Monday, November 20, 2006

Tentang Louis Althusser: Catatan Awal Investigasi


Oleh Utche P. Felagonna
Pendahuluan
Selain Nietzsche, tidak ada orang "gila" lain yang memberikan kontribusi penting bagi kebijakan manusia selain Louis Althusser. Dia disebut dua kali dalam Encyclopaedia Britannica sebagai guru seseorang tokoh. Pada tahun 1960-an dan 70-an, masa-masa yang penting bagi perkembangan filsafat di Perancis, dan kebangkitan studi tentang kebudayaan, Louis Althusser telah memberikan kontribusi penting. Tetapi, tidak banyak orang yang mengenal Louis Althusser setelah ketragisan hidup dan kampanye ad hominem terhadap karya dan dirinya yang kemudian mempengaruhi perkembangan pemikiran para pengikutnya. Banyak orang lebih mengenalnya sebagai seseorang yang mencoba memformulasikan Marxisme dengan metode yang dipakai oleh aliran strukturalisme. Sekalipun ia tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang strukturalis sehingga John Lechte menganggapnya seseorang Marxis dengan kecenderungan strukturalis.
Louis Althusser lahir di Aljazair 19 Oktober 1918 dan meninggal di utara Paris pada 23 Oktober 1990. Studi filsafat diperolehnya di École Normale Supérieure di Paris, dimana ia kemudian menjadi profesor filsafat. Ia juga merupakan intelektual yang bergabung dengan Partai Komunis Perancis. Argumen-argumennya kebanyakan adalah tanggapan terhadap serangan-serangan yang ditujukan pada dasar-dasar ideologi partai itu. Termasuk diantaranya empirisisme yang mempengaruhi tradisi sosiologi dan ekonomi Marxis, serta ancaman dari orientasi humanitik dan sosial demokrat yang dipandangnya sebagai sebuah ancaman yang mulai mereduksi kemurnian orientasi partai-partai komunis Eropa. Jadi, Louis Althusser dalam hal itu dapat dikategorikan sebagai seorang filsuf Marxis yang lebih ortodoks, karena mencoba mempertahankan dasar-dasar pemikiran Marx dan melihatnya sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentang masyarakat yang harus mengikuti dasar-dasar ilmiah.
Althusser berada dalam ruang anti humanis (tepatnya humanis teoritis), karena ia menentang pandangan bahwa individu ada sebelum kondisi-kondisi sosial muncul. Individu adalah bentukan dari desakan-desakan kondisi struktur yang ada. Struktur di sini bukan hanya dalam arti tingkatan atau strukturasi, tetapi menunjuk pada kompleksitas bagunan-bangunan (deferensial maupun strukturasi) segala sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan dan keberlangsungan sistem kehidupan. Struktur secara luas menyangkut dunia ide, materi, baik yang tercandra dalam bentuk organisasi atau bahkan pandangan-pandangan hidup, pun ideologi. Individu dengan sendirinya adalah makhluk terberi, bahkan terhadap kesadarannya sendiri merupakan suatu reflektif dari kondidsi objektif struktur yang mengerangkainya.
Masyarakat dalam pendekatan Althusser adalah kesatuan struktural yang tersusun dari tingkatan-tingkatan otonom. Tingkatan-tingkatan tersebut memiliki karakter yang berbeda sebagai sebuah kesatuan dalam struktur, karena setiap unsur dari tingkatan otonom tadi secara jatidiri mencerminkan sebagai ciri keseluruhan. Althusser menolak masyarakat sebagai totalitas sosial yang menampilkan langsung hubungan-hubungan ekonomi. Kecerdasan Althusser terbukti saat ia berusaha menjelaskan bahwa dugaan para intelektual Marxis yang menganggap Marx sangat deterministik ekonomi berarti secara mentah hanya melihat masyarakat sebagai sebuah totalitas sosial yang menampilkan relasi ekonomi. Hasil pandangan seperti ini hanya terjadi jika melihat Marx dalam konteks pengertian ekonomi klasik—yang kerap disandarkan dalam pemahaman atas Hegel.
