perahu mulai didayung dan aku mengemudikan perahu itu. Sungai kecil yang berkelak-kelok itu kami ikuti alir airnya dan sampailah kami di ladang yang digenangi air sungai Digul, lebar, lebar sekali seperti lautan.
“Jangan ke muara kali! Belok kiri saja ke bawah halaman rumah oom Nayoan. Di situ kita bisa berenang-renang dan kita pakai batang pisang sebagai pelampung,” kata mas Supad. “Dik Ribut harus belajar berenang sampai betul-betul bisa berenang, jangan berenang seperti kodok. Dan kamu Tri (Triharsono–adik mas Supad), ajari Ribut berenang, ya!" kata mas Supad lagi.
Perahu kubelokkan ke kiri menuju halamam rumah oom Nayoan yang kebanjiran. Halaman yang curam saja yang kebanjiran sehingga menyerupai kolam renang yang lebar dan luas, sedang rumahnya berada di tempat yang tinggi dan tidak dicapai air.
Perahu ditambat dan kami semua turun. Kami bertiga telanjang bulat. Pakaian kami taruh di tepian dan kami mulai berenang. Airnya segar dan bening (maksudnya tidak keruh seperti sungai-sungai di Jakarta). Air itu akan mulai butek kalau sungai Digul mulai surut.
Setelah agak lama kami berenang-renang, datang temanku Rusdi (anaknya oom Samingun), Bedjo (anaknya oom Prawiro) dan Sadjad (anaknya oom Wongso Karno). Mereka juga mau berenang-renang.
Walaupun aku berteman akrab dengan Rusdi waktu bermain layangan, tapi kalau berenang aku tidak mau berteman dengan dia karena beberapa kali aku hampir tenggelam berperahu dengan dia. Dia suka sekali membalikkan perahu karena dia memang pintar berenang sedangkan aku sendiri berenangnya masih seperti kodok. Aku lebih senang berperahu dengan mas Supad karena mas Supad mengajariku dengan penuh rasa kasih sayang seorang kakak. Mas Supad, Triharsono dan aku segera naik perahu lagi.
“Kemana?" tanyaku.
“Ke hilir,” jawab mas Supad.
Perahu segera kukemudikan ke hilir menuju ke arah rakit yang tertambat di bawah perengan Standard School Met Nederlands, yaitu satu-satunya sekolah gubernemen setingkat dengan HIS (Holands Inlandsche School) di Jawa. Mas Supad sudah kelas tujuh sedang Triharsono dan aku sendiri masih kelas lima.
Perahu melaju ke hilir di atas perladangan yang kebanjiran melewati rumah-rumah oom Soediyat, mbah Pawiro Sarjono, oom Sadi, oom Samingun, oom Sumo Taruno, oom Sunaryo, oom Nurati. Rumah-rumah itu kelihatan agak jauh dari ladang yang kebanjiran.
Setelah melewati gedung sandiwara bernama “Ontwikeling en Onspaningen” (gedung itu terletak di depan rumah oom Sutan Said Ali (guru kami dan kami menyebutnya dengan bahasa Belanda “meneer Said Ali”) sampailah kami di rakit.
Rakit ini bukan seperti rakit-rakit di sungai-sungai di pulau Jawa. Rakit ini besar dan lebar terbuat dari papan-papan tebal dan balok. Penghubung papan-papan balok ini bukan hanya paku-paku biasa tapi dengan sekrup besi besar-besar dan rakit ini ditambat dengan kabel sebesar pergelangan tanganku.
Di rakit inilah biasanya kalau sebulan sekali kapal Volmalhout, Albatros atau kapal lainnya membawa ransum (beras, kacang hijau, minyak tanah, kelapa dan entah apa lagi) datang dari Jawa, motor boatnya bersandar di rakit ini. Muatan motorboat yang terdiri dari beras, gula, kacang hijau dll. diturunkan di rakit ini dan kemudian oom-oom (orang buangan) mengankutinya ke gudang yang terletak di depan toko Tantui. Toko Tantui adalah satu-satunya toko orang Tionghwa di Digul. Ada juga warung-warung orang buangan misalnya warungnya oom Tambi, oom Yahya Malik Nasution, oom Wongso (pembuat roti) dan warung-warung lainnya – warung-warung kecil yang isi tokonya tidak selengkap toko Tantui.
Air sungai Digul mengalir sangat deras karena banjir. Banyak anak-anak lain yang bermain dan berenang-renang di rakit ini. Tapi kami (mas Supad, Triharsono dan aku tak berani berlama-lama. Kalau ketahuan bapak aku bermain perahu tentu aku dimarahi dan mungkin diikat lagi di bawah pohon jeruk dan digigiti semut ngangrang (semut besar merah) yang pedas sekali gigitannya. Tambatan rantai perahu di rakit kami lepas dan kami mulai mendayung ke arah hulu sungai. Karena arusnya deras kami harus mendayung sekuat tenaga.
Serumpun pohon pandan berduri kami lewati. Seekor anak buaya kuning bertengger di daun pandan yang menjuntai ke air sungai Digul. Anak buaya itu kami hampiri dan kami merasa kasihan kalau-kalau anak buaya itu jatuh ke air tentu akan terbawa arus air yang deras. Triharsono menangkap anak buaya itu dan menaikkannya ke dalam perahu. Anak buaya itu dielus-elus oleh Triharsono dan anak buaya itu diam saja. Sebentar-sebentar lidahnya terjulur keluar. Mungkin dia ingin menetek kata Tri. Mana ada buaya menetek, dia lapar. Kata mas Supad. Dengan membawa anak buaya itu kami terus mudik ke hulu menuju halaman rumah oom Nayoan dan terus ke arah kali bening tempat semula.
Sampai di kali bening aku menoleh ke belakang. Aku terkejut. Induk buaya mengikuti kami.
“Mas Supad, induk buaya itu mengikuti kita,” kataku.
“Biar, biar saja ikut ke rumah kita. Nanti semuanya kita pelihara. Jadi nanti di rumah kita ada kucing, anjing kita si Tupon dan burung nori dan kakatua. Kita beri makan sagu di satu piring agar mereka belajar hidup rukun seperti kita,” jawab mas Supad.
“Ah, tapi aku takut. Induk buaya itu makin dekat, Dia menyentuh dayungku. Kita lepaskan saja anaknya di lanjaran kacang panjang itu,” kataku.
“Mbok, mbok buaya kuning, jangan marah ya. Kita kan bersahabat. Kami sedikit pun tidak menyakiti anakmu, Kami hanya ingin bermain bersama. Mbok buaya juga boleh main ke rumah kami. Nah anakmu kami tenggerkan di lanjaran ini. Tapi hati-hati ya, gendong anakmu pulang.” Kataku.
Nah begitulah. Kami lepaskan anak buaya itu dan segera mengayuh perahu ke arah belik oom Kadirun. Kami segera sampai. Perahu segera kutambatkan di tempat semula dan kami bertiga bergegas pulang ke rumah masing-masing.
Oleh: Tri Ramidjo
Tangerang, Senin Wage 13 Nopember 2006