Diskursus yang dicapai Marx adalah diskursus yang berada diluar kolam cakrawala pemikiran Hegel, meski keduanya terjun dalam term ekonomi. Diskursus Marx memiliki cakrawala kompleksitas dalam dirinya sendiri sehingga jika serta merta ditempelkan dalam cakrawala kompleksitas Hegel sifatnya akan meredup—tidak terungkap seperti yang sesungguhnya—karena harus menggunakan struktur pengetahuan yang berbasis Hegel, menggunakan struktur teoritisi tertentu, epistemologi, metode yang bertolak dari pijakan konsep dan bahasa dalam Hegel. Dengan begitu Marx akan kehilangan originitalitas pemikiran dan keradikalannya. Dengan kalimat lain, melekatkan suatu diskursus pemikiran seseorang dalam kawasan cakrawala pemikiran seseorang yang lain akan terjebak pada konteks keilmuan dan kepentingan epistemologi seseorang yang lain tersebut.
Pembacaan ala Althusser ini merupakan suatu revolusi teoritis dengan melihat apa sebenarnya pusat studi teori-teori Marx itu, dan rupanya ia menemukannya dalam cara produksi. (meski memiliki hasil analisis yang sama seperti melihat Marx sebagai negasi (struktur teoritis) dalam konteks ekonomi klasik Hegel, cara produksi yang ditemukan Althusser menjadi sebuah bagian tingkatan otonom yang menentukan efektifitas kerja bagian-bagian diferendsial lainnya, pembacaan dengan melihat tingkatan-tingkatan otonom lain secara lebih arif ini memberi point lebih terhadap pembacaan Althusser.) Althusser membaca Marx dengan meletakkan Marx sebagai sebuah diskursus yang berada dalam kolam cakarawala pengetahuan dirinya (pikiran-pikiran Marx ) sendiri. Ini menjelaskan mengapa Althusser melakukan upaya pembacaan yang ahistoris, ia memandang ilmu sebagi ilmu bukan sekadar turunan dari kolam diskursus tertentu, dengan kata lain mungkin Althusser ingin menunjukkan bahwa tidak selalu jiwa bertolakan dengan materi, karena mungkin diskursus materi sendiri bukanlah sesuatu yang final, demgan begitu Althusser melihat tidak ada konsep yang utuh yang ada hanya gambaran-gambaran dari pengetahuan kita dalam melihat dan memahami unsur dari tuingkatan-tingkatan ortonomi yang merupakan ciri keseluruhan sebuah struktur semesta.
Cara pikir yang demikian bisa jadi sangat menakutkan, karena manusia harus tahu dan sadar bahwa tidak ada kesadaran yang utuh, selain kesadaran yang muncul dari pilihan-pilihan manusia (otonomi manusia) terhadap gambaran-gambaran konsep yang terpenggal-penggal hasil bentukan struktur semesta yang telah ada sebelum si ego ada, terbangun dalam dirinya sebagai struktur itu sendiri dan dalam diri manusia yang terberi tadi. Berhadapan dengan orang yang sadar atas pilihan-pilihan konsep dari suatu proses reflektif terhadap struktur sekitar dan yang terberi akan membangun sebuah kesadaran pelawanan yang luar biasa jika ini terjadi dalam sebuah gerakan perlawanan terhadap kemapanan, ketidakadilan atau kapitalisme. Karena kesadaran yang terbentuk secara efektif mampu melihat bagaimana sebenarnya struktur bekerja secara langsung memberi pengetahuan tentang kisi-kisi struktur mana yang harus diberangus dulu. Kesadaran atas ideologi, pembacaan terhadap semesta struktur membawa pada kelihaian strategi dan siasat perjuangan yang dashyat. Inilah yang dapat memberi gelombang perlawanan tak henti karena setiap kader akan sangat gesit mencari siasat yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang tahu dan sadar betul bentukan struktur terhadap diri, kelompok dan kelas kepentingannya.
Strukturalime dan Louis Althusser
Tahun 1960-an, strukturalisme berkembang sebagai gerakan intelektual di Perancis. Pokok pandangan aliran ini adalah: dalam setiap aspek kehidupan, pikiran dan tindakan kita sebenarnya diatur oleh struktur dalam (deep structure) yang bisasanya tidak kita sadari. Struktur-struktur dalam yang tidak kita sadari itu dapat digunakan untuk mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia. Strukturalisme menjelaskan dari segi eksistensi dan interaksi struktur yang mendasarinya, yakni sebagai ganti dari agensi, cara berfikir dan memutuskan manusia (Adams, 2003: 285). Paham strukturalisme memandang makna suatu unsur/elemen, tidak ditentukan oleh substansinya tetapi oleh relasi dengan beberapa unsur dalam struktur. Beberapa prinsip strukturalisme banyak diinspirasi oleh Sausurre ketika mencari sifat-sifat yang termanifestasi dalam bahasa. Konsep ini kemudian diradikalkan oleh kelompok pasca-strukturalisme yang menyatakan bahwa makna tidak pernah dapat stabil karena selalu terpengaruh arus permainan jaringan penanda.
Strukturalisme mengkritik penggunaan pendekatan humanisme dan historisisme dalam ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, psikologi dan linguistik. Anehnya, seringkali hal itu dilakukan atas nama Marxisme. Claude Lévi-Strauss, menyebut dirinya seorang Marxis, mengkritik masih adanya prinsip-prinsip dialektika Hegelian pada karya-karya eksistensialisme-humanis dari Sartre, yang menyebabkan debat panjang dirinya dengan Sartre (Kurztweil, 2004: 33-39). Jacques Lacan menulis ulang psikoanalisis Freudian dalam term-term yang digunakan oleh prinsip-prinsip struktural seperti pada linguistik yang diajarkan Saussure, sehingga ia menyatakan: “L’inconscient est structure comme un langage” (Ketidaksadaran dirancang seperti suatu bahasa) (Bowie dalam Strurrock, 2003:202). Michel Foucault secara radikal mempertanyakan asumsi-asumsi bahwa sejarah adalah sesuatu yang progresif serta meragukan apakah yang disebut dengan pengetahuan manusia itu memiliki obyek pengertahuannya yang nyata secara ontologis (Sarup, 2004:101;103). Strukturalisme, karenanya lebih mengutamakan struktur dari pada subyek, dengan mengutamakan penggunaan analisa sinkronik (ahistoris) daripada diakronik, telah membuka kembali perdebatan yang lama dari Marxisme itu sendiri (Wihl, 2000).
Dengan menggunakan ide-ide yang dikembangkan oleh aliran strukturalisme, Louis Althusser—terutama dengan metode pembacaan simtomatis—menafsirkan kembali Marx. Louis Althusser menolak semua intrepretasi pikiran Marx yang dianggap humanistik-teoritis dan ekonomi-deterministik dengan menyatakan bahwa dalam karir intelektual Marx terdapat keterputusan epistemologis yang mengubah orientasi intelektual Marx. Louis Althusser adalah salah satu dari beberapa filsuf yang menjadi anggota PCF, tetapi keputusannya untuk bergabung dengan partai itu telah mengakibatkan dominasi yang kuat dari partai terhadap karya-karya dan kehidupannya. Apapun yang dikatakan atau ditulisnya dianggap dan harus mengikuti garis kebijakan partai. Tetapi ia tetap menjadi anggota partai sepanjang masa hidupnya.
Louis Althusser baru menonjol dalam kalangan intelektual Perancis setelah tahun 1965, setelah dua karyanya, For Marx dan Reading Capital diterbitkan. Sejak saat itu, ia bersama dengan Roger Garaudy menjadi dua orang intelektual PCF yang terkemuka (Kurztweil, 2004, 50-52). Pemikiran Louis Althusser yang cukup terkenal adalah teorinya mengenai ideology state aparatus dan repressive state aparatus yang terdapat dalam negara kapitalistik sebagai analisa tentang bagaimana sebuah mekanisme reproduksi kondisi-kondisi produksi berlangsung. Analisis wacana yang dikembangkan dari pandangan-pandangan Althusser masih bertahan sampai saat ini, yakni analisis wacana yang menggunakan metode symtomatik terhadap teks. Metode itu digunakan untuk mengetahui kandungan ideologi apa yang berada di belakang sebuah teks atau wacana. Teori ideologi Althusser tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh Pecheux dan mempengarhui pandangan-pandangan tentang komunikasi dari John Fiske (Faruk, 2002); (Fiske, 2004:240-6); (Macdonell, 2005).