Monday, November 20, 2006

Tentang Louis Althusser: Catatan Awal Investigasi


Oleh Utche P. Felagonna
Pendahuluan
Selain Nietzsche, tidak ada orang "gila" lain yang memberikan kontribusi penting bagi kebijakan manusia selain Louis Althusser. Dia disebut dua kali dalam Encyclopaedia Britannica sebagai guru seseorang tokoh. Pada tahun 1960-an dan 70-an, masa-masa yang penting bagi perkembangan filsafat di Perancis, dan kebangkitan studi tentang kebudayaan, Louis Althusser telah memberikan kontribusi penting. Tetapi, tidak banyak orang yang mengenal Louis Althusser setelah ketragisan hidup dan kampanye ad hominem terhadap karya dan dirinya yang kemudian mempengaruhi perkembangan pemikiran para pengikutnya. Banyak orang lebih mengenalnya sebagai seseorang yang mencoba memformulasikan Marxisme dengan metode yang dipakai oleh aliran strukturalisme. Sekalipun ia tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang strukturalis sehingga John Lechte menganggapnya seseorang Marxis dengan kecenderungan strukturalis.
Louis Althusser lahir di Aljazair 19 Oktober 1918 dan meninggal di utara Paris pada 23 Oktober 1990. Studi filsafat diperolehnya di École Normale Supérieure di Paris, dimana ia kemudian menjadi profesor filsafat. Ia juga merupakan intelektual yang bergabung dengan Partai Komunis Perancis. Argumen-argumennya kebanyakan adalah tanggapan terhadap serangan-serangan yang ditujukan pada dasar-dasar ideologi partai itu. Termasuk diantaranya empirisisme yang mempengaruhi tradisi sosiologi dan ekonomi Marxis, serta ancaman dari orientasi humanitik dan sosial demokrat yang dipandangnya sebagai sebuah ancaman yang mulai mereduksi kemurnian orientasi partai-partai komunis Eropa. Jadi, Louis Althusser dalam hal itu dapat dikategorikan sebagai seorang filsuf Marxis yang lebih ortodoks, karena mencoba mempertahankan dasar-dasar pemikiran Marx dan melihatnya sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentang masyarakat yang harus mengikuti dasar-dasar ilmiah.
Althusser berada dalam ruang anti humanis (tepatnya humanis teoritis), karena ia menentang pandangan bahwa individu ada sebelum kondisi-kondisi sosial muncul. Individu adalah bentukan dari desakan-desakan kondisi struktur yang ada. Struktur di sini bukan hanya dalam arti tingkatan atau strukturasi, tetapi menunjuk pada kompleksitas bagunan-bangunan (deferensial maupun strukturasi) segala sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan dan keberlangsungan sistem kehidupan. Struktur secara luas menyangkut dunia ide, materi, baik yang tercandra dalam bentuk organisasi atau bahkan pandangan-pandangan hidup, pun ideologi. Individu dengan sendirinya adalah makhluk terberi, bahkan terhadap kesadarannya sendiri merupakan suatu reflektif dari kondidsi objektif struktur yang mengerangkainya.
Masyarakat dalam pendekatan Althusser adalah kesatuan struktural yang tersusun dari tingkatan-tingkatan otonom. Tingkatan-tingkatan tersebut memiliki karakter yang berbeda sebagai sebuah kesatuan dalam struktur, karena setiap unsur dari tingkatan otonom tadi secara jatidiri mencerminkan sebagai ciri keseluruhan. Althusser menolak masyarakat sebagai totalitas sosial yang menampilkan langsung hubungan-hubungan ekonomi. Kecerdasan Althusser terbukti saat ia berusaha menjelaskan bahwa dugaan para intelektual Marxis yang menganggap Marx sangat deterministik ekonomi berarti secara mentah hanya melihat masyarakat sebagai sebuah totalitas sosial yang menampilkan relasi ekonomi. Hasil pandangan seperti ini hanya terjadi jika melihat Marx dalam konteks pengertian ekonomi klasik—yang kerap disandarkan dalam pemahaman atas Hegel.
Diskursus yang dicapai Marx adalah diskursus yang berada diluar kolam cakrawala pemikiran Hegel, meski keduanya terjun dalam term ekonomi. Diskursus Marx memiliki cakrawala kompleksitas dalam dirinya sendiri sehingga jika serta merta ditempelkan dalam cakrawala kompleksitas Hegel sifatnya akan meredup—tidak terungkap seperti yang sesungguhnya—karena harus menggunakan struktur pengetahuan yang berbasis Hegel, menggunakan struktur teoritisi tertentu, epistemologi, metode yang bertolak dari pijakan konsep dan bahasa dalam Hegel. Dengan begitu Marx akan kehilangan originitalitas pemikiran dan keradikalannya. Dengan kalimat lain, melekatkan suatu diskursus pemikiran seseorang dalam kawasan cakrawala pemikiran seseorang yang lain akan terjebak pada konteks keilmuan dan kepentingan epistemologi seseorang yang lain tersebut.
Pembacaan ala Althusser ini merupakan suatu revolusi teoritis dengan melihat apa sebenarnya pusat studi teori-teori Marx itu, dan rupanya ia menemukannya dalam cara produksi. (meski memiliki hasil analisis yang sama seperti melihat Marx sebagai negasi (struktur teoritis) dalam konteks ekonomi klasik Hegel, cara produksi yang ditemukan Althusser menjadi sebuah bagian tingkatan otonom yang menentukan efektifitas kerja bagian-bagian diferendsial lainnya, pembacaan dengan melihat tingkatan-tingkatan otonom lain secara lebih arif ini memberi point lebih terhadap pembacaan Althusser.) Althusser membaca Marx dengan meletakkan Marx sebagai sebuah diskursus yang berada dalam kolam cakarawala pengetahuan dirinya (pikiran-pikiran Marx ) sendiri. Ini menjelaskan mengapa Althusser melakukan upaya pembacaan yang ahistoris, ia memandang ilmu sebagi ilmu bukan sekadar turunan dari kolam diskursus tertentu, dengan kata lain mungkin Althusser ingin menunjukkan bahwa tidak selalu jiwa bertolakan dengan materi, karena mungkin diskursus materi sendiri bukanlah sesuatu yang final, demgan begitu Althusser melihat tidak ada konsep yang utuh yang ada hanya gambaran-gambaran dari pengetahuan kita dalam melihat dan memahami unsur dari tuingkatan-tingkatan ortonomi yang merupakan ciri keseluruhan sebuah struktur semesta.
Cara pikir yang demikian bisa jadi sangat menakutkan, karena manusia harus tahu dan sadar bahwa tidak ada kesadaran yang utuh, selain kesadaran yang muncul dari pilihan-pilihan manusia (otonomi manusia) terhadap gambaran-gambaran konsep yang terpenggal-penggal hasil bentukan struktur semesta yang telah ada sebelum si ego ada, terbangun dalam dirinya sebagai struktur itu sendiri dan dalam diri manusia yang terberi tadi. Berhadapan dengan orang yang sadar atas pilihan-pilihan konsep dari suatu proses reflektif terhadap struktur sekitar dan yang terberi akan membangun sebuah kesadaran pelawanan yang luar biasa jika ini terjadi dalam sebuah gerakan perlawanan terhadap kemapanan, ketidakadilan atau kapitalisme. Karena kesadaran yang terbentuk secara efektif mampu melihat bagaimana sebenarnya struktur bekerja secara langsung memberi pengetahuan tentang kisi-kisi struktur mana yang harus diberangus dulu. Kesadaran atas ideologi, pembacaan terhadap semesta struktur membawa pada kelihaian strategi dan siasat perjuangan yang dashyat. Inilah yang dapat memberi gelombang perlawanan tak henti karena setiap kader akan sangat gesit mencari siasat yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang tahu dan sadar betul bentukan struktur terhadap diri, kelompok dan kelas kepentingannya.
Strukturalime dan Louis Althusser
Tahun 1960-an, strukturalisme berkembang sebagai gerakan intelektual di Perancis. Pokok pandangan aliran ini adalah: dalam setiap aspek kehidupan, pikiran dan tindakan kita sebenarnya diatur oleh struktur dalam (deep structure) yang bisasanya tidak kita sadari. Struktur-struktur dalam yang tidak kita sadari itu dapat digunakan untuk mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia. Strukturalisme menjelaskan dari segi eksistensi dan interaksi struktur yang mendasarinya, yakni sebagai ganti dari agensi, cara berfikir dan memutuskan manusia (Adams, 2003: 285). Paham strukturalisme memandang makna suatu unsur/elemen, tidak ditentukan oleh substansinya tetapi oleh relasi dengan beberapa unsur dalam struktur. Beberapa prinsip strukturalisme banyak diinspirasi oleh Sausurre ketika mencari sifat-sifat yang termanifestasi dalam bahasa. Konsep ini kemudian diradikalkan oleh kelompok pasca-strukturalisme yang menyatakan bahwa makna tidak pernah dapat stabil karena selalu terpengaruh arus permainan jaringan penanda.
Strukturalisme mengkritik penggunaan pendekatan humanisme dan historisisme dalam ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, psikologi dan linguistik. Anehnya, seringkali hal itu dilakukan atas nama Marxisme. Claude Lévi-Strauss, menyebut dirinya seorang Marxis, mengkritik masih adanya prinsip-prinsip dialektika Hegelian pada karya-karya eksistensialisme-humanis dari Sartre, yang menyebabkan debat panjang dirinya dengan Sartre (Kurztweil, 2004: 33-39). Jacques Lacan menulis ulang psikoanalisis Freudian dalam term-term yang digunakan oleh prinsip-prinsip struktural seperti pada linguistik yang diajarkan Saussure, sehingga ia menyatakan: “L’inconscient est structure comme un langage” (Ketidaksadaran dirancang seperti suatu bahasa) (Bowie dalam Strurrock, 2003:202). Michel Foucault secara radikal mempertanyakan asumsi-asumsi bahwa sejarah adalah sesuatu yang progresif serta meragukan apakah yang disebut dengan pengetahuan manusia itu memiliki obyek pengertahuannya yang nyata secara ontologis (Sarup, 2004:101;103). Strukturalisme, karenanya lebih mengutamakan struktur dari pada subyek, dengan mengutamakan penggunaan analisa sinkronik (ahistoris) daripada diakronik, telah membuka kembali perdebatan yang lama dari Marxisme itu sendiri (Wihl, 2000).
Dengan menggunakan ide-ide yang dikembangkan oleh aliran strukturalisme, Louis Althusser—terutama dengan metode pembacaan simtomatis—menafsirkan kembali Marx. Louis Althusser menolak semua intrepretasi pikiran Marx yang dianggap humanistik-teoritis dan ekonomi-deterministik dengan menyatakan bahwa dalam karir intelektual Marx terdapat keterputusan epistemologis yang mengubah orientasi intelektual Marx. Louis Althusser adalah salah satu dari beberapa filsuf yang menjadi anggota PCF, tetapi keputusannya untuk bergabung dengan partai itu telah mengakibatkan dominasi yang kuat dari partai terhadap karya-karya dan kehidupannya. Apapun yang dikatakan atau ditulisnya dianggap dan harus mengikuti garis kebijakan partai. Tetapi ia tetap menjadi anggota partai sepanjang masa hidupnya.
Louis Althusser baru menonjol dalam kalangan intelektual Perancis setelah tahun 1965, setelah dua karyanya, For Marx dan Reading Capital diterbitkan. Sejak saat itu, ia bersama dengan Roger Garaudy menjadi dua orang intelektual PCF yang terkemuka (Kurztweil, 2004, 50-52). Pemikiran Louis Althusser yang cukup terkenal adalah teorinya mengenai ideology state aparatus dan repressive state aparatus yang terdapat dalam negara kapitalistik sebagai analisa tentang bagaimana sebuah mekanisme reproduksi kondisi-kondisi produksi berlangsung. Analisis wacana yang dikembangkan dari pandangan-pandangan Althusser masih bertahan sampai saat ini, yakni analisis wacana yang menggunakan metode symtomatik terhadap teks. Metode itu digunakan untuk mengetahui kandungan ideologi apa yang berada di belakang sebuah teks atau wacana. Teori ideologi Althusser tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh Pecheux dan mempengarhui pandangan-pandangan tentang komunikasi dari John Fiske (Faruk, 2002); (Fiske, 2004:240-6); (Macdonell, 2005).
Althusser menyerang penggunaan dialektika Hegel dan bentuk-bentuk lain dari Marxisme humanis, ia mengajukan Marxisme sebagai sebuah ilmu pengetahuan (science) yang tidak memiliki dasar-dasar etika. Kritiknya dibentuk oleh sebuah pendirian bahwa subyektifitas manusia, bersama dengan persoalan-persoalan filsafat dihasilkan oleh dualisme subyek-obyek adalah ilusi. Marxisme Althusserian menjadi trend pada universitas-universitas diluar Perancis, tetapi para pendukungnya serta gaya mereka yang penuh paradoks juga menyebabkan timbulnya aliran Marxisme Analitis di akhir tahun 1970-an (Torrance, 2000; 531).