Althusser menyerang penggunaan dialektika Hegel dan bentuk-bentuk lain dari Marxisme humanis, ia mengajukan Marxisme sebagai sebuah ilmu pengetahuan (science) yang tidak memiliki dasar-dasar etika. Kritiknya dibentuk oleh sebuah pendirian bahwa subyektifitas manusia, bersama dengan persoalan-persoalan filsafat dihasilkan oleh dualisme subyek-obyek adalah ilusi. Marxisme Althusserian menjadi trend pada universitas-universitas diluar Perancis, tetapi para pendukungnya serta gaya mereka yang penuh paradoks juga menyebabkan timbulnya aliran Marxisme Analitis di akhir tahun 1970-an (Torrance, 2000; 531).
Posisi Louis Althusser dalam Marxisme abad ke-20 dapat ditempat di antara dua intrepretasi tentang pemikiran Marx yang sepintas lalu bentuknya bertentangan, sehingga menolak yang satu dengan sendirinya berarti menerima yang lain. Dua intrepretasi itu adalah humanisme dan ekonomisme. Humanisme keliru dalam menerjemahkan konsep Marx dan Lenin tentang sejarah. Bagi pengaut humanisme manusia adalah subyek sejarah, seperti Hegel meletakan roh. Padahal, materialisme hanya memperhatikan hubungan-hubungan sosial dan manusia itu sebagai “tempat berpijak” bagi hubungan-hubungan sosial. Intrepretasi humanisme ini mendapat angin dalam kerangka gelombang anti-stalinisme sesudah kongres Partai Komunis Uni Soviet ke-20, khususnya di Prancis yang didominasi oleh aliran eksistensialisme dan antroposentrisme.
Louis Althusser mengaitkan anti-stalinisme dengan anti-humanisme. Baginya humanisme teoritis sebagai humanisme yang tidak bersifat etis—yang menempatkan manusia sebagai pusat sejarah dan pusat realitas—tidak mungkin beranjak dari pemikiran Marx. Louis Althusser juga menolak ekonomisme atau pandangan yang menganggap hubungan-hubungan sosial hanya mencerminkan proses-proses ekonomis—ekonomi menentukan segala-galanya. Ekonomisme mengabaikan perjuangan kelas dan pertentangan-pertentangan dalam hubungan-hubungan produksi.
Menurut Bertens (1985; 432-433) Louis Althusser bertujuan memberikan suatu kerangka tepretis yang kokoh kepada ajaran Marx. Ia ingin merumuskan kembali filsfat materialistis ini sedemikian rupa sehingga menampakkan relevansi teoritis dan politisnya. Langkah yang dilakukannya antara lain adalah membaca kembali karya-karya Marx, Engels dan Lenin untuk menggali dan menemukan kekuatan teoritisnya sebagai ilmu pengetahuan ilmiah. Menurut Althusser, pada pemikiran Marx, struktur-struktur politik dan ideologis suatu masyarakat tidak boleh dianggap hanya mencerminkan proses-proses ekonomis. Struktur-struktur ideologis dan politik mempunyai suatu otonomi tertentu yang sifatnya relatif. Dengan pengertian bahwa proses-proses ekonomi juga bisa ditentukan oleh politik dan ideologis, pada akhirnya harus dimengerti berdasarkan struktur-struktur hubungan-hubungan produksi.
Hubungan Louis Althusser dengan strukturalisme agak aneh. Dalam Essay on Self-Critism ia menolak disebut sebagai seorang strukturalis. Seperti juga yang disampaikannya dalam pendahuluan buku Reading Capital edisi kedua. Ia mengatakan bahwa buku-bukunya tidak memiliki hubungan dengan “ideologi strukturalis”. Ian Craib (1992:186) melihat penolakan Althusser itu sebagai sesuatu yang politis sifatnya. Namun demikian, pengaruhnya akan terlihat saat menelaah karya-karyanya. Sementara itu Bertens (1985: 438) mengambil kesimpulan bahwa sekalipun Althusser menyangkal dirinya sebagai seorang strukturalis, bukan dirinya orang paling tepat untuk menilai pemikirannya. Tetapi, ada dasarnya juga untuk mengatakan Althusser sebagai seorang strukturalis Selain karya-karyanya dipenuhi dengan terminologi yang dekat dengan strukturalisme, ia juga menganut pendirian-pendirian yang khas strukturalis, seperti anti-humanisme dan anti-historisisme.
Althusser dan Kajian Media
Beberapa pemikiran Louis Althusser dapat digunakan untuk menjelaskan peranan media dalam masyarakat. Studi ini sepenuhnya belum selesai, karena pemikiran Louis Althusser sendiri menurut saya sangatlah rumpil (complex), sehingga tulisan ini bisa dikatakan sebagai catatan awal yang digunakan untuk penyelidikan lanjutan mengenai hal itu. Tentunya, juga dengan mempelajari pemikiran-pemikiran Barthes tentang semiologi dan Foucoult. Kajian Althusser tentang Ideologi—ISA dan RSA—merupakan sumber yang paling banyak digunakan dalam cultural studies dan kajian media. Terutama konsep-konsep seperti interpelation, overdetermination, hailing dan lain-lain. Dalam hubungannya dengan kajian media, pemikiran althusser tidak dapat dilepaskan dari pemikiran-pemikirannya yang kemudian menjadi khas strukturalisme Marxisme.
Ada dua konsep Marxisme struktural yang penting. Pertama, penolakan Louis Althusser terhadap bentuk hubungan antara basis dan supra-struktur klasik yang deterministik, serta pandangannya yang melihat media dengan tegas sebagai alat produksi yang menciptakan kesadaran palsu. Dalam Marxisme klasik, basis ekonomi dalam masyarakat menciptakan supra-struktur (politik-ideologi dll)—hubungan-hubungan ekonomi menghasilkan fenomena-fenomena sosial, budaya dan politik yang meliputi semua hal termasuk diantaranya ideologi, kesadaran politik hingga budaya yang berhubungan dengan media. Marxisme strukturalis Althusser menolak pandangan klasik tersebut. Ia berargumen bahwa hubungan basis dan supra-struktur itu bersifat otonomi relatif, dan terdapat kesalinghubungan yang saling mempengaruhi antara supra-struktur dan basis. Sekalipun begitu ekonomi masih mempunyai pengaruhi ‘in the last instance’.
Marxisme Althusser juga menjadi sangat struktural, karena ia menolak konsep essensialisme[5] yang menyebabkan pandangan kaum Marxis melihat hubungan-hubungan ekonomi sebagai satu-satunya esensi dalam masyarakat dan melihat perkembangan sosial masyarakat seolah-olah ekspresi manusia secara alamiah. Dalam pandangan Louis Althusser tiap-tiap pandangan subyektif manusia dibangun oleh ideologi—sebagai faktor yang menjembatani manusia dan alam sekitarnya. Selanjutnya, manusia dan kategori-kategorinya terdapat dalam struktur yang kompleks yang telah ada sebelumnya, seperti bahasa, pendidikan dan dalam konteks ini, budaya media.
Berbeda dengan Marxisme klasik yang sangat ekonomi deterministik, budaya, dilihat sebagai ekspresi dari hubungan produksi yang terjadi. Budaya adalah supra-struktur, sehingga media-massa komersil, koran, majalah, televisi isinya dipandang sebagai cerminan dari hubungan-hubungan ekonomi yang eksploitatif, yang melatarinya. Mengikuti pandangan Louis Althusser, media-massa dilihat sebagai sebuah praktik ideologis yang hubungannya relatif otonom dengan hubungan-hubungan ekonomi yang ada padanya. Dengan begitu sangat memungkinkan untuk menghasilkan nilai-nilai yang berbeda dan berlawanan. Dalam ekplorasi lebih lanjut, media dapat pula menciptakan nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang konsekuensi politiknya seperti yang dapat kita lihat saat ini: medialah yang mengatur dan mengontrol masyarakat. Dengan demikian, wajar jika Green Day (musisi band-ed) tidak ingin menjadi bagian dari masyarakat Amerika yang idiot, dimana masyarakatnya sangat menggagumi media massa, sehingga tidak sadar jika seluruh bangsa itu telah dikontrol oleh media.
Sebelum Althusser, kaum Marxis lainnya juga telah memperhatikan media sebagai sebuah bagian dari alat produksi yang khusus menciptkan kesadaran palsu bagi kelas-kelas pekerja. Kajian Adorno dan Horkheimer yang melihat media massa sebagai bagian dari industri kebudayaan atau budaya industri itu sendiri yang memproduksi “pembodohan massal”]. Karakteristik ini kemudian menyadari bahwa media massa menjadi alat untuk mengembangkan nilai-nilai yang berlaku dalam kelas yang berkuasa di samping institusi lain, seperti pendidikan, agama, polisi bahkan sistem politik.