Posisi Louis Althusser dalam Marxisme abad ke-20 dapat ditempat di antara dua intrepretasi tentang pemikiran Marx yang sepintas lalu bentuknya bertentangan, sehingga menolak yang satu dengan sendirinya berarti menerima yang lain. Dua intrepretasi itu adalah humanisme dan ekonomisme. Humanisme keliru dalam menerjemahkan konsep Marx dan Lenin tentang sejarah. Bagi pengaut humanisme manusia adalah subyek sejarah, seperti Hegel meletakan roh. Padahal, materialisme hanya memperhatikan hubungan-hubungan sosial dan manusia itu sebagai “tempat berpijak” bagi hubungan-hubungan sosial. Intrepretasi humanisme ini mendapat angin dalam kerangka gelombang anti-stalinisme sesudah kongres Partai Komunis Uni Soviet ke-20, khususnya di Prancis yang didominasi oleh aliran eksistensialisme dan antroposentrisme.
Louis Althusser mengaitkan anti-stalinisme dengan anti-humanisme. Baginya humanisme teoritis sebagai humanisme yang tidak bersifat etis—yang menempatkan manusia sebagai pusat sejarah dan pusat realitas—tidak mungkin beranjak dari pemikiran Marx. Louis Althusser juga menolak ekonomisme atau pandangan yang menganggap hubungan-hubungan sosial hanya mencerminkan proses-proses ekonomis—ekonomi menentukan segala-galanya. Ekonomisme mengabaikan perjuangan kelas dan pertentangan-pertentangan dalam hubungan-hubungan produksi.
Menurut Bertens (1985; 432-433) Louis Althusser bertujuan memberikan suatu kerangka tepretis yang kokoh kepada ajaran Marx. Ia ingin merumuskan kembali filsfat materialistis ini sedemikian rupa sehingga menampakkan relevansi teoritis dan politisnya. Langkah yang dilakukannya antara lain adalah membaca kembali karya-karya Marx, Engels dan Lenin untuk menggali dan menemukan kekuatan teoritisnya sebagai ilmu pengetahuan ilmiah. Menurut Althusser, pada pemikiran Marx, struktur-struktur politik dan ideologis suatu masyarakat tidak boleh dianggap hanya mencerminkan proses-proses ekonomis. Struktur-struktur ideologis dan politik mempunyai suatu otonomi tertentu yang sifatnya relatif. Dengan pengertian bahwa proses-proses ekonomi juga bisa ditentukan oleh politik dan ideologis, pada akhirnya harus dimengerti berdasarkan struktur-struktur hubungan-hubungan produksi.
Hubungan Louis Althusser dengan strukturalisme agak aneh. Dalam Essay on Self-Critism ia menolak disebut sebagai seorang strukturalis. Seperti juga yang disampaikannya dalam pendahuluan buku Reading Capital edisi kedua. Ia mengatakan bahwa buku-bukunya tidak memiliki hubungan dengan “ideologi strukturalis”. Ian Craib (1992:186) melihat penolakan Althusser itu sebagai sesuatu yang politis sifatnya. Namun demikian, pengaruhnya akan terlihat saat menelaah karya-karyanya. Sementara itu Bertens (1985: 438) mengambil kesimpulan bahwa sekalipun Althusser menyangkal dirinya sebagai seorang strukturalis, bukan dirinya orang paling tepat untuk menilai pemikirannya. Tetapi, ada dasarnya juga untuk mengatakan Althusser sebagai seorang strukturalis Selain karya-karyanya dipenuhi dengan terminologi yang dekat dengan strukturalisme, ia juga menganut pendirian-pendirian yang khas strukturalis, seperti anti-humanisme dan anti-historisisme.
Althusser dan Kajian Media
Beberapa pemikiran Louis Althusser dapat digunakan untuk menjelaskan peranan media dalam masyarakat. Studi ini sepenuhnya belum selesai, karena pemikiran Louis Althusser sendiri menurut saya sangatlah rumpil (complex), sehingga tulisan ini bisa dikatakan sebagai catatan awal yang digunakan untuk penyelidikan lanjutan mengenai hal itu. Tentunya, juga dengan mempelajari pemikiran-pemikiran Barthes tentang semiologi dan Foucoult. Kajian Althusser tentang Ideologi—ISA dan RSA—merupakan sumber yang paling banyak digunakan dalam cultural studies dan kajian media. Terutama konsep-konsep seperti interpelation, overdetermination, hailing dan lain-lain. Dalam hubungannya dengan kajian media, pemikiran althusser tidak dapat dilepaskan dari pemikiran-pemikirannya yang kemudian menjadi khas strukturalisme Marxisme.
Ada dua konsep Marxisme struktural yang penting. Pertama, penolakan Louis Althusser terhadap bentuk hubungan antara basis dan supra-struktur klasik yang deterministik, serta pandangannya yang melihat media dengan tegas sebagai alat produksi yang menciptakan kesadaran palsu. Dalam Marxisme klasik, basis ekonomi dalam masyarakat menciptakan supra-struktur (politik-ideologi dll)—hubungan-hubungan ekonomi menghasilkan fenomena-fenomena sosial, budaya dan politik yang meliputi semua hal termasuk diantaranya ideologi, kesadaran politik hingga budaya yang berhubungan dengan media. Marxisme strukturalis Althusser menolak pandangan klasik tersebut. Ia berargumen bahwa hubungan basis dan supra-struktur itu bersifat otonomi relatif, dan terdapat kesalinghubungan yang saling mempengaruhi antara supra-struktur dan basis. Sekalipun begitu ekonomi masih mempunyai pengaruhi ‘in the last instance’.
Marxisme Althusser juga menjadi sangat struktural, karena ia menolak konsep essensialisme[5] yang menyebabkan pandangan kaum Marxis melihat hubungan-hubungan ekonomi sebagai satu-satunya esensi dalam masyarakat dan melihat perkembangan sosial masyarakat seolah-olah ekspresi manusia secara alamiah. Dalam pandangan Louis Althusser tiap-tiap pandangan subyektif manusia dibangun oleh ideologi—sebagai faktor yang menjembatani manusia dan alam sekitarnya. Selanjutnya, manusia dan kategori-kategorinya terdapat dalam struktur yang kompleks yang telah ada sebelumnya, seperti bahasa, pendidikan dan dalam konteks ini, budaya media.
Berbeda dengan Marxisme klasik yang sangat ekonomi deterministik, budaya, dilihat sebagai ekspresi dari hubungan produksi yang terjadi. Budaya adalah supra-struktur, sehingga media-massa komersil, koran, majalah, televisi isinya dipandang sebagai cerminan dari hubungan-hubungan ekonomi yang eksploitatif, yang melatarinya. Mengikuti pandangan Louis Althusser, media-massa dilihat sebagai sebuah praktik ideologis yang hubungannya relatif otonom dengan hubungan-hubungan ekonomi yang ada padanya. Dengan begitu sangat memungkinkan untuk menghasilkan nilai-nilai yang berbeda dan berlawanan. Dalam ekplorasi lebih lanjut, media dapat pula menciptakan nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang konsekuensi politiknya seperti yang dapat kita lihat saat ini: medialah yang mengatur dan mengontrol masyarakat. Dengan demikian, wajar jika Green Day (musisi band-ed) tidak ingin menjadi bagian dari masyarakat Amerika yang idiot, dimana masyarakatnya sangat menggagumi media massa, sehingga tidak sadar jika seluruh bangsa itu telah dikontrol oleh media.
Sebelum Althusser, kaum Marxis lainnya juga telah memperhatikan media sebagai sebuah bagian dari alat produksi yang khusus menciptkan kesadaran palsu bagi kelas-kelas pekerja. Kajian Adorno dan Horkheimer yang melihat media massa sebagai bagian dari industri kebudayaan atau budaya industri itu sendiri yang memproduksi “pembodohan massal”]. Karakteristik ini kemudian menyadari bahwa media massa menjadi alat untuk mengembangkan nilai-nilai yang berlaku dalam kelas yang berkuasa di samping institusi lain, seperti pendidikan, agama, polisi bahkan sistem politik.
Dalam kajian mengenai institusi-intitusi di luar media massa, pandangan penting dari Louis Althusser adalah tentang ideologi dan aparatusnya. Althusser menolak faham bahwa ideologi adalah kesadaran palsu, sekalipun ia menyadari juga bahwa manusia berhubungan dengan alam sekitarnya melalui ideologi, yang juga memiliki kekuatan yang sama untuk menjadi faktor yang menentukan bangunan masyarakat, sebagaimana basis ekonomi. Ideologi menurut Althusser adalah: I D E O L O G Y (idéologie). Ideology is the 'lived' relation between men and their world, or a reflected form of this unconscious relation, for instance a 'philosophy' (q.v.), etc. It is distinguished from a science not by its falsity, for it can be coherent and logical (for instance, theology), but by the fact that the practico-social predominates in it over the theoretical, over knowledge. Historically, it precedes the science that is produced by making an epistemological break (q.v.) with it, but it survives alongside science as an essential element of every social formation (q.v.), including a socialist and even a communist society. Dengan menempatkan ideology pada tempat yang lebih utama daripada alat-alat produksi, Althusser membuka pembacaan yang bersifat oposisional terhadap media massa sebagamana juga membuka jalan bagi beragam cara pandang dalam media. Seperti juga apa yang dikatakan Marx, dalam ideologi, manusia sadar akan status sosialnya dan berjuang untuk membebaskannya. Sehingga dengan “membaca” dan “melihat” media, maka seseorang akan sadar dengan status sosialnya, serta melalui produksi media orang juga dapat melakukan perlawanan terhadap dominasi kelas yang berkuasa.
Di samping itu, ideologi juga memiliki peran dalam menciptakan individu menjadi subyek-subyek. Individu mendapatkan status/identitas sosialnya terutama melalui aparatus ideologis negara, salah satunya adalah media. Dalam diskursus cultural studies, pandangan Althusser tentang ideologi setidaknya dapat dipahami dalam lima konsep. Pertama, ideologi mengacu pada pelembagaan gagasan secara sistematis yang diartikulaiskan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Kedua, ideologi dipandang sebagai upaya penopengan dan penyembunyian realitas tertentu. Ia berfungsi untuk menghadirkan citra-citra tertentu yang telah diseleksi, direduksi dan didistorsi yang kemudian memproduksi apa yang disebut oleh Marx dan Engels sebagai “kesadaran palsu”. Ketiga, defenisi ideologi sedikit banyaknya terkait dengan defenisi kedua, yaitu ideologi yang terwujud/ mengejewantah dalam bentuk-bentuk ideologis. Ideologi dimanfaatkan untuk menarik dan memikat perhatian massa pada citra-citra media untuk kemudian menarik massa untuk berpihak pada ideologi yang memproduksi bentu-bentuk itu. Keempat, ideologi sebagai pelembagaan ide sekaligus sebagai praktek materil. Konsep ini dikemukakan oleh louis Althusser dalam Ideology and Ideological Apparatus. Maksudnya, ideologi dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada ide-ide tertentu tentang kehidupan sehari-hari. Althusser menandaskan bahwa aktivitas-aktivitas yang lazim kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari sejatinya memproduksi akibat-akibat yang mengikat dan melekatkan kita pada suatu tatanan sosial yang mapan, sebuah tatanan yang senjang dan tidak adil. Aktivitas-aktivitas itu, mengelabui massa dari realitas kesenjangan dan ketidakadilan itu untuk sementara waktu. Karenanya ideologi juga berfungsi untuk mereproduksi kondisi-kondisi dan relasi sosial strategis yang penting demi tujuan tertentu, terutama bagi kepentingan ekonomi dan kuasa ekonomi kapitalisme. Kelima, ideologi yang difungsikan pada level konotasi (tersirat), makna sekunder, makna yang seringkali tidak disadari yang terdapat pada teks dan praktik kehidupan. Defenisi ini dikemukakan oleh Roland Barthes, seorang teoritisi budaya Perancis. Ideologi (mitos) menurut Barthes mengarahkan kita pada perjuangan hegemonik untuk membatasi makna konotatif, menetapkan konotasi-konotasi partikular, dan memproduksi konotasi-konotasi baru. Ideologi selalu berupa untuk menjadikan apa yang faktanya partikular menjadi universal dan legitimate dan juga upaya untuk menaturalkan hal-hal yang pada dasarnya kultural.
rumahkiri.net

Sunday, October 15, 2006

KEBENARAN VERSI PRABOWO

Dari arsip yang diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka, PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom. Xpos, No 07/III/5-12 Maret 2000.
Prabowo merasa "dijebak" saat meletus kerusuhan Mei 1998.Benarkah Wiranto sengaja meninggalkannya di Jakarta?
Dua tahun berlalu, sejak terjadinya kerusuhan berdarah bulan Mei 1998.Letjen (purn.) Prabowo Subianto merasa sudah saatnya bicara blak-blakan. Mutasi besar-besaran di tubuh TNI yang digambarkan sejumlah pengamat militersebagai upaya "de-Wiranto-isasi", mungkin dianggapnya sebagai momen yangtepat untuk menumpahkan uneg-unegnya. Selama ini, ia hanya bersikap defensifmenanggapi pemberitaan di berbagai media massa yang dianggapnya terlalumenyudutkan dirinya.
Ketika ia merasa harus bicara, pun media yang dipilihnya bukan dari dalam negeri -yang dikhawatirkan tidak independen dari kekuatan politik tertentu-melainkan mingguan berbahasa Inggris, Asiaweek dalam edisi awal Maret ini. Keengganan Prabowo berbicara selama ini, mau tak mau telah menjadikan peristiwa kerusuhan Mei '98 hanya sebagai cerita tentang gagalnya upaya"kudeta militer" oleh Prabowo dan kawan-kawan (sikap diamnya memang bisa dimengerti, sebab ia toh merasa tak ada gunanya membela diri dalam situasi yang takkan menguntungkan dirinya. Beberapa saat sebelum pecahnya kerusuhan Mei, bersama sejumlah perwira muda Kopassus, ia dianggap bertanggungjawab terhadap penculikan dan penyiksaan sejumlah aktifis HAM). Dalam versi yang terlanjur berkembang, Prabowo dianggap sebagai orang yang menggerakkan sejumlah provokator untuk membakar emosi massa, serta dicurigai hendak mengambil alih kekuasaan dari tangan Habibie.
Versi yang diungkapkan Prabowo sungguh bertolak belakang. Ia mengungkap sejumlah fakta yang selama ini tidak diperoleh media massa mengenai cerita seputar kerusuhan Mei. Misalnya, ketika pembakaran dan penjarahan sudah mulai terjadi di Jakarta pada 13 Mei 1998, Prabowo yang ketika itu masih menjabat sebagai Pangkostrad mengaku telah menghubungi Panglima ABRI Wiranto untuk mendapatkan perintah agar bisa mengendalikan keadaan. Bahkan, ia mengusulkan agar pawai kemiliteran di Malang yang dihadiri Wiranto saat itu, dibatalkan saja. "Delapan kali saya menelepon kantornya, delapan kalipula saya mendapat jawaban, the show must go on, pertunjukkan harus dilanjutkan," ungkap Prabowo.
Cerita Prabowo selanjutnya berkisar tentang upaya "penyingkiran" dirinya secara sistematis oleh kubu Wiranto. Hal ini bermula dari keluarnya pernyataan pers dari markas angkatan bersenjata, setelah terjadinya kerusuhan, yang mendukung sikap organisasi massa NU -sebelumnya, NU menyatakan supaya Presiden Soeharto mundur dari jabatan. Membaca surat itu, Soeharto meminta Prabowo melacak dari mana asal surat yang tidak ditandatangani itu. Anehnya, tak ada satu pun perwira tinggi mengaku telah membuat surat itu. Meskipun menurut Prabowo, kopi faksimili surat itu diperolehnya dari kantor Kapuspen ABRI, Brigjen A. Wahab Mokodongan. Belakangan, setelah Soeharto mundur, keluarga Cendana menyalahkan Prabowo. Ia dianggap pengkhianat. Pasalnya, banyak laporan sampai ke telinga Soeharto yang mengatakan bahwa Prabowo dan Habibie, beberapa waktu sebelumnya, telah mengadakan pertemuan berkali-kali. Di samping laporan bahwa Prabowo melakukan pertemuan pada 14 Mei dengan Adnan Buyung Nasution dan sejumlah tokoh lain. Hal ini diartikan sebagai upaya terencana untuk menyingkirkan Soeharto. Dengan demikian, segala kesalahan pun ditumpahkan ke mukanya-termasuk pernyataan pers misterius itu.
Prabowo mengaku, ia memang sempat bertemu Habibie setelah terjadinya kerusuhan. Namun, menurutnya, konteks pertemuan itu bukanlah untuk merebut kekuasaan, melainkan "untuk membicarakan cara terbaik menenangkan kekerasan." Secara logis, Prabowo merasa tidak mempunyai motif apa pun untuk merebut kekuasaan. "Saya adalah bagian dari rezim Soeharto. Seandainya Soeharto bertahan tiga tahun lagi saja, saya sangat mungkin berpangkat jenderal berbintang empat. Mengapa saya harus menyulut kerusuhan?" tanyanya. Mengenai pertemuan dengan Adnan Buyung Nasutian dan kawan-kawan, baginya sama sekali tidak ada relevansinya dengan kudeta. Pertemuan itu sendiri, bukan ia yang menghendaki, tapi pihak Buyung. Sedangkan pertemuannya "secara baik-baik" dengan Habibie, membuktikan bahwa ia waktu itu tidak hendak "mengepung" dan mengambil-alih kekuasaan seperti yang dituduhkan Habibie padanya.
Dari ceritanya, tampak sekali bahwa Prabowo ingin menunjukkan diri sebagai korban yang terperangkap dalam situasi yang merugikan. Pertama, ketika kerusuhan terjadi, Wiranto tidak berada di ibukota. Dengan sendirinya, karena Prabowo dan Sjafrie Sjamsuddin (waktu itu Pangdam Jaya-red.) yang berada di Jakarta, merekalah yang dianggap paling bertanggungjawab atas keamanan. Kedua, meskipun sudah meminta mandat, Wiranto sebagai Panglima tidak berbuat apa-apa. Di sini terkesan pula, Prabowo ingin mengatakan bahwa seharusnya Wiranto yang bertanggungjawab. Memang, sejumlah pertanyaan muncul, mengapa Wiranto bersikeras membawa sejumlah perwira tinggi pada 14Mei 1998? Siapa yang bertanggungjawab atas pembuatan pernyataan pers militer tentang Soeharto? Lalu, mengapa Panglima TNI membiarkan mahasiswa terus berada di Gedung DPR/MPR sampai Soeharto jatuh?
Prabowo tak langsung menjawabnya. "Saya harus adil pada Wiranto. Ia memang menginginkan reformasi, namun ia juga punya ambisi-ambisi politik," ujarnya diplomatis. Prabowo diganti oleh Djohny Lumintang pada 22 Mei 1998, setelah Habibie naik takhta dan Wiranto, sebagai Menhankam/Pangab, berjanji untuk melindungi Soeharto dan keluarganya.
"Dosa-dosa" Prabowo semakin dilegitimasi dengan terbentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menginvestigasi terjadinya kerusuhan Mei 1998. Dalam laporannya, TPGF menyimpulkan, peristiwa penculikan para aktifis HAM berhubungan erat dengan kerusuhan Mei 1998. Hal yang menurut Prabowo lebih merupakan opini ketimbang fakta. Munir, Ketua Kontras pun mengakui ada perbedaan mendasar antara peristiwa penculikan aktifis dengan kerusuhan Mei. Katanya, peristiwa Mei merupakan gerakan dari elit untuk perubahan politik. Sementara perisitiwa penculikan, merupakan konspirasi untuk mempertahankan sistem yang ada.
Mengenai peristiwa penculikan aktifis, Prabowo sama sekali tidak menyangkalnya. Ia mengakuinya. Namun, menurutnya, apa yang dilakukannya itu tidak terlepas dari pengetahuan para atasan.
Apa yang dikemukakan oleh Prabowo, bagaimanapun telah memberi perspektif baru dalam melihat kembali tragedi berdarah Mei 1998. Soal apakah ceritanya benar atau tidak, sulit untuk ditentukan. Toh ia bukan orang suci. Wiranto dan Prabowo, masing-masing berbicara atas nama subyektifitas. Bisa jadi, malah kedua-duanya tidak benar.

Hadiah Nobel Perdamaian bagi Muhammad Yunus

Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini tidak dianugerahkan kepada calon-calon yang diperkirakan bakal menjadi pemenang, seperti mantan presiden Finlandia, Marthi Ahtisaari atau bintang musik pop Bono dan Bob Geldof, melainkan kepada pakar ekonomi Bengal, Muhammad Yunus. Mei lalu, Yunus sempat berkunjung ke Belanda untuk menerima sebuah hadiah lain, yaitu Four Freedoms Award, karena pandangan uniknya terhadap pengentasan kemiskinan.

Tuesday, August 29, 2006

LAPORAN PERKEMBANGAN LAPANGAN

Rekonstruksi Desa Jeumeurang – Kembang TanjungAkhir Februari 2006
Pendahuluan
Sebelum saya melaporkan perkembangan terakhir yang berkenaan dengan kondisi fisik pembangunan Rekonstruksi Desa Jeumeurang, Kec. Kembang Tanjung, Pidie, ada baiknya saya kemukakan beberapa pendapat pribadi yang saya rasa sangat penting untuk dimunculkan. Pertama, ketika kunjungan beberapa kali sebelum saya dimandatkan menjadi Bendahara Program Rekonstruksi Desa Jeumeurang yang berakhir pada sebuah rekomendasi lapangan mengenai diharuskannya mengganti Bendahara Keuangan terdahulu, mental saya secara psikologis sempat ‘jatuh’ melihat program yang besar dengan uang yang sangat besar juga tetapi lemah dalam pengelolaannya (begitu juga ketika saya telah menerima surat tugas dan menjalankannya).

Kedua, segala teori dan argumentasi yang sempat saya pikirkan di Jakarta mengenai ‘idealnya’ proses yang harus dijalankan, dalam kenyataannya dilapangan ternyata bisa berubah sampai 180o dikarenakan berbagai macam factor, baik dari dalam maupun dari luar. Ketiga, jalinan komunikasi dan koordinasi antar para pihak yang terkait dalam prinsip-prinsip yang tidak transparan dan berbeda visi satu sama lain. Dan yang keempat, fungsi dan wewenang Koordinator Program yang menurut saya sudah disorientasi sehingga membuat management dan akumulasi dari keseluruhan tugas dan tanggung jawabnya menjadi tidak terarah.

Pembacaan situasi lapangan dan pengerjaan teknis yang menjadi prioritas dan berkenaan dengan ‘kemauan’ awal dalam kesepakatan, dalam frame ideal, sebenarnya sudah bisa menggambarkan apa yang dimaksud dan apa yang akan dilakukan. Periode awal pengerjaan Proyek Rekonstruksi Desa Jeumeurang, dimana TdH-NL menyertakan tim konsultan sebagai pendamping, sebetulnya sudah mewakili dan sangat representative untuk SHMI, terutama yang berada dilapangan untuk menuntaskan pekerjaan dan menjawab tanggung jawab SHMI secara keseluruhan terhadap TdH-NL dalam Program tersebut.

Saya tidak akan bisa obyektif dalam membuat laporan ini, tapi paling tidak harapan dari saya ini bukan kemudian menjadi ‘pembelaan diri’, apa yang menjadi misi awal saya selama mengemban tugas sebagai Bendahara Program bisa saya pertanggungjawabkan. Begitu juga dengan frame yang lebih besar dari misi saya terhadap Program tersebut, bahwa nama baik SHMI dari pengalaman yang buruk dibulan-bulan awal Program, setidaknya bisa diperbaiki dan dipertanggungjawabkan dihadapan funding dan masyarakat korban tsunami.

Identifikasi Permasalahan
Pada awal saya menjalankan tugas sebagai Bendahara Program, Bulan Oktober 2005, tidak ada persoalan yang serius terjadi dilapangan. Karena pada waktu itu Program Rekonstruksi sudah memasuki Tahap II akhir penyelesaian. Yang artinya, saya datang dan menjalankan tugas secara spesifik hanya menyelesaikan pembayaran honor tukang tanpa ada hal-hal lain yang berkenaan dengan itu, seperti: melakukan pembelian dan pembayaran material maupun bertemu dengan supplier.

Pada bulan berikutnya, November 2005, ketika TdH-NL menyetujui request kebutuhan dana yang SHMI ajukan, proses yang baru saya temui dalam pengerjaan teknis Program terjadi. Saya melakukan pembelian dan pembayaran, juga bertemu dengan supplier seperti yang dimandatkan dalam surat tugas saya. Mekanisme pengerjaannya pada waktu itu, secara realistis, masih banyak terdapat kekurangan. Pertama, supplier yang saya temui untuk melakukan transaksi jual beli adalah ‘orang lama’ yang kemudian saya sebut sebagai kontak Soni dari awal dalam melakukan jual beli material. Kedua, secara administrative, saya mendesak kepada Soni untuk melakukan perjanjian jual beli diantara kedua belah pihak dan sebagai tuntutan dan keharusan yang nantinya akan menjadi pembuktian dalam audit, ini tidak dilakukan pada awal proses pengerjaan dan terjadi kelambatan pada tahap dimana saya ada dan akhirnya bisa dipenuhi. Dan ketiga, sebagai pertimbangan kenapa dua hal tersebut saya sebutkan adalah bagaimana kemudian ‘sisa uang’ dalam pembayaran bisa mudah dinegosiasikan antara kedua belah pihak dalam bukti pembelian.

Sampai pada proses tersebut, pembacaan saya mengenai kondisi dilapangan seutuhnya belum bisa dikatakan saya dapat menguasai. Karena saya ‘ditaruh’ sebagai orang dan pihak yang dianggap bisa menyelesaikan persoalan terdahulu, waktu yang relative singkat membuat saya harus terus mengikuti ritme dan pola pada tahapan konsep. Fokus pada pengelolaan keuangan Program TdH-NL sebagai pembuktian akurat yang dilaporkan kepada Bagian Keuangan di Jakarta tetap jadi prioritas saya.

Ada beberapa hal yang ingin saya kemukakan berkaitan dengan aktivitas di bulan November 2005, dimana pada awal pemesanan material, hitungan barang material sisa dilapangan ada dan menjadi milik SHMI yang tidak dilaporkan (nantinya persoalan ini akan saya kemukakan pada item rekomendasi menghadapi audit). Hitungan material sisa tersebut, yang menjadi tugas dan tanggung jawab Staff Teknis dan Staff Logistik, sebetulnya lemah dalam proses penghitungan dan pertanggungjawaban. Hitungan material dengan perkiraan kasar dan manual serta berlanjut kemudian pada mekanisme pembelian material baru, tidak sepenuhnya bisa dikatakan mewakili kebutuhan secara keseluruhan dari jumlah material (penjelasan berikutnya ada pada paragraph di Bulan Januari 2006).

Pada Bulan Desember 2005, diakhir bulan tersebut, saya dan Soni akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Karena pada saat-saat di bulan tersebut, kunjungan untuk kesekian kalinya dari tim Konsultan Keuangan yang dikirim TdH-NL kembali mengunjungi lapangan. Diskusi antara saya dan Konsultan Keuangan pada saat itu, tercetus beberapa rekomendasi yang keluar dan harus segera disikapi oleh tim SHMI dilapangan. Rekomendasi tersebut kemudian saya sampaikan kepada Soni untuk disikapi lebih lanjut. Rekomendasi tersebut antara lain, berkenaan dengan batas waktu yang tercantum di MoU antara TdH-NL dan SHMI, yang disebutkan disitu bahwa Program berakhir pada Bulan Desember 2005 beserta dengan RAB Baru yang dipakai dalam budget program, yang seterusnya harus secara tertulis disetujui oleh kedua belah pihak.

Otomatis, pada Bulan Januari 2006, konsentrasi untuk membuat laporan dan meminta persetujuan secara tertulis dari TdH-NL menjadi prioritas pekerjaan di Jakarta. Bagian pekerjaan tersebut menjadi tanggungjawab Soni kemudian untuk bisa merealisasikan bentuk surat persetujuan diantara kedua belah pihak. Namun, pekerjaan tersebut belum sepenuhnya selesai, e-mail dari ICCO mengenai rencana kedatangannya di Jeumeurang pada minggu kedua di Bulan Januari 2006 harus juga dijawab oleh SHMI.

Praktis, saya dan Soni akhirnya kembali kelapangan untuk menemui kedatangan tim ICCO ke Jeumeurang (laporan mengenai pertemuan tersebut sudah pernah saya sampaikan ke Bu Ade), walaupun beban laporan dan hal-hal yang bersifat administrative dari TdH-NL belum bisa terealisasi.

Datang dilapangan bukan berarti seluruh persoalan di bulan sebelumnya sudah teratasi. Selain untuk menemui kunjungan ICCO dilapangan, kendala-kendala kemudian bermunculan. Kendala paling pelik selama kurang lebih dua minggu lapangan ditinggal, material seperti batu bata menjadi persoalan utama. Sampai pada satu bulan tepatnya pembelian material, kurang dari sepertiga dari jumlah keselurahan batu bata yang dipesan (jumlah keseluruhan yang dipesan kurang lebih berjumlah 180.000 biji). Disinilah masalah kemudian timbul.

Fungsi Koordinator yang kurang pro aktif dalam menyelesaikan persoalan tersebut, membuat proses teknis pengerjaan menjadi lambat. Usaha untuk menemui dan mempertanyakan kelambatan material hanya tergantung telp dan sms. Usaha itupun mengalami kebuntuan, selain telepon seluler supplier tersebut dimatikan, ketika sms masukpun hanya dijanjikan bahkan sampai tidak dijawab.

Usaha terakhir yang dilakukan adalah mendatangi rumah supplier (dengan catatan, tetap pada kurang pro aktifnya Koordinator). Setelah itu, diadakan pertemuan di depan Alun-alun Kota Sigli, dimana supplier tersebut mengakui bahwa uang pembelian material batu bata dipakai dan diputar untuk proyek yang sedang dia jalani dan mengalami kebuntuan. Jalan terakhir, akhirnya material tersebut kembali diambil alih oleh SHMI dalam pembeliannya dan diadakan perjanjian ulang (ada surat perjanjian dan jaminan/borg dari supplier).

Kenapa akhirnya kita yang membeli dan dari mana uangnya? Saya yang merekomendasikan kepada Soni untuk mengambil kebijakan tersebut. Dengan alasan, proses fisik tidak boleh dibiarkan berlarut-larut menunggu ketidakpastian dan jalan tersebut adalah pilihan yang terbaik dari yang terburuk, itu yang ada dipikiran saya waktu itu beserta alasan tukang yang tidak bisa kerja dan honor staff yang tertunda akibat hal tersebut. Uang yang dipakai untuk membeli batu bata tersebut adalah uang pengembalian hutang Soni ke SHMI (termin kedua) sebesar Rp. 40.000.000,-. Dari jumlah keseluruhan batu bata yang akhirnya menjadi tanggungan SHMI mengalami kenaikan sebesar kurang lebih 25% dari harga pembelian ke supplier pertama kali. Uang senilai Rp. 40.000.000,- tersebut adalah harga asli dari seluruh batu bata yang dipesan pertama kali dengan jumlah kurang lebih 180.000 biji. Karena kebutuhan batu bata sedang dibutuhkan, pabrik batu bata kemudian menaikkan harganya menjadi Rp. 500,-/biji. Sehingga total keseluruhan uang yang harus SHMI keluarkan berjumlah kurang lebih Rp. 53.000.000,-. (dijelaskan pada paragraph yang mempertanyakan darimana sisa uangnya?)

Kendala batu bata bisa diatasi, namun masalah baru muncul. Dalam pembangunan fisik perumahan, satu material akan berkait dengan material yang lain. Batu bata sudah berada dilapangan dan semen dibutuhkan. Namun kenyataannya, semen menjadi masalah yang tidak kalah seriusnya dari persoalan batu bata. Pola Soni yang membelikan dan membelanjakan material secara keseluruhan (tidak pertahap) dari awal pembangunan, menyebabkan kerumitan dalam prosesnya kemudian dan ditambah dengan tidak adanya ikatan atau perjanjian jual beli.

Kebutuhan semen memang telah dipesan jauh sebelum saya berada dilapangan. Yang saya tahu, pada tahap akhir ini, jumlah semen sebanyak 750 sak tidak jelas keberadaannya. Dikarenakan, mekanisme pembelian pada saat itu melalui calo. Sehingga, sampai saat ini, proses pemasukkan semen kedalam gudang dan lapangan (dengan jumlah tersebut dan yang berasal dari calo) tidak teratasi – penglihatan saya ketika berada dilapangan pada tanggal 27 Februari – 2 Maret 2006 ketika menghadiri pertemuan dengan tim audit TdH-NL.

Resolusi Identifikasi Persoalan
Sebetulnya, kendala-kendala tersebut bisa diatasi oleh lapangan. Tanpa harus meminjam kembali uang yang telah ada di kas SHMI Jakarta dan tanpa harus terlalu berlarut-larut dalam segi waktu persoalannya.

Soal Batu Bata, uang pinjaman dari SHMI berjumlah Rp. 40.000.000,-, sedangkan pembayaran batu bata berjumlah Rp. 53.000.000,-, darimana sisa uangnya?
Seperti saya jelaskan dipembuka, bahwa kondisi lapangan berbeda jauh dengan kondisi ideal di Jakarta. “Uang Saving” bukan hanya ada di Jakarta, tetapi juga ada dilapangan. Secara spesifik saya jelaskan bahwa dalam setiap kali pembelian dan pembayaran (dengan pertimbangan negosiasi penjual dan pembeli terhadap pembuktian yang saya jelaskan diatas), terdapat “Uang Sisa” sebanyak kurang lebih Rp. 60.000.000,- dalam setiap kali transaksi. Selama dua kali request, setidaknya ada 2 kali pembelian dan pembayaran serta “Uang Sisa”.

Dari “Uang Sisa” tersebut, sebanyak Rp. 40.000.000,- diserahkan ke SHMI sebagai bentuk pengembalian hutang Soni dan sudah dilakukan juga sebanyak 2 termin. Sisa dari uang tersebut, ada ditangan Soni dengan dimasukkan kedalam rekening tabungan BRI cabang Sigli atas nama M. Soni Qodri.

Selengkapnya, sebagai bagian dari rasa tanggungjawab lapangan dalam menyelesaikan dan menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan, “Uang Sisa” tersebut pada awalnya menjadi kesepakatan bersama untuk dipergunakan menutupi kekurangan-kekurangan tersebut. Dalam artian, pengkondisian hal tersebut telah disepakati diawal. Dengan asumsi, lapangan bisa menjawab kendala-kendala yang terjadi. Namun sayangnya, identifikasi, kesepakatan, proses dan pencapaiannya tidak seideal gambaran semula. Persoalan yang kemudian terjadi lebih dikarenakan pada persoalan pribadi yang menyebabkan seluruh rencana berantakan dalam segi teknis.

Peran Bendahara Program
Dalam hal tersebut, saya sebagai Bendahara Program hanya terbatas dan terorientasi pada persoalan laporan keuangan yang jelas sesuai budget, rapi dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan “Uang Sisa”, saya hanya bisa mengusahakan dari setiap “Uang Sisa” yang didapat pada setiap termin untuk pengembalian hutang (pemenuhan tanggungjawab Soni terhadap hutang-hutangnya yang harus dia penuhi ke SHMI). Selebihnya, dengan berbagai macam pertimbangan, “Uang Sisa” setelah pembayaran pencicilan hutang diambil alih Soni dan memang tidak ada niat dari saya untuk memegangnya.

Menghadapi Audit
Satu persoalan yang sebetulnya juga harus dipikirkan ekstra oleh pihak-pihak yang terkait. Ini berhubungan dengan data-data secara administrative dalam program ini.

Yang paling penting untuk diantisipasi dalam menghadapi audit pada minggu ke III Maret 2006 nanti adalah, bagaimana kelengkapan data-data administrative sejak awal bisa cocok antara jumlah pembelian material yang sudah dibeli, kebutuhan awal sampai laporan pertanggungjawaban dari segi logistik (pemakaian, pengeluaran dan barang-barang material sisa). Kalaupun ada barang-barang material sisa atau perlu tambahan karena jumlahnya kurang atau meleset dari perhitungan, harus disertai pembuktian melalui mekanisme berita acara dengan lampiran-lampiran pendukungnya.

Begitupun dari sisi keuangan, mulai dari awal pengerjaan program, beberapa hal-hal yang bersifat administrative sangat diperlukan. Penglihatan saya selama ini, harapan untuk bisa menjawab audit nanti jauh dari ideal. Terlebih dengan proses atau pola yang telah dilakukan sebelum saya mengemban amanat Bendahara Program.

Rekomendasi
Dari paparan saya, ada beberapa hal yang sebetulnya menjadi sangat perlu untuk disikapi dan ditindak lanjuti. Pertama, mengembalikan orientasi Koordinator Program pada program yang tengah menjadi tanggungjawabnya. Paling tidak, untuk bersikap tegas dan focus pada apa yang akan dia hadapi dan SHMI tentunya. Kedua, Surat Perpanjangan Kontrak Kerja untuk semua pihak-pihak yang terkait dalam menjawab tantangan dan permasalahan kedepan yang berkaitan dengan program ini. Dan yang ketiga, supervisi serta time frame dalam menghadapi sisa waktu yang TdH-NL berikan dalam menyelesaikan program Rekonstruksi paling lambat akhir Maret 2006 ini.

Penutup
Demikian laporan perkembangan lapangan yang saya buat. Jika terdapat hal-hal yang kemudian menimbulkan tanda tanya, jalan diskusi akan menjadi sangat efektif. Sebagai bagian dari rasa penuh tanggungjawab dan sebagai komitmen saya terhadap nama baik SHMI.


Jakarta, 4 Maret 2006
Yang Membuat Laporan,



Tomix Pribadi
Bendahara Lapangan

Saturday, August 12, 2006

Yang Marah Di Aceh

MASJID adalah nama sebuah kampung di Aceh terletak di pinggir pantai. Wartawan The New York Times Jane Perlez mengunjungi desa itu, lalu melaporkan dalam korannya keadaan Masjid sesudah 19 bulan terjadinya tsunami. Rumah-rumah yang dibangun di sana oleh badan bantuan Save the Children (Selamatkan Kanak-kanak) terbukti tidak bisa di diami. Beberapa rumah di bangun dalam waktu tiga hari, kata penduduk. Pondasi gedung sekolah tetap tersia-siakan, ditanami oleh rerumputan.
"Penduduk marah. Para pekerja pemberi bantuan mengumber janji-janji, tetapi tidak berwujud kenyataan" ujar Innu Barkar, kepala desa sembari berjalan seputar rumah-rumah kosong tidak terhuni. Kehidupan di Aceh pasca tsunami bulan Desember 2004 telah jadi agak normal. Sebagian besar kanak-kanak bersekolah lagi. Jalanan dibangun lagi. Pasar-pasar terbuka penuh dengan produk hasil lokal. Pekerjaan tidak terlalu sulit mencarinya. Dan bahkan persetujuan damai antara pemerintah pusat dengan GAM tetap bertahan utuh.
Hampir tiap orang telah dipindahkan dari tenda-tenda berlumpur, kendati banyak keluarga masih mendiami bedeng-bedeng yang bobrok. Tetapi di bawah permukaan aktivitas terdapat suatu selubung ketidakpuasan terhadap badan-badan bantuan internasional. Suatu perasaan bahwa janji-janji muluk yang didukung oleh sumbangan-sumbangan yang tiada taranya, baik besar maupun kecil dari seputar dunia masih akan harus dipenuhi.
Bagi banyak orang jumlah 8,5 miliar dolar AS yang dikatakan oleh badan-badan kemanusiaan, pemerintah-pemerintah asing dan Indonesia akan dibelanjakan bagi pembangunan kembali Aceh tampaknya bagaikan suatu khayalan belaka. Dalam beberapa hal mereka benar. Sampai sekarang, Bank Dunia mengatakan hanya 1,5 miliar dolar AS dari 8,5 miliar dolar yang disumbangkan kepada malapetaka telah dikeluarkan.
Lebih daripada itu, banyak dari jumlah yang telah dikeluarkan tidaklah dibelanjakan dengan baik. Sebuah kritik pedas diterbitkan tanggal 14 Juli oleh Koalisi Evaluasi Tsunami, termasuk para ahli dari pemerintah-pemerintah Barat, PBB dan badan-badan bantuan internasional, dan didukung oleh mantan Presiden Bill Clinton telah membuat jelas bahwa penduduk desa-desa Aceh tidak hanya menggerutu. Banyak dari ratusan badan bantuan yang mengalir ke Aceh pasca tsunami telah memperlihatkan "kesombongan dan ketidaktahuan" dan seringkali punya staf-staf terdiri dari "pekerja-pekerja tidak becus (inkompeten)" yang datang dan pergi dengan cepat, kata laporan tersebut.
Meskipun bermilyar-milyar dolar berupa sumbangan (donations) yang berarti jumlah rekor 7100 dolar AS untuk setiap orang yang terkena (tsunami), berbanding dengan 3 dolar bagi setiap orang yang selamat dari banjir di Bangladesh tahun 2004, penduduk Aceh tidaklah melihat buah hasil kedermawanan itu, kata laporan tadi.
Penilaian yang dicatat oleh Bill Clinton dalam kata pengantar laporan mengandung "bacaan yang tidak enak", mengecam badan-badan bantuan karena memberikan lebih banyak perhatian kepada mengiklankan "brands" atau merek-merek mereka dan menerbitkan laporan-laporan yang memuji-muji diri sendiri ketimbang memberikan pertanggunganjawab atas pengeluaran-pengeluaran mereka.
Badan-badan bantuan internasional telah bertindak relatif bagus selama tiga bulan pertama sesudah tsunami, tatkala mereka menyerahkan bahan makanan dan air, dan menjauhkan penyakit-penyakit. Akan tetapi banyak dari sukses itu untuk sebagian besar adalah berkat organisasi-organisasi lokal, kata laporan. Bagi rekonstruksi jangka panjang, laporan mengatakan bahwa kekurangan keahlian (expertise) oleh badan-badan bantuan telah mengakibatkan "hasil-hasil brengsek".
Pembangunan rumah sesungguhnya adalah sumber utama keluh-kesah atau komplain. Di beberapa daerah kumpulan-kumpulan perumahan baru, dengan atap sengnya berkilauan di matahari tropis, telah bertumbuh subur di lanskap yang gersang. Di daerah-daerah lain, baris demi baris bedeng-bedeng bobrok yang membengkak dengan keluarga-keluarga bertumpukan dalam ruangan-ruangan kecil merupakan saksi dari lambannya pembangunan rumah baru keluarga. Secara keseluruhan kira-kira 25.000 rumah baru yang dibangun oleh jenis luas badan-badan bantuan telah diselesaikan dari jumlah 120.000 rumah yang diproyeksikan diperlukan adanya, demikian menurut badan PBB Habitat.
Banyak alasan mengapa harapan-harapan tidak terpenuhi, ujar Kuntoro Mangkusubroto, ketua badan rehabilitasi dan rekonstruksi Indonesia. Punya banyak uang dari sumbangan publik sebagaimana belum pernah dialami sebelumnya, badan-badan bantuan merasa dipaksa maju terus membangun rumah-rumah, sekalipun mereka kekurangan pengalaman. "Mereka bilang, Mari kita bangun". Mereka tidak bicara mengenai kontrak-kontrak, tidak ada perjanjian-perjanjian dengan para kontraktor. "Soalnya ialah bangun rumah, boom, boom, boom" ujar Kuntoro. Dia telah memberi peringatan kepada badan-badan bantuan. "Saya terus bilang kepada mereka bahwa jenis orang-orang yang mereka punya, cara mereka mengelola, harus berubah. Diperlukan waktu hingga akhir Desember yang lalu meyakinkan mereka untuk berubah" kata Kuntoro.
Kolom Rosihan Anwar
WASPADA online
07 Aug 06 16:25 WIB

Wednesday, July 19, 2006

DOA YANG MENGANCAM

“Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir kali pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu.”

Itulah doa terakhir Monsera, seorang penduduk miskin yang tinggal di pingiran Kota Ampari, ibu kota negeri Kalyana. Setelah itu ia menutup pintu rumah tempat tinggalnya, menguncinya dan menyerahkah kunci pada si empunya rumah yang telah berbulan-bulan menagih tunggakan uang sewa padanya.

“Suatu saat saya akan kembali untuk membayar utangku,”

Si empunya rumah cuma tersenyum sinis dan membiarkan Monsera pergi.

Monsera lalu berpamitan pada para tetangga, pemilik warung makan, pemilik toko kelontong, penjual minyak tanah, ialah semua yang berpiutang padanya dengan ucapan sama. “Suatu saat saya akan kembali untuk membayar utangku.” Dan semua juga membiarkannya pergi tanpa berharap Monsera akan menepati janjinya.

Lelaki berbadan kurus itu lalu meninggalkan ibu kota, berjalan kaki memasuki wilayah berhutan, mencari kelinci, umbi-umbian, dan buah-buahan, untuk bersantap malam, lalu tidur di dahan sebuah pohon besar; menanti datangnya pagi.

Monsera terbangun oleh tetesan embun yang membasahi mukanya, dan setelah itu tak bisa tidur lagi sampai ufuk timur memerah. Ia berdebar-debar menunggu terbitnya Matahari, berharap-harap cemas membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

“Apakah Tuhan mendengar doaku? Apakah Tuhan terusik oleh ancamanku?”

Sampai Matahari terbit dan Monsera meneruskan perjalanannya yang tanpa tujuan ini, tak ada kejadian istimewa terjadi. Monsera mulai kesal dan putus asa, tapi terus berjalan meninggalkan hutan dan memasuki padang rumput savana.

Seperti ingin bunuh diri, Monsera menantang teriknya Matahari tanpa berbekal setetes pun air dan menantang dinginnya malam tanpa berbekal selembar pun selimut. Pada hari ketujuh, Monsera tergeletak tanpa daya di atas permukaan rumput. Saat itu hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, seorang saudagar kuda bernama Sinaro menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mengiranya sudah jadi mayat. Sinaro menggali liang kubur, mendoakan Monsera dan menguburnya. Tapi begitu gumpalan tanah mengenai muka Monsera, mulutnya sedikit bergerak. Ternyata Monsera cuma mati suri. Sinaro kaget sekali dan membawa Monsera pulang ke rumahnya di negeri Salaban.


* * *
Setelah sebulan lebih dirawat keluarga Sinaro, luka bakar yang diderita Monsera berangsur sembuh. Kesadarannya berangsur pulih. Monsera mulai bisa bicara sepatah dua patah kata, tapi masih menderita amnesia. Masuk bulan ketiga barulah ingatannya kembali normal, dan bisa berbincang secara wajar dengan orang-orang disekitarnya.

Suatu hari Monsera tertarik pada foto lama keluarga ayah Sinaro yang ditaruh di atas almari pakaian. Lama Monsera mengamati foto itu, lalu menunjuk seorang bocah yang ada di situ dan menanyakannya pada Sinaro. “Ini saudaramu?”

Sinaro agak kaget, lalu bercerita dengan perasaan sedih. “Ya, namanya Sridar. Ia hilang waktu ikut perang saudara sepuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang tak pernah ada kepastian dia masih hidup atau sudah meninggal.”

“Dia masih hidup,” kata Monsera penuh kepastian. “Belum lama saya bertemu dia di Rodamar.”

Sinaro terperanjat. “Kamu yakin?”

“Saya yakin.”

“Tapi itu foto dua puluh lima tahun yang lalu, Monsera. Bagaimana kamu yakin yang kamu temui di Rodamar itu adalah Sridar adikku?”

“Sebaiknya kita sama-sama ke Rodamar. Sridar tinggal di salah-satu perumahan rakyat di pinggiran kota.”

Antara percaya dan tidak, Sinaro berangkat ke Rodamar bersama sanak saudara yang lain, mengikuti petunjuk Monsera. Tiga hari dua malam mereka berkuda menyeberangi padang pasir dan berhasil mencapai Rodamar dengan selamat. Dengan mudah Monsera menunjukkan jalan-jalan dalam kota yang harus dilalui, sampai akhirnya menemukan perumahan rakyat yang dimaksud. Dan berhasil menemukan Sridar!

Tak terkira betapa gembira Sinaro dan sanak-saudara lainnya, bisa berjumpa lagi dengan Sridar yang sudah sepuluh tahun mereka anggap hilang ini. Dan tak terkira pula rasa terima kasih mereka pada Monsera yang telah membantu menemukan Sridar.

Belakangan Monsera merasa takut dan heran pada dirinya sendiri, setelah sadar bahwa sebelum ini ia sama sekali belum pernah pergi ke Rodamar. Jadi bagaimana ia bisa tahu seorang bernama Sridar yang belum pernah dikenalnya tinggal di sebuah kota yang belum pernah didatanginya pula?

Sekembali ke rumah Sinaro, Monsera meminjam foto-foto yang lain, mengamati wajah-wajah dalam foto itu. Dalam waktu singkat ia ternyata bisa melihat perjalanan kehidupan orang yang diamatinya bagaikan sebuah film panjang. Melihat Sinaro waktu masih berpacaran. Melihat Sinaro melamar calon istrinya. Melihat istrinya melahirkan anak pertama. Dan melihat saat ini istrinya sedang berbelanja di pasar.

Tak ayal, kemampuan lebih yang dimiliki Monsera cepat diketahui orang-orang. Mereka berbondong-bondong mendatangi Monsera, menanyakan anak atau ayah atau suami atau sanak saudara mereka yang hilang pada waktu perang saudara. Banyak yang sedih setelah Monsera mengatakan yang mereka cari sudah meninggal. Namun banyak pula yang bergembira seperti Sinaro, berhasil bertemu kembali dengan yang selama ini menghilang entah ke mana. Hadiah berupa uang, emas, maupun barang-barang berharga lainnya, sebagai tanda terima kasih, mengalir deras ke pundi-pundi Monsera. Sampai akhirnya pemerintah negeri Salaban mendengar pula kehebatan Monsera, lalu mengangkat Monsera sebagai pejabat khusus di kepolisian dengan gaji yang sangat tinggi, dan memberinya tugas melacak para penjahat yang melarikan diri.

Monsera pun menjadi orang yang kaya raya. Dan ditengah-tengah kekayaannya yang melimpah itu, ia merasa dirinya telah berhasil mengancam Tuhan lewat doanya.


* * *
Setelah cukup lama berbakti bagi rakyat dan pemerintahan Salaban, Monsera pulang ke negerinya. Yang pertama dilakukannya ialah menemui para mantan tetangga, dan membayar semua piutang mereka. Setelah itu Monsera meninggalkan Kota Ampari, pergi ke sebuah dusun termiskin di negeri Kalyana, menemui ibunya yang selama ini ditinggalkannya begitu saja.

Si ibu yang tua dan renta nyaris tak mengenali Monsera yang gemuk dan bersih.

“Tuhan akhirnya mengabulkan doa saya, Ibu! Bahkan lebih dari sekedar terbebas dari kemiskinan, saya sekarang jadi kaya raya!”

Monsera lalu membawa ibunya pindah ke kota untuk tinggal bersamanya di sebuah kastil termegah dan termahal di Ampari yang sudah dibelinya. Kekayaan ibunya yang dibawa dari dusun cuma sebuah tas kecil berisi selembar kain dan foto-foto lama. Monsera membakar kain tua itu dan meminta para pembantunya membelikan lusinan kain sutera sebagai pengganti. Monsera membeli pula bingkai-bingkai emas untuk memasang foto-foto keluarga yang dibawa ibunya.

Monsera tersenyum sendiri melihat sebuah foto ibunya waktu masih muda.

“Cantik sekali,” gumam Monsera. Lalu, diluar kehendaknya, kilasan-kilasan gambaran masa lalu mulai berkelebat secara bening dan meyakinkan.

Seorang wanita bernama Lastina berdandan di muka cermin… Malam hari dia berjalan di kaki lima mengenakan pakaian seronok, melambai-lambaikan tangan pada setiap kereta kuda yang lewat, sampai salah satu berhenti dan membawanya pergi… Sekilas nampak Lastina digauli seorang pria… Lalu digauli pria lain di tempat lain pula… Lastina hamil, gagal menggugurkan kandungan, merayu seorang preman jalanan untuk minta dinikahi… Lastina menikah dengan preman itu… Si preman kaget setelah tahu Lastina sudah hamil… Si preman meninggalkan Lastina begitu saja… Lastina melahirkan anaknya… Dan diberi nama Monsera.


* * *
“Ini pasti salah! Tak mungkin ibuku seorang pelacur!” Monsera berteriak dalam hati sambil membuang foto-foto ditangannya. Perasaannya terguncang hebat, merasa begitu takut kalau pandangannya benar belaka. “Katakanlah padaku, ya, Tuhan, bahwa pandanganku kali ini keliru.”

Namun jawaban dari Tuhan dalam bentuk apa pun ta pernah diterimanya. Dan tetap saja setiap ia melihat foto ibunya, gambaran masa lalu yang kelam itu kembali berkerjap-kerjap. Bahkan kian lama kian benderang sekaligus menjijikkan.

Sampai akhirnya Monsera tak kuat bertahan dan memohon lagi kepada Tuhan. “Aku sungguh bersyukur Engkau telah memberiku rezeki yang berlimpah, ya, Tuhan, tapi sekarang tolong bebaskan aku dari keahlianku melihat masa lalu, dan kembalikan aku sebagai manusia biasa.”

Setelah sehari, dua hari, seminggu, sebulan Monsera terus berdoa dan berdoa, kemampuan supranaturalnya tak kunjung menghilang. Ia mulai tak sabar dan terucaplah ancaman seperti yang dulu pernah dilakukannya. “Kalau Kau tak juga mengabulkan doaku, ya, Tuhan, aku akan segera meninggalkan-Mu.”

Kali ini ia merasa ancamannya pada Tuhan sama sekali tak mempan. Sedikitpun tidak ada perubahan terjadi dalam dirinya. Lama-lama Monsera berpikir, jangan-jangan dengan ancamannya yang pertama dulu Tuhan marah dan lebih dulu meninggalkannya. Kalau memang begitu, segala mukjizat yang diterimanya selama ini bisa jadi bukan anugerah dari Tuhan, melainkan pemberian dari setan.

Maka Monsera pun berkata, “Hai, setan! Jangan kau siksa aku dengan pemberianmu yang justru membuatku menderita. Kembalikan aku seperti manusia biasa! Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan kembali mengabdi pada Tuhan!”

Seketika hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, orang-orang menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mati suri. Mereka berebut membawa Monsera ke rumah sakit terbaik. Pemerintah pusat menginstruksikan Departemen Kesehatan agar mengerahkan semua dokter ahli di seluruh negeri untuk menyelamatkan aset negara berupa manusia bernama Monsera ini.

Tak lebih dari sebulan Monsera tersadar dari mati surinya. Yang pertama dia lihat adalah seorang perawat jaga bernama Datim yang berwajah sedih. Monsera mengajaknya berkenalan dan bertanya kenapa Datim nampak sangat bersedih.

“Suami saya memohon izin pada saya untuk menikah lagi karena setelah delapan tahun menikah saya tak bisa memberinya anak,” jawab Datim.

Monsera terdiam menatap Datim. Tiba-tiba di luar kehendaknya, kilasan-kilasan adegan berkelebatan seperti biasa dia alami. Kali ini ia meihat Datim muntah-muntah di kamar mandi, lalu bicara dengan dokter yang mengucap selamat atas kehamilannya.

“Kenapa Tuan Monsera menatap saya seperti itu?”

“Aku lihat engkau hamil, Datim.”

“Ah. Tuan pandai menyenang-nyenangkan perasaan wanita. Kalau dalam benak Tuan terbayang di masa lalu saya hamil, tentulah saya sudah melahirkan atau malah anak saya sudah besar.”

Sekonyong-konyong Monsera menjadi cemas. “Jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa, Tuang Monsera?”

“Jangan-jangan aku melihat sesuatu yang belum terjadi.”

Ternyata benar! Seminggu setelah itu Datim muntah-muntah, pergi ke dokter dan dinyatakan hamil. Datim sangat gembira dan menceritakannya pada semua orang. Dalam tempo singkat seluruh warga negeri Kalyana tahu, bahwa sekarang Monsera bukan cuma bisa melihat kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga kejadian yang belum terjadi di masa yang akan datang, hanya dengan menatap wajah orang yang akan mengalaminya. Maka berbondong-bondonglah orang mendatangi Monsera, menanyakan masa-depan pekerjaan mereka, jabatan, jodoh, vonis hakim, nomor undian, dan segala sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan oleh yang bersangkutan. Dan belakangan terbukti, bahwa yang dilihat secara maya oleh Monsera semuanya benar-benar terjadi!

Monsera kewalahan menampung imbalan berupa uang berjuta-juta, emas berkilo-kilo maupun berlian berkarat-karat, sampai ia sendiri tak sempat menghitung, apalagi menikmatinya. Sampai suatu saat ia merasa sangat lelah dan menyempatkan diri beristirahat sesaat, membasuh muka di wastafel, dan menatap wajahnya di cermin. Monsera pun tertegun. Tak lama kemudian muncul kilasan-kilasan kejadian sebagaimana selalu terjadi setiap ia menatap wajah seseorang…

Kali ini yang nampak ialah seorang lelaki kaya raya berwajah letih yang merasa bosan dengan kekayaannya, menyamar sebagai rakyat bersahaja dan lari dari rumahnya sendiri di tengah malam sunyi. Sekelompok penjahat mencegatnya, menodongkan senjata mereka ke tubuh laki-laki ini dan menghardiknya keras.

“Serahkan semua uangmu!”

“Saya tidak bawa uang sesen pun. Semua saya tinggal di rumah. Ambillah sesuka kalian kalau kalian mau.”

“Jangan main-main! Serahkan uangmu sekarang juga!”

Laki-laki ini mengulangi jawaban yang sama, hingga para penodongnya marah dan menghujamkan senjata mereka berkali-kali ke tubuhnya.

“Tidaaaak!” Monsera berteriak. “Aku tidak mau mati dengan cara begituuu!!!”

Tapi kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa.


Jakarta, 29 Maret 2001



Cerpen Karya Jujur Prananto
Dari Cerpen Pilihan KOMPAS 2002