Dalam kajian mengenai institusi-intitusi di luar media massa, pandangan penting dari Louis Althusser adalah tentang ideologi dan aparatusnya. Althusser menolak faham bahwa ideologi adalah kesadaran palsu, sekalipun ia menyadari juga bahwa manusia berhubungan dengan alam sekitarnya melalui ideologi, yang juga memiliki kekuatan yang sama untuk menjadi faktor yang menentukan bangunan masyarakat, sebagaimana basis ekonomi. Ideologi menurut Althusser adalah: I D E O L O G Y (idéologie). Ideology is the 'lived' relation between men and their world, or a reflected form of this unconscious relation, for instance a 'philosophy' (q.v.), etc. It is distinguished from a science not by its falsity, for it can be coherent and logical (for instance, theology), but by the fact that the practico-social predominates in it over the theoretical, over knowledge. Historically, it precedes the science that is produced by making an epistemological break (q.v.) with it, but it survives alongside science as an essential element of every social formation (q.v.), including a socialist and even a communist society. Dengan menempatkan ideology pada tempat yang lebih utama daripada alat-alat produksi, Althusser membuka pembacaan yang bersifat oposisional terhadap media massa sebagamana juga membuka jalan bagi beragam cara pandang dalam media. Seperti juga apa yang dikatakan Marx, dalam ideologi, manusia sadar akan status sosialnya dan berjuang untuk membebaskannya. Sehingga dengan “membaca” dan “melihat” media, maka seseorang akan sadar dengan status sosialnya, serta melalui produksi media orang juga dapat melakukan perlawanan terhadap dominasi kelas yang berkuasa.
Di samping itu, ideologi juga memiliki peran dalam menciptakan individu menjadi subyek-subyek. Individu mendapatkan status/identitas sosialnya terutama melalui aparatus ideologis negara, salah satunya adalah media. Dalam diskursus cultural studies, pandangan Althusser tentang ideologi setidaknya dapat dipahami dalam lima konsep. Pertama, ideologi mengacu pada pelembagaan gagasan secara sistematis yang diartikulaiskan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Kedua, ideologi dipandang sebagai upaya penopengan dan penyembunyian realitas tertentu. Ia berfungsi untuk menghadirkan citra-citra tertentu yang telah diseleksi, direduksi dan didistorsi yang kemudian memproduksi apa yang disebut oleh Marx dan Engels sebagai “kesadaran palsu”. Ketiga, defenisi ideologi sedikit banyaknya terkait dengan defenisi kedua, yaitu ideologi yang terwujud/ mengejewantah dalam bentuk-bentuk ideologis. Ideologi dimanfaatkan untuk menarik dan memikat perhatian massa pada citra-citra media untuk kemudian menarik massa untuk berpihak pada ideologi yang memproduksi bentu-bentuk itu. Keempat, ideologi sebagai pelembagaan ide sekaligus sebagai praktek materil. Konsep ini dikemukakan oleh louis Althusser dalam Ideology and Ideological Apparatus. Maksudnya, ideologi dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada ide-ide tertentu tentang kehidupan sehari-hari. Althusser menandaskan bahwa aktivitas-aktivitas yang lazim kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari sejatinya memproduksi akibat-akibat yang mengikat dan melekatkan kita pada suatu tatanan sosial yang mapan, sebuah tatanan yang senjang dan tidak adil. Aktivitas-aktivitas itu, mengelabui massa dari realitas kesenjangan dan ketidakadilan itu untuk sementara waktu. Karenanya ideologi juga berfungsi untuk mereproduksi kondisi-kondisi dan relasi sosial strategis yang penting demi tujuan tertentu, terutama bagi kepentingan ekonomi dan kuasa ekonomi kapitalisme. Kelima, ideologi yang difungsikan pada level konotasi (tersirat), makna sekunder, makna yang seringkali tidak disadari yang terdapat pada teks dan praktik kehidupan. Defenisi ini dikemukakan oleh Roland Barthes, seorang teoritisi budaya Perancis. Ideologi (mitos) menurut Barthes mengarahkan kita pada perjuangan hegemonik untuk membatasi makna konotatif, menetapkan konotasi-konotasi partikular, dan memproduksi konotasi-konotasi baru. Ideologi selalu berupa untuk menjadikan apa yang faktanya partikular menjadi universal dan legitimate dan juga upaya untuk menaturalkan hal-hal yang pada dasarnya kultural.
rumahkiri.net

No comments: