Wednesday, October 06, 2010

BI Rate Bertahan Pada Posisi 6,5 %


Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 6,50%. Melalui surat edaran bernomor No. 12/43/PSHM/Humas yang ditanda tangani oleh Direktur Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Dyah N.K. Makhijani itu tercantum beberapa alasan mengenai penetapan tingkat suku bunga tersebut.

Alasan yang mendasari keputusan penetapan tingkat suku bunga tersebut meliputi pandangan Dewan Gubernur BI tentang proses pemulihan ekonomi global yang masih terus berlangsung walaupun diwarnai kekhawatiran perlambatan pada beberapa negara utama. Pandangan lainnya, pada sisi domestik pertumbuhan ekonomi sampai dengan triwulan III-2010 tumbuh cukup tinggi terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor, dari sisi harga yang tercatat mengenai tekanan inflasi IHK pada bulan September 2010 masih bersumber pada volatile foods, stabilitas sistem perbankan yang tetap terjaga disertai dengan terus meningkatnya pertumbuhan kredit serta keyakinan terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik yang diperkirakan akan terus membaik kedepannya.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution melalui keterangannya di Gedung BI, Jakarta, seperti dikutip detik.com, mengatakan bahwa dengan resiko inflasi yang tinggi, pemerintah dan BI terus melakukan usaha agar laju inflasi tetap mencapai target 5 plus minus 1%. "Ini jadi pertimbangan BI menahan BI Rate," tukasnya.

Senada dengan hal tersebut, Pengamat Pasar Uang dan Dirut PT. Finan Corpindo Nusa Edwin Sinaga, seperti diberitakan Antaranews.com, Senin, 6 September 2010 di Jakarta mengatakan bahwa bertahannya suku bunga BI Rate selama 14 kali berturut-turut memicu pelaku pasar khususnya asing lebih aktif bermain di pasar saham dan uang.

"Pasar saham diserbu pelaku pasar yang membeli saham-saham unggulan dan lapis dua sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) naik tajam melewati angka batas 3.200 poin," katanya menjelaskan.

IHSG sebelumnya tercatat mengalami keterpurukan hingga berada dibawah angka 3.100 poin. Akibat sentimen positif dari pasar eksternal (dengan data terbaru ekonomi AS yang menunjukkan perbaikan) ditambah para pelaku pasar yang merespon dengan melakukan investasi karena melihat peluang yang makin besar, IHSG kemudian kembali menunjukkan penguatannya.

Disisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) dalam catatannya menyebutkan bahwa pada bulan September 2010 inflasi tercatat sebesar 0,44%. Industri sandang dan pakaian menyumbang inflasi terbesar, sebanyak 1,08%. Setelah itu diikuti oleh makanan 0,44%, minuman dan rokok 0,52%, perumahan air dan listrik 0,25%, kesehatan 0,23%, pendidikan 0,26%, serta transportasi dan komunikasi 0,57%. Sehingga inflasi tahun kalender Januari-September 2010 mencapai 5,28%, sementara inflasi year on year (yoy) 5,8%.


Diolah dari berbagai sumber

Wednesday, September 29, 2010

SEJARAH PERBANKAN

Kegiatan dan sejarah perbankan mulai di kenal sejak zaman Babylonia, kemudian terus berkembang hingga zaman Yunani Kuno dan Romawi. Kemudian kegiatan perbankan terus berkembang hingga ke daratan Eropa, hingga akhirnya berkembang sampai ke Asia Barat yang dibawa oleh para pedagang Eropa, dan terus berkembang hingga kegiatan perbankan ini menyebar ke seluruh dunia, terutama daerah jajahan Eropa.

Pada mulanya kegiatan perbankan dimulai dari jasa penukaran uang, sehingga dalam sejarah perbankan arti bank di kenal sebagai meja tempat menukarkan uang, dimana kegiatan penukaran uang tersebut sekarang dikenal dengan pedangang valuta asing (money changer).

Dalam perkembangan selanjutnya kegiatan perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang, yang kini di kenal dengan kegiatan simpanan (tabungan). Kegiatan perbankan bertambah lagi sebagai tempat peminjaman uang. Kegiatan perbankan terus berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat, dimana bank tidak lagi sekedar sebagai tempat menukar uang atau tempat menyimpan dan meminjam uang. Hingga akhirnya keberadaan bank sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi masyarakat, hingga tingkat negara, dan bahkan sampai tingkat internasional.

Di Indonesia sendiri, sejarah perbankan dimulai dengan masuknya penjajah belanda melalui VOC. Bank-bank yang pernah ada pada waktu ini antara lain:

1. De Javasche NV

2. De Post Paar Bank

3. De Algemevolks Crediet Bank

4. NederlandHandles Maatscappij (NHM)

5. Nationale Handle Bank

6. De Escompto Bank NV

Sedangkan bank-bank yang didirikan dan dimiliki warga pribumi. Cina, Jepang, dan Eropa lainnya diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Bank Nasional Indonesia

2. bank Abuan Saudagar

3. NV Bank Boemi

4. The Charteredbank of India

5. The Yokohama Species Bank

6. The Matsui Bank

7. The Bank of China

8. Batavia Bank

Sumber-Sumber Dana Bank

Sumber-sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun dana untuk membiayai operasinya. Sumber-sumber dana bank tersebut adalah:

1. Dana Yang Bersumber Dari Bank Itu Sendiri (Internal)

  • Setoran modal dari pemegang saham
  • Cadangan-cadangan bank, yaitu cadangan-cadangan laba pada tahun lalu yang tidak dibagikan kepada pemegang saham.
  • Laba yang belum di bagi, laba yang belum dibagi merupakan laba yang memang belum di bagikan pada tahun yang bersangkutan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk sementara waktu.

2. Dana Yang Berasal Dari Masyarakat Luas (Eksternal)

  • Simpanan Giro (Demand deposit)
  • Simpanan Tabungan (Saving Deposit)
  • Simpanan Deposito (Time Deposit)
  • Simpanan Giro (Demand deposit)

Menurut UU perbankan No. 10 Tahun 1998, giro adalah sipanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saatdengan menggunakan cek, Bilyet Giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan. Penarikan secara tunai dengan menggunakan cek sedangkan penarikan non tunai dengan menggunakan Biyet Giro (BG).

  • Cek (Cheque) : Merupakan surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang bersangkutan (yang disebut) didalamnya atau kepada pihak pemegang cek tersebut. Jenis-jenis Cek :
  1. Cek atas nama ( ada namanya di dalam cek tersebut).
  2. Cek atas unjuk (tidak ada namanya, dan siapapun yang memegang cek tersebut dapat mencairkannya).
  3. Cek silang (cek disilang 3X maka cek tersebut berubah menjadi BG (Biyet Giro).
  4. Cek mundur
  5. Cek kosong
  • Bilyat Giro (BG) : merupakan surat perintah dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening Giro nasabah tersebut untuk memindah bukukan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank yang sama atau bank lainnya.
  • Simpanan Tabungan (Saving Deposit)

Alat penarikan tabungan yaitu:

  1. Buku Tabungan
  2. Slip Penarikan
  3. Kartu ATM
  • Simpanan Deposito (Time Deposit)
Menurut UU No. 10 tahun 1998, deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank.

Jenis-jenis Deposito :

  1. Deposito Berjangka ( tidak bisa di pindah tangankan)
  2. Sertifikat Deposito ( dapat diperjual belikan)
  3. Deposito On Call (jangka waktunya tidak lebih dari 1 bulan)

Tuesday, September 28, 2010

Pasca Lebaran, Inflasi Menurun

Setelah sebelumnya mengalami kenaikan, tren inflasi pasca lebaran menunjukan angka penurunan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain harga kebutuhan barang-barang pokok yang sudah kembali stabil dibandingkan saat memasuki Idul Fitri 2010 lalu.

Seperti dikutip dari Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter – September 2010 Bank Indonesia, penurunan tekanan inflasi terjadi dikarenakan kelompok volatile food menunjukan penurunan seiring dengan terjadinya panen pada beberapa komoditas bumbu dan sayur mayur. Dengan perkembangan tersebut, inflasi Indek Harga Konsumen (IHK) pada bulan Agustus 2010 tercatat sebesar 0,76% (mtm), menurun dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,57% (mtm).

Seiring dengan hal tersebut, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan masih mencatat surplus dengan cadangan devisa per 31 Agustus 2010 yang mencapai 81,3 miliar dollar AS dan nilai tukar rupiah yang ditutup per akhir Agustus 2010 pada level Rp. 9.035 per USD atau melemah 0,95% (point to point) dibandingkan dengan akhir Juli 2010.

Menanggapi tren inflasi yang menurun, Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono mengatakan bahwa itu sebuah kabar yang bagus. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa penyumbang inflasi terbesar berasal dari kelompok bahan makanan dan saat ini kelompok tersebut mengalami penurunan.

Namun, Hartadi menambahkan, ada satu kelompok makanan yang harganya masih dipengaruhi harga internasional, yaitu beras. “Beras masih ada kecenderungan untuk naik dan akan berdampak pada masyarakat,” jelasnya (sumber: infobanknews.com)

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa harga beras di Indonesia sudah termasuk yang paling tinggi dari harga beras di Internasional dan itu harus diperhatikan.

LPPI – BWS Capital Partners Gelar Workshop Solusi Mengatasi MISMATCH (Kesenjangan Pendanaan)

LPPI (Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia) menjadi tuan rumah penyelenggaraan workshop dengan tema “Solusi Mengatasi MISMATCH Pemberian Kredit Jangka Panjang Dengan Sumber Dananya” pada hari Selasa, 28 September 2010. Workshop yang diadakan berkat kerjasama dengan BWS Capital Partners ini dihadiri oleh perwakilan dari stakeholder bank-bank yang ada di Indonesia, antara lain: BNI, BRI, BCA, BTN, Bank Mandiri, BPD Sulut, Bank BPD Kalbar dan beberapa bank lokal lainnya.

Workshop ini merupakan ajang para kalangan perbankan untuk memperlebar kesempatan dan akses terhadap kepemilikan rumah bagi masyarakat di negara berkembang dengan kondisi ekonomi yang sedang tumbuh, terutama di Indonesia. Selain itu, workshop ini juga dimaksudkan sebagai ajang untuk menyediakan sumber pendanaan alternatif dan kompetitif pada industri properti di Indonesia khusus kalangan perbankan.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur LPPI Bidang I Saifuddien Hasan, mengemukakan beberapa pendapatnya di pembukaan acara akan kebutuhan Indonesia terhadap sumber dana dari luar negeri terutama pada sektor riil yang bisa disalurkan melalui industri perbankan.

“Tergantung bagaimana kita berusaha dan mencari sumber dana tersebut. Amerika mempunyai Ex-Im Bank dimana kredit investasi dapat memberikan jaminan terhadap investasi ke luar negeri,” lanjutnya.

Hadir sebagai pembicara, Direktur BWS Capital Partners Alec Salemon, memaparkan beberapa pokok pikiran tentang tema yang diangkat. Diantaranya, program fasilitas kredit khusus untuk kredit perumahan terhadap masyarakat kelas menengah kebawah yang disediakan oleh PT. Indonesia Home Loan selaku Special Purpose Vehicle (SPV), disponsori oleh BWS Capital Partners dan diberi jaminan oleh Overseas Private Investment Corporation (OPIC).

Indonesia menjadi fokus oleh BWS Capital Partners dikarenakan Indonesia memiliki 17.508 pulau dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa dan memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik di kawasan Asia Tenggara dengan Produk Domestik Bruto (GDP) nominal sebesar 511,7 milliar US dolar pada tahun 2008 dan GDP nominal perkapita sebesar 2.246 US dolar. Selain itu, jumlah rumah tangga yang ingin memiliki rumah sebesar 8 juta keluarga dimana jumlah penduduk tumbuh 1,6% pertahun melebihi pertumbuhan industri perumahan.

Program ini ditargetkan bisa berjalan melalui kerjasama dengan bank-bank lokal yang terpilih. Dengan goal antara lain, pendanaan sebesar 150 – 200 juta US dolar dan kriteria-kriteria capaian BWS Capital Partners terhadap mitra kerjasama berdasarkan track record, kinerja back office bank, suku bunga tahunan dan wilayah yang dicakupi.

BWS Capital Partners sebelum berniat melakukan investasi di Indonesia terlebih dahulu sukses menjalankan program fasilitas kredit khusus untuk perumahan masyarakat kelas menengah kebawah di Nigeria.

Thursday, September 02, 2010

Bung Sjahrir Pemikir Yang Tersingkir


Sjahrir adalah a man of paradox dalam berbagai arti. Tubuhnya kecil dengan tinggi tidak mencapai satu setengah meter, 145 sentimeter, dan berat badan hanya 45,5 kilogram. Namun di sana tersimpan energi dahsyat. Inteligensinya mengagumkan.

Namun atau sebenarnya justru karena inteligensinya yang besar itu dia meninggalkan studinya di Leiden, Belanda, tanpa berminat sedikit pun untuk menyelesaikannya, sebagaimana Hatta dan kawan-kawannya yang lain. Tentang ini, dengan enteng dia hanya berkata bahwa seorang pemegang titel itu hanya “pemegang titel sahadja”, tidak lebih dari itu.

Namun pandangan Sjahrir jauh melampaui masalah sepele ijazah. Sjahrir menukik tajam ke dalam soal ilmu dan keilmuan ketika dia memberikan jawaban yang paling serius dalam Indonesische Overpeinzingen (IO): “Lama-kelamaan saya tahu bagaimana membebaskan diri dari perbudakan ilmu resmi (de slavernij van de offici le wetenschap). Otoritas ilmiah tidak terlalu berarti bagiku secara batin. Dengan begitu seolah-olah jiwaku semakin bebas, tidak ada nama besar dan tenar, yang resmi maupun tidak resmi, yang menguasai pikiranku untuk membutakanku dengan kehebatannya dan membuang atau membantai semua kegiatan orisinalku…. Yang lebih penting bagiku adalah bagaimana tiba pada kebenaran harmonis dan pribadi sifatnya” (IO, 29 Desember 1936). Secara utiliter seolah-olah dia katakan: pengetahuan tidak berguna kalau tidak menjadi kebenaran yang bisa diserap dan diolah masing-masing orang. Di luar itu, ilmu hanya sekadar kumpulan kaidah dan abstraksi yang tak bermanfaat.(DANIEL DHAKIDAE)

SJAHRIR adalah satu dari Tujuh Begawan Revolusi Indonesia. Ketujuh orang ini-Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka, Sudirman, dan A.H. Nasution-dalam kadar berbeda menentukan arah dan produk revolusi. Republik Indonesia pada zaman revolusi, dengan demikian, bukan merupakan akibat dari proses sosial yang impersonal dan tak terhentikan, melainkan hasil interaksi ribuan orang dan organisasi, kelompok angkatan bersenjata dan badan perjuangan, politikus nasional dan lokal, idealisme dan oportunisme, patriotisme dan banditisme, pahlawan dan pengecut. Semua ingar-bingar itu berakhir dengan ajaib: pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada Desember 1949.

Ketujuh pemimpin ini dengan caranya masing-masing berkontribusi bagi jalannya revolusi. Setelah revolusi, mereka mengalami peruntungan berbeda, aliansi berbeda, dan perimbangan kekuatan berbeda. (HARRY POEZE)

DALAM sejarah Indonesia, Sutan Sjahrir adalah eksponen utama garis ideologis yang dapat disebut perpaduan antara tradisi sosial demokrasi dan liberalisme. Sebagai sosial demokrat, ia merupakan tokoh gerakan buruh yang andal pada 1930-an, dan menaruh perhatian amat besar terhadap masalah pendidikan rakyat. Liberalismenya terlihat antara lain dalam perhatiannya yang besar pula terhadap masalah perlindungan hak-hak individu dari tirani negara. Tak mengherankan bila ia menjadi musuh besar fasisme, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.

Tidaklah mengejutkan bahwa ideologi yang diperjuangkan Sutan Sjahrir mengalami rintangan pada masa Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru yang otoriter. Tetapi, Indonesia sekarang adalah negara demokrasi, bahkan negara demokrasi yang paling tegak di seluruh Asia Tenggara mengingat beberapa perkembangan anti-demokratis di Filipina, dan terutama Thailand, belakangan ini. Sebagai negara demokrasi, barangkali kita berharap menemukan para ahli waris garis ideologi yang diperjuangkan oleh Sutan Sjahrir di antara berbagai kekuatan politik yang sekarang bersaing secara bebas dan terbuka untuk memimpin Indonesia. (VEDI R. HADIZ)

M. Chatib Basri menyatakan :” SUTAN Sjahrir seperti sebuah kekecualian bagi zamannya. Mungkin ia terlalu di depan bagi masanya. Ketika nasionalisme adalah tungku yang memanggang anak-anak muda dalam elan kemerdekaan, Sjahrir justru datang dengan sesuatu yang mendinginkan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional tidak final. Tujuan akhir dari perjuangan politiknya adalah terbukanya ruang bagi rakyat untuk merealisasi dirinya, untuk memunculkan bakatnya dalam kebebasan. Tanpa halangan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan adalah sebuah jalan menuju cita-cita itu. Itu sebabnya Sjahrir menganggap nasionalisme harus tunduk kepada kepentingan demokrasi.”

Dalam sebuah esai yang penting Sjahrir menuntut agar demi perjuangan, seseorang harus bebas dari perasaan-perasaan yang menghalangi orang berpikir jujur sesuai dengan kebutuhan perjuangan. Pikiran dan tindakan hendaknya “tidak dikuasai oleh unsur psikologis, melainkan oleh hukum akal budi dan otak yang sanggup berpikir dan bertindak menurut keadaan dan perubahan”. Tampaknya ada dialektik antara Sjahrir dan kebudayaan masyarakatnya, dan tuntutan Sjahrir mungkin hanya separuh benar. Dia lupa bahwa akal harus memperhatikan perasaan, rasio perlu menimbang psikologi, dan logika bertugas menerangi yang irasional. Kalau tidak, dialektik itu akan menelan korban, dan, tragisnya, korban itu tak lain dari diri Sjahrir sendiri, dengan meninggalkan sosial-demokrasi bagaikan yatim piatu. (Ignas Kleden)

Thursday, January 18, 2007

Rekonsiliasi dengan Korban 1965

Oleh: Salahuddin Wahid

SAAT berusia 10 tahun, saya melihat sebuah foto di ruang kerja ayah saya, yang menunjukkan gambar seorang lelaki dengan mata tertutup berdiri menghadapi beberapa orang yang mengacungkan senjata. Saya bertanya siapa lelaki itu dan apa yang sedang dialaminya. Ayah menjawab, lelaki itu anggota PKI yang terlibat pemberontakan di Madiun (1948).
Menurut beliau, pemberontakan itu membunuh banyak kiai di sekitar Madiun, banyak di antaranya yang punya hubungan darah dengan kami. Jawaban ayah saya tentang pembunuhan oleh anggota PKI terhadap keluarga kami langsung saya percaya dan sangat membekas di dalam diri saya dan tidak mungkin saya lupakan sampai kapan pun. Saya yakin banyak sekali orang yang berpendapat sama dengan saya.
Kini telah terbit banyak buku yang membantah apa yang saya yakini itu. Menurut para penulis buku itu, peristiwa (bukan pemberontakan) Madiun adalah buah persengketaan antara TNI dan laskar-laskar revolusi lainnya. Dan juga merupakan konflik internal Angkatan Darat. Penulis buku-buku itu berpendapat bahwa PKI hanya menjadi kambing hitam dan korban perang dingin. Yang dipersalahkan adalah mereka yang antikomunis dan memanipulasi peristiwa itu lalu menyebutnya sebagai pemberontakan.
Ada tiga buku yang saya punya. Pertama berjudul PKI Korban Perang Dingin (Sejarah Peristiwa Madiun) yang berisi kumpulan tulisan yaitu tulisan DN Aidit berjudul Menggugat Peristiwa Madiun, tulisan Suar Suroso berjudul PKI, Korban Pertama Perang Dingin, tulisan Jacques Leclerc tentang Amir Syarifudin dan tulisan Musso berjudul Jalan Baru.
Buku kedua berjudul Negara Madiun? (Kesaksian Soemarsono, Pelaku Perjuangan). Hasil diskusi panjang Arief Budiman dengan Soemarsono itu ditambah kajian yang dilakukannya lalu dikembangkan dan ditulis oleh Hersriawan, yang pernah menjadi tapol di Pulau Buru. Buku ketiga berjudul Peristiwa Madiun 1948. Kudeta atau Konflik Internal Tentara yang ditulis oleh David Charles Anderson.
Amat sulit untuk mengubah opini orang yang yakin bahwa PKI terlibat dalam pemberontakan Madiun. Tetapi warga masyarakat yang masih berusia muda cenderung untuk mempercayai isi buku-buku di atas. Bagi mereka PKI adalah korban Orde Baru yang mereka ketahui sebagai pemerintahan otoriter yang korup.
TANGGAL 1 Oktober 1965 pagi, kami sekeluarga mendengarkan dengan saksama pengumuman radio dari Dewan Revolusi. Reaksi spontan kami sekeluarga: di belakang Dewan Revolusi adalah PKI. Kami punya reaksi itu karena selama beberapa tahun sebelumnya telah menyaksikan terjadinya "perang" antara PKI dan kawan-kawan melawan kekuatan politik lain yang meliputi kalangan Islam, agama lain, kelompok sosialis, TNI, dan lain lain. Kedua kekuatan yang bertentangan itu berusaha menarik Bung Karno ke arah kelompok mereka.
Keluarga serta kawan kami di Jawa Timur mengisahkan banyak peristiwa yang mencerminkan runcingnya pertentangan antara pihak PKI serta lawannya, yang sudah sampai di lapisan masyarakat paling bawah. Boleh dibilang tingkat pertentangannya sudah sampai pada puncaknya, tinggal menunggu meletus dalam konflik fisik terbuka yang meluas.
Reaksi spontan kami dalam menanggapi gempa bumi politik saat itu sama dengan reaksi puluhan juta orang lain. Apa yang terjadi saat itu tentu tidak mungkin dinilai dengan tatanan sosial politik pada saat ini. Kini setelah 39 tahun berlalu, saya merasa reaksi spontan kami itu adalah wajar dan sesuai dengan pengalaman dan tatanan sosial politik waktu itu. Tentu saja, bersikap menyatakan PKI terlibat G30S bukan berarti kami menyetujui tindakan pembunuhan terhadap sekian banyak orang yang dituduh sebagai anggota PKI.
Pada tahun 1969 terbit tulisan Arnold C Brackman, Cornell Paper: Communist Collapse in Indonesia yang mengemukakan pendapat bahwa G30S bukan kudeta PKI tetapi merupakan konflik internal Angkatan Darat. Saya punya buku berjudul G 30 S, Sejarah Yang Digelapkan, Tangan Berdarah CIA dan Rejim Soeharto karya Harsutejo. Buku yang lain berjudul Membongkar Jaringan CIA karya Yoshiro Mushasi, yang menggali kemungkinan peran CIA dalam penggulingan Soekarno. Buku ketiga berjudul Kudeta Angkatan Darat karya Geoffrey B Robinson. Masih banyak lagi buku lain dengan opini yang sama.
Menanggapi tuntutan untuk melakukan penulisan kembali sejarah Indonesia yang dianggap mengandung banyak pemalsuan, dibentuklah tim untuk melakukan tugas itu yang dipimpin oleh Dr Taufik Abdullah. Tetapi tampaknya tidak mudah bagi tim itu untuk menuliskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam peristiwa G30S. Ada semacam kabut tebal yang menyelimutinya hingga sulit untuk mengungkap kebenaran. Versi manapun yang diakui atau dianggap benar, pasti tidak akan diterima dan menimbulkan reaksi keras dari pihak yang berlawanan.
Masalah utama peristiwa G30S adalah pembunuhan dalam jumlah amat besar terhadap siapa pun yang dianggap sebagai anggota PKI dan onder-bouwnya, yang dilakukan tanpa melalui proses hukum. Beberapa buku mengungkap bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh sebagian warga masyarakat atas perintah sejumlah aparat tentara yang dilakukan di berbagai tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali. Tampaknya saat itu paradigma TNI menganggap komunis sebagai musuh bangsa. Paradigma itu tentu merupakan hasil perjalanan kesejarahan TNI sejak awal kemerdekaan. Tetapi pembunuhan massal itu bukan implementasi yang tepat dari paradigma TNI itu dipandang dari perspektif kemanusiaan, walaupun perspektif politik dan militer mungkin bisa dianggap tepat.
Di Jawa Timur banyak warga NU dan Ansor ikut terlibat dalam pembunuhan itu. Mereka terlibat kekejaman itu karena tidak dapat menghindar dari instruksi tentara dan juga karena merasakan suasana peperangan yang hidup di dalam masyarakat. Suasana semacam itu terbangun akibat konflik fisik yang mereka alami selama beberapa tahun terakhir, yang tentu bernuansa membunuh atau dibunuh dari pada dibunuh. Tetapi perlu disadari bahwa kalau kita memahami suasana sosial saat itu tidak berarti kita menyetujui tindakan itu.
BEBERAPA tahun terakhir terjadi gejala menarik dan positif. Sejumlah anak muda NU yang tergabung dalam Syarikat memulai langkah awal untuk bisa mewujudkan rekonsiliasi sosial dengan keluarga korban peristiwa 1965. Mereka melakukan silaturrahim dengan keluarga mantan tapol di berbagai tempat. Mereka juga menerbitkan buletin RUAS yang khusus membahas materi yang berkaitan dengan upaya rekonsiliasi. Tetapi langkah anak muda NU itu tampaknya belum mendapatkan tanggapan positif dari mayoritas warga NU.
Kita sadar bahwa rekonsiliasi dengan korban pelanggaran HAM yang berat masa lalu harus segera dilakukan. Tapi kita juga tahu bahwa tidak mudah untuk melakukannya. UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) ternyata tidak mudah untuk melakukannya. UU KKR ternyata tidak memuaskan karena lebih memihak kepada pelaku pelanggaran. Perlu kita ketahui bahwa rekonsiliasi itu tidak hanya antara pelaku dengan korban dan keluarga, tetapi juga antara masyarakat secara umum dengan korban dan keluarga. Yang pertama bernuansa hukum dan yang kedua lebih bernuansa sosial. Jenis yang kedua itulah yang ingin dilakukan oleh kalangan muda NU yang tergabung dalam Syarikat itu bisa dilakukan tanpa dikaitkan dengan UU KKR. Masing-masing bisa berjalan sendiri dan saling mendukung.
Di dalam kalangan NU-terutama generasi tua-tidak mungkin untuk mengubah perspesi tentang keterlibatan PKI dalam peristiwa Madiun dan peristiwa G30S. Wajar kalau mereka masih belum bisa melupakan pengalaman buruk dengan PKI. Kecurigaan terhadap PKI juga masih cukup tinggi. Kondisi itu tidak mendukung upaya rekonsiliasi dengan korban G30S dan keluarganya yang ingin dilakukan oleh kalangan muda NU. Mantan tapol dan keluarganya berjumlah amat besar, demikian pula warga NU. Jadi terwujudnya rekonsiliasi antara kedua komunitas itu akan memberi dampak positif bagi kehidupan bangsa di masa mendatang.
Rekonsiliasi itu membutuhkan kesediaan semua pihak untuk melakukannya. Membutuhkan ketulusan, kejujuran dan keterbukaan, menghendaki hilangnya prasangka didalam diri masing-masing. Juga membutuhkan kesabaran, kesungguhan, dan kerja keras. Serta membutuhkan waktu yang amat panjang. Makin cepat dilakukan, makin baik.
Sudah saatnya NU-jama’ah dan jami’yah-mempertimbangkan bagaimana sebaiknya menyikapi masalah rekonsiliasi sosial warga NU dengan mantan tapol dan keluarganya. Sudah cukup jauh jarak waktu dengan tahun 1965 sehingga tidak terlalu sulit bagi NU untuk mengambil sikap yang tepat. Dalam posisi sebagai Presiden, Gus Dur telah membuka jalan dengan meminta maaf kepada korban dan keluarga mereka. Kegiatan kalangan muda NU dalam Syarikat adalah langkah awal bagi tujuan mulia yang merupakan sumbangsih besar NU yang kesekiankalinya bagi bangsa.

Sumber: Kompas, Jumat, 01 Oktober 2004

Friday, December 15, 2006

Kesaksian Seputar Tragedi Kudeta 1965: Buku Harian Seorang Tapol

Ia termasuk tapol yang mujur dalam arti memiliki kesempatan menulis buku harian selama beberapa tahun (1966-1971). Ketika itu ia bersama ratusan tapol lain dijadikan romusa modern melakukan kerja rodi di daerah Banten dalam proyek Angkatan Darat yang disebut ’Operasi Bhakti Siliwangi’, antara lain memperbaiki jalan-jalan di daerah Banten sepanjang beberapa puluh kilometer, membangun kampus Universitas Maulana Yusuf (UNMA), antena radio persiapan RRI Serang, membersihkan pelabuhan Karangantu. Piringan hitam yang diputar di radio itu ternyata miliknya yang dibawanya dari Moskwa dan telah dirampas dari kamar asramanya di Cilegon. Kesempatan menulis buku harian merupakan barang langka, bahkan suatu kemewahan bagi seorang tapol G30S. Pena, kertas, buku, informasi dan perangkat peradaban lain merupakan musuh besar bagi rezim penindas jika jatuh ditangan mereka yang dianggap lawan politiknya.

Dalam salah satu catatannya, cukup menarik bahwa penangkapan di Banten dilakukan sejak dini. Minggu, 3 Oktober 1965, Ir. Soerjo Darsono diambil oleh Polisi dari mes di Serang dan dibawa ke Cilegon. Pada suatu hari pasti datang pula giliran kami yang lain, karena suasana menyudutkan PKI dan organisasi-organisasi massa yang dianggap ada kaitannya dengan PKI semakin gencar. Aparat didaerah terkesan lebih rajin mendahului Jakarta. Begitu cepatnya vonis dijatuhkan kepada PKI dan organisasi mantelnya, atau sesuatu yang memang sudah diatur demikian? Sebagai tapol, Ir. DSM Sastrosudirdjo sadar buku harian yang ditulisnya mengandung risiko. Dengan demikian ia secara sadar pula menerapkan berbagai kiat berkelit. Sebagian catatan itu dibuatnya dalam bahasa Rusia dengan huruf Kiril, juga dengan huruf Jawa dalam bahasa Jawa. Selanjutnya secara berangsur dikirimkannya melalui saudara kandung yang menjenguknya untuk disimpan bersama buku-buku koleksi miliknya yang sebagian masih dapat diselamatkan. Dengan masgul ia mencatat ketika melihat sebuah buku tebal kamus teknik yang dibawanya dari Moskwa dijadikan ganjal korsi jaksa yang memeriksanya, ”Ia seorang terpelajar bergelar sarjana hukum, tetapi belum berbudaya.”

Ketika menjadi mahasiswa di ITB Bandung, ia memasuki CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang digolongkan sebagai mantel PKI dengan pertimbangan sederhana, tidak ada perploncoan. Ketika ia memilih studi ke Moskwa dalam jurusan metalurgi, hal itu pun dilakukannya dengan pertimbangan lugas, pabrik baja pertama Indonesia di Cilegon dengan bantuan dan teknologi Uni Soviet. Tidak ada pertimbangan dan semangat politik atau ideologi yang menggebu sebagai yang menjadi kecenderungan umum masa itu sebagai respons terhadap retorika politik kebangsaan Presiden Sukarno. Dengan penuh idealisme ia menimba ilmu yang akan berguna bagi tanah air tercinta. Semangat semacam itulah yang terus-menerus dipeliharanya dalam bertahan hidup selama 12 tahun sebagai tapol di tahanan, kerja rodi dan pembuangan dalam solidaritas tinggi sebagai bagian watak pribadinya. Ia menjadi anggota SBBT (Sarekat Buruh Baja Trikora) beberapa bulan sebelum meletusnya G30S, ia bukan anggota resmi ataupun anggota ilegal PKI, bahkan ia pun bukan penganut Marxisme. Pernyataan ini tidak ada urusannya dengan pemaafan, pujian atau memandang rendah. Kenyataan itu merupakan salah satu petunjuk penindasan yang dilakukan rezim yang berkuasa dilakukan terhadap seluruh elemen yang dianggap membahayakan sang rezim.

Bagi banyak aktivis organisasi (kiri), dipenjarakan bukan merupakan kejutan besar tanpa disangka, meskipun pembunuhan besar-besaran tetap merupakan hal yang tidak diperhitungkan bahkan oleh para petinggi PKI pun. Bagi para aktivis hal itu merupakan risiko sikap politik yang dipilihnya. Sebaliknya bagi Ir. DSM Sastrosudirdo sesuatu yang tak pernah terlintas dibenaknya. Ia belajar, bekerja, belajar berorganisasi tanpa melakukan kalkulasi politik, tetapi lebih dibimbing oleh kata hati nurani tanpa pamrih apa pun kecuali ingin berbuat sebaiknya untuk negeri ini melalui kemampuan dan studinya. Di tengah kemelut tercemplung sebagai tapol pekerja rodi dengan nasib tidak menentu, ia masih sempat meneruskan hobinya untuk belajar bahasa Italia. Ia mengulang mimpi Italianya yang menjadi kenyataan ketika sedang studi di Moskwa, berkeliling ke berbagai pelosok Italia sebagai tamu kehormatan sejumlah keluarga pada suatu libur musim panas pada 1962.

Perjalanan gratis itu diorganisasikan oleh koran penting Italia, L’Unita, sebagai tanggapan terhadap surat pembaca yang ditulisnya dari Moskwa. Di samping sempat melempar tiga koin di Fontana di Trevi, Roma, ala film dan lagu romantis Three Coins in the Fountain, tempat ratusan turis tiap hari berduyun-duyun datang untuk melempar koin. Ia pun sempat didaftar sebagai anggota kehormatan Pemuda Anti Fasis. Dalam kunjungannya ke kota Grosseto, bagian dari agenda koran L’Unita, tempat partai komunis memenangkan pemilu lokal, dirinya disambut bak tamu agung. Dalam hatinya sempat malu karena merasa dirinya seorang pemuda yang bukan apa-apa. ”Tuan rumah yang menyambutku tahu benar aku bukan tokoh, hanya seorang mahasiswa dari negeri jauh. Benar-benar sambutan luar biasa yang mengharukan. Aku dibawa ke Balai Kota diperkenalkan pada walikota yang tengah rapat, ada kepala polisi dan beberapa pejabat tingkat daerah. Semuanya menyambut dengan antusias dan bukan basa-basi, bahkan aku diantar salah seorang dari pejabat daerah untuk meninjau sebuah proyek, Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, Lardarello. Di kota ini aku tinggal bersama keluarga muda Barzanti Nedo, di via Porto Lorento 47. Rupanya ada pula orang Italia yang mengenakan semacam bakiak kayu di rumah, aku pun mengikuti cara mereka. Mimpi pun berakhir, ia mendapati dirinya masih sebagai tapol. Ia tak pernah menyesal akan keputusan-keputusannya, akan nasib yang menimpanya.

Menurut catatannya urusan korupsi sudah dihadapinya ketika dia baru saja bekerja di Proyek Pabrik Baja Trikora di Cilegon, bagian penerimaan barang-barang dari Uni Soviet. Ketika itu, Ir. Tunky Ariwibowo yang kelak menjadi orang penting Orde Baru juga bekerja ditempat yang sama. ”Pengalaman baru juga kujumpai di Cilegon, korupsi dalam bentuknya yang begitu telanjang tanpa tedeng aling-aling, dibicarakan dengan santai tanpa rasa bersalah atau malu. Di awal 1965 sebagian pekerjaan pengangkutan barang eks Rusia dari Tanjung Priok ke Cilegon diborongkan pada kontraktor yang memiliki armada angkutan cukup besar, Direktorat Angkutan Angkatan Darat (DAAD), bagian dari Angkatan Darat. Proses negosiasi penentuan tarifnya tidaklah kuketahui, di atasku ada pimpinan lebih tinggi, Ir. Lintong Toruan dan diatasnya Ir. Tunky Ariwibowo. Sebagai tenaga pelaksana dan pengawas dilapangan aku tinggal menerima kiriman barang di Cilegon, menghitung kubikasi barang yang sebagian besar berbentuk peti kayu atau tonase yang dibongkar dilapangan, kemudian mengakurkan dengan tagihan kontraktor untuk periode yang sama. Suatu kali terjadi selisih begitu besar, kontraktor mengirim seorang petugas berpangkat letnan satu membawa tagihan Rp. 121.000.000. Menurut perhitunganku, dalam periode tagihan yang sama nilainya hanya Rp. 96.000.000, selisih Rp. 25.000.000.

Utusan dari Jakarta bersikukuh jumlah tagihannya sebesar angka tersebut, sedang aku pun bersikeras dengan catatanku. Karena tidak tercapai kata sepakat, datang atasan sang letnan satu, seorang letnan kolonel. Beberapa kali tidak berhasil rupanya membuat Pak Letkol putus asa, dia datang ke asrama malam hari dan meminta berbicara empat mata. Malam itu dia berterus terang mengatakan sebenarnya dia pun tahu nilai tagihan sebenarnya 96 juta, tetapi sengaja dinaikkan menjadi 121 juta. Antara percaya dan tidak, dalam hati kubayangkan dinaikkan 25 juta, kenaikan lebih dari 25 prosen, untuk siapa saja? Pak Letkol berjanji memberiku sekian, lalu siapa lagi yang diberi janji? Kalau berita acara penerimaan barang kuteken, atasanku akan langsung memberi tanda ’Acc’ dan kuitansi akan dibayar oleh Bagian Keuangan. Sebagai perbandingan gaji pokok sebagai Pegawai Negeri golongan F-2 saat itu Rp. 17.200 ditambah tunjangan beras dan lain-lain bisa mencapai Rp. 40.000. Dengan tegas kukatakan kepada Pak Letkol aku tidak akan meneken Berita Acara yang keliru tersebut. Beberapa kali Pak Letkol mengirim utusan dari Jakarta mendesak, datang dengan memakai pakaian seragam militer dan sekian kali pakai pakaian sipil, tetap kutolak. Akhirnya dia pun menyerah mengubah Berita Acara sesuai data yang benar, saat disodorkan aku bilang, “Kalau angka ini yang Bapak sodorkan, dari dulu sudah saya teken”. Itulah korupsi telanjang tersebut.

Sekalipun studi dan pekerjaannya dibidang teknik, perhatiannya sangat luas pada bidang-bidang lain, ekonomi, politik, sosial, sejarah, sastra, musik, bahasa, ekologi, dengan demikian catatannya berwarna-warni penuh dengan aspek kemanusiaan. Bertahun-tahun ia terlatih menulis catatan harian, selalu memberikan deskripsi dengan teliti dan rinci, mudah bagi kita membayangkannya. Catatan yang dibuatnya akan dapat dijadikan bahan dasar menarik bagi pembuat film yang berminat. Sebagai seorang tapol yang sedang bekerja rodi, ia masih sempat memikirkan soal sejarah Banten yang hilang karena penemuan benda-benda bersejarah ketika dilakukan pengerukan pelabuhan kuno Karangantu tidak didokumentasikan. Ia sempat membuat uraian tentang gagasan Propinsi Banten yang dewasa ini sudah menjadi kenyataan.

Ketika membaca majalah luar negeri (Februari 1970) tentang kekayaan seorang pejabat Orba sebesar 38 juta dollar, ia langsung menghitung. Ongkos seorang tapol ketika itu Rp. 35/hari, jika dijadikan Rp. 100 maka tiap tapol akan makan kenyang bergizi. Dengan kurs Rp. 378 masa itu, maka sang koruptor dapat memelihara 500 budak tapol yang ada di Banten dengan kenyang bergizi selama 554 tahun. Perhitungan sederhana yang pahit ini menggugah renungan kita. Selama lebih dari 30 tahun ini berapa miliar dollar kekayaan negeri ini telah dijarah oleh para penguasa dan pengusaha hitam. Berapa miliar dollar dana yang telah terakumulasi mereka kuasai dengan segala macam cara? Bukankah kini dengan dana tersebut mereka dapat memperbudak jutaan rakyat, 200 juta rakyat Indonesia? Karenanya money politics merupakan ancaman nyata yang telah dan akan terjadi, tidak aneh jika reformasi baru kulit tanpa isi.


(Sebagian pengantar naskah belum terbit Ir Djoko Sri Muljono, Banten Seabad Setelah Max Havelaar, Catatan Seorang Tapol 12 Tahun Dalam Tahanan, Kerja Rodi & Pembuangan, penyunting dan pengantar oleh Harsutejo)
Harsutejo/rumahkiri.net

Jugun Ianfu: Sejarah Perbudakan Seksual Jaman Jepang

Jugun Ianfu atau disebut juga budak seks dalam masa Jepang, kembali diangkat ke permukaan. Dalam putaran pertama kampanye tanggal 10 Nopember 2006 diadakan pemutaran film dan diskusi bertema “Jugun Ianfu: Sejarah Perbudakan Seksual Jaman Jepang Yang Terlupakan”. Jaringan advokasi Jugun Ianfu Indonesia terdiri dari berbagai lembaga non pemerintah seperti Koalisi Perempuan Indonesia untuk Demokrasi, Komnas HAM, dan Lembaga Bantuan Hukum, memulai kampanye advokasi mengangkat masalah ini.

Radio Nederland berbincang-bincang dengan koordinator Jaringan Advokasi Jugun Ianfu Dyah Bintarini, ibu Mardiyem salah seorang eks Jugun Ianfu dan Budi Hartono dari LBH Jogyakarta. Berikut rangkuman perbincangan tersebut.

Perempuan Menjadi Budak Seks
Dalam perang dunia ke II, sekitar 200.000 perempuan Asia dipaksa menjadi budak seks tentara kerajaan Jepang untuk memenuhi kebutuhan seks para serdadunya. Pada Desember tahun 2001 di Den Haag Negeri Belanda, Peradilan Internasional, ICC, memutuskan agar pemerintah Jepang meminta maaf dan memberi ganti rugi kepada para perempuan yang dipaksa menjadi budak seks semasa perang dunia II. Tribunal Internasional Kejahatan Perang Terhadap Perempuan juga menyatakan bahwa Kaisar Jepang Hirohito dan pejabat-pejabat senior Jepang lainnya pada waktu itu bersalah melakukan kejahatan perang.

Pahlawan
Peradilan yang didirikan oleh koalisi kelompok-kelompok perempuan dan aktivis HAM ini merupakan lanjutan peradilan di Tokyo satu tahun sebelumnya, di mana pada waktu itu didengar kesaksian-kesaksian dari para eks Jugun Ianfu. Tetapi keputusan tribunal tidaklah mengikat, dan lebih bersifat seruan moral belaka. Saat ini, lima tahun sudah berlalu tapi belum tampak kemajuan yang berarti. Menurut Dyah Bintarini, generasi muda tidak mengetahui sejarah Jugun Ianfu. Karena itulah sejarah Jugun Ianfu tersebut harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sejarah di Indonesia. Para perempuan eks Jugun Ianfu tidak layak disebut perempuan bernasib sial ataupun pembawa aib. Tetapi patut disebut sebagai pahlawan.

Memperjuangkan Hak
Para perempuan eks Jugun Ianfu saat ini telah memasuki usia senja. Bahkan banyak yang telah tutup usia. Ibu Mardiyem yang diberi nama Momoye oleh tentara Jepang, walaupun sudah memasuki usia senja masih gigih memperjuangkan hak-hak para eks Jugun Ianfu. Ibu Mardiyem: "Sebetulnya saya tahun 1959 itu sudah mulai berontak, ya. Tapi pada siapa saya ini mencari keadilan mau ngadu pada siapa? Saya nggak pernah nganggur untuk kesibukan supaya nggak terlalu ingat masa lalu. Setelah 1993 ada pengacara Jepang di Jakarta, 13 orang mendaftar. Belum ada reaksi dari pemerintah. Setelah ada pengumuman saya baca, langsung ke LBH. LBH saja belum siap. Jadi yang pertama ke LBH itu saya".

Pengakuan dan Permintaan Maaf
Sejumlah LSM perempuan di Jepang yang bersimpati pada perjuangan eks Jugun Ianfu mengundang ibu Mardiyem ke Jepang bahkan ke negara-negara asing lainnya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada masa lalu. Yang terpenting bagi ibu Mardiyem dan para perempuan eks Jugun Ianfu bukan saja masalah ganti rugi, tetapi yang terutama adalah pengakuan salah dan permintaan maaf.
Di Tokyo Jepang, tempat dilaksanakan Peradilan Rakyat Internasional yang mayoritas terdiri dari perempuan, para perempuan eks Jugun Ianfu berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Saya sangking terharunya sampai mencucurkan air mata demikian ibu Mardiyem. "Saya sebelumnya sudah siap mental pokoknya saya kalau ada peluang, saya tetap berjuang terus. Di pundak saya beban berat sekali. Bukan untuk saya sendiri atau kelompok saya sendiri. Yah, Indonesialah". Tutur ibu Mardiyem. Beserta para eks Jugun Ianfu, ibu Mardiyem tidak saja menghadapi lembaga formal seperti pemerintah Jepang dan Indonesia dalam menuntut keadilan dan pengakuan, tapi mereka juga harus menghadapi tatapan sinis, sindiran, dan perlakuan masyarakat yang menghakimi.
Masalah Moral

Dalam keputusan Peradilan Rakyat Internasional antara lain diputuskan mengenai masalah moral, yaitu Kaisar Hirohito dinyatakan bersalah dalam kejahatan seks perang dunia ke II dan harus melakukan permintaan maaf kepada para korban demikian Bpk. Budi Hartono. Tetapi keputusan tersebut tidak mengikat. Bagaimana tentang kemungkinan pembentukan tribunal internasional seperti Tribunal Yugoslavia atau Rwanda?

"Tadinya kita mau mengarah ke sana tapi ada hambatan karena ada batas-batas dalam Peradilan Internasional yaitu harus ada ikut sertanya, dalam hal ini adalah negara. Sementara negara Indonesia sendiri tidak perduli sama sekali terhadap korban kejahatan seks ini. Justru pemerintah Indonesia ini cenderung sangat ketakutan terhadap pemerintah Jepang, karena dikaitkan dengan bantuan yang masuk di Indonesia". Demikian bpk. Budi Hartono dari LBH Jogyakarta.

Sumber:
www.ranesi.nl /Juliani Wahjana dan Nina Nanlohy

Wednesday, December 13, 2006

Digul di Bulan Desember

Kasih sayang guru yang tak terlupakanKasihan ya, anak buaya itu..
Hujan terus menerus. Sungai Digul meluap dan arusnya deras. Pohon-pohon yang tumbang di hulu sungai Digul hanyut terbawa air yang mengalir deras. Kami yang tinggal di kampung B dan kampung C tidak kebanjiran, karena tempat perumahan kami cukup tinggi. Hanya ladang-ladang di tepi sungai Digul digenangi air. Dari rumah teman kami, Bedjo kecil anaknya oom Prawiro, ladang-ladang yang tergenang air itu bisa terlihat jelas. Ladangnya oom Matsari, oom Prawiro, oom Surodirodo, oom Wongsokarno dan lain-lain digenangi air. Air itu melebihi tingginya lanjaran kacang panjang. Biasanya kalau sudah kebanjiran seperti ini hanya tanaman kacang tanah yang bisa terus tumbuh dan bisa dipanen. Yang lainnya tak bisa diharapkan lagi.
Hujan belum juga reda. Pagi-pagi aku yang biasanya malas bangun digugah beberapa kali oleh adikku Rahmah. Rahmah memang rajin dan tak pernah terlambat bangun. Dan aku yang pemalas bangun, tetap ingin tidur. Selimut jarik (kain panjang) yang sudah lusuh dan penuh tambalan itu ditarik adikku Rahmah. “Bangun. Cepat sarapan. Telurnya yang setengah sudah kumakan. Sisanya setengah untuk mas Ribut (Ribut namapanggilanku waktu kecil). Cepat dikit. Nanti telat sekolah seperti kemarin. Untung meneer Said Ali tidak marah. Malu ‘kan?”
Aku segera bangun, cuci muka – tidak berani mandi karena dingin. Ibuku tidak marah, sebab ibuku tahu aku belum sembuh betul dari sakit malaria dan malariaku kronis. Waktu diopname di rumah sakit darah merahku hanya tinggal 40%. Aku tidak tahu cara menghitung darah, aku hanya menirukan apa yang dikatakan dokter Van Alderen ketika itu.
Setelah aku sarapan ibuku segera keluar rumah gerimisan memotong dua pelepah daun pisang raja di samping rumah. Dengan berpayungkan daun pisang itu kami berdua berangkat ke sekolah.
Aku dan adikku Rohmah berjalan hati-hati melewati rumah oom Nanang (Zainal Abidin), guru kami waktu kami sekolah di MES (Malay English School). Dulu ketika ayahku masih natura (natura adalah orang-orang buangan Digul yang tidak mau tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda dan hanya mendapat catu berupa beras, kacang hijau, gula merah dan lain-lain dalam bentuk natura) kami sekolah di sekolah partikelir (swasta) tapi karena sekarang ayahku sudah tunduk kepada gubernemen dan mau bekerja di seberang (tempat tinggal para bb ambtenaar–bb singkatan dari binnenlands bestuur–pegawai pemerintah kolonial Belanda).
Oya, aku teruskan dulu perjalananku dan adikku ke sekolah. Setelah melewati rumah oom Nanang dan semak-semak kecil kami membelok ke kiri menuruni jurang menyeberang jembatan. Kemudian melewati rumah teman kami Rusdi anaknya oom Samingun, rumah oom Sadi, lewat jembatan di bawah pohon Loo, kemudian lewat rumah oom Sumo Taruno yang anaknya adalah mas Bedjo besar, yu Watiyem, Siti Natura gendut (namanya sama dengan anaknya oom Mohammad Amin atau oom Madamin adik yu Khamsinah)–dan terus berjalan melewati rumah Oom Sunaryo ayahnya mbak Sulastri yang sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis, lewat rumah oom Nurati yang pintar melukis, lewat rumah meneer Said Ali guru kami, lewat rumah oom Sugoro (Sugoro yang memberi nama “Irian” utk New Guinea atau Papua), lewat rumah oom Sarpinudji kemudian menyeberang jalan lewat badminton baan dan sampailah di sekolah. Pakaianku dan pakaian adikku basah. Hanya sebagian kecil saja yang kering.
“Het is veel beter dan jullie niet naar school gaan,” kata meneer Said Ali. Rupanya guru kami itu merasa iba dan kasihan melihat kami basah kuyup.
Siapa bilang meneer Said Ali galak, kata hatiku. Meneer Said Ali memang sering memberi hukuman kepada anak-anak yang nakal dan beling. Tapi itu semua karena rasa kasih sayangnya kepada anak-anak didiknya.
Hari itu kami belajar tekun. Suara meneer Sujitno Reno Hadiwirijo kami dengarkan dengan tekun, diselingi suara bunyi hujan di atap sekolah yang terbuat dari seng. Temanku sekelas Mintargo, (anak oom Sarpinudji), Tri Harsono (anak oom Hardjo Prawito, Fadalat (anak oom Agus Sulaiman), Rukmini (anak oom Ibnu), Sukaesih (anak oom Djojo Penatas) dan lain-lain. semuanya belajar dengan rajin. Di kelasku ini tidak ada anak yang beling. Hanya kadang-kadang Mintargo teman akrabku itu suka nyelelek dan membuat teman-teman wanita marah.
Bel jam satu tanda pelajaran usai berbunyi. Dengan tertib kami mengemasi buku pelajaran dan berbaris keluar sekolah.
Mujur hujan sudah reda. Di langit awan putih masih menggantung menandakan masih akan hujan lagi. Temanku mas Supadmoyo (anaknya oom Hardjo Prawito kakaknya Triharsono) berlari-lari menghampiriku. Dia berbisik di telingaku, “nanti kita peraon, ya” (peraon – berperahu – main perahu). “Baklah, aku tunggu ya. Tapi jangan kesorean," jawabku.
Berperahu sambil Main dengan Anak Buaya
Sebenarnya siang itu aku harus pergi mengaji. Tapi karena aku merasa sudah hafal betul yang diajarkan oom Fakih (guru ngaji kami–kalau istilah sekarang biasa disebut ustadz), saya sengaja membolos.
Sekitar jam dua lewat temanku mas Supadmoyo dan adiknya Triharsono bersuit dari kejauhan. Aku segera keluar rumah, membawa Juzama dan pamit kepada emakku. “Mbok, aku pergi ngaji, ya,” kataku. Dan aku mencium tangan emakku yang lembut itu dan bergegas keluar rumah.
Dengan melewati halaman rumah oom Kadirun (rumahnya mas Suroso, yu Niswati, yu Siti Aisah, Sukarno, Sumono dan entah siapa lagi nama adik-adiknya) aku memasuki jalan di depan rumah oom Djojo Tugimin (ahli musik) dan kemudian bersama mas Supadmoyo dan Triharsono kami menyusuri jalan melewati rumah mbah Brahim, rumah oom Agus Sulaiman (rumah yu Suhaindah, mas Sayuti, yu Sutihat, Fadalat, Fatonah) dan langsung menuruni jurang yang menuju ke belik (sumur tempat mandi ) yang dibuat oleh oom Kadirun. Kami sampai di belik yang penuh air dibanjiri air sungai Digul yang banjir. Ya, di dekat belik itu ada sungai kecil atau anak sungai yang bermuara di Sungai Digul. Di tepi sungai kecil itulah perahu ayahku tertambat.
Perahu ayahku namanya “Entong” karena bentuknya memang mirip kepompong atau tempat ulat “bertapa” untuk menjadi kupu-kupu. Tapi walaupun perahu ini seperti kepompong bentuknya, lajunya bukan main dan mendayungnya tidak memakan banyak tenaga. Panjang perahu ini hampir 8 meter dan cukup lebar dan tidak oleng dan tidak mudah terbalik seperti perahu oom Subroto dari Malaria bestrijding yang bercat putih itu.
Rantai perahu segera kulepas dari tambatannya. Dengan Sigap mas Supadmoyo naik di haluan Triharsono naik di tengah dan aku naik dan duduk di bagian belakang (kemudi). Perahu mulai didayung dan aku mengemudikan perahu itu. Sungai kecil yang berkelak-kelok itu kami ikuti alir airnya dan sampailah kami di ladang yang digenangi air sungai Digul, lebar, lebar sekali seperti lautan.
“Jangan ke muara kali! Belok kiri saja ke bawah halaman rumah oom Nayoan. Di situ kita bisa berenang-renang dan kita pakai batang pisang sebagai pelampung,” kata mas Supad. “Dik Ribut harus belajar berenang sampai betul-betul bisa berenang, jangan berenang seperti kodok. Dan kamu Tri (Triharsono–adik mas Supad), ajari Ribut berenang, ya!" kata mas Supad lagi.
Perahu kubelokkan ke kiri menuju halamam rumah oom Nayoan yang kebanjiran. Halaman yang curam saja yang kebanjiran sehingga menyerupai kolam renang yang lebar dan luas, sedang rumahnya berada di tempat yang tinggi dan tidak dicapai air.
Perahu ditambat dan kami semua turun. Kami bertiga telanjang bulat. Pakaian kami taruh di tepian dan kami mulai berenang. Airnya segar dan bening (maksudnya tidak keruh seperti sungai-sungai di Jakarta). Air itu akan mulai butek kalau sungai Digul mulai surut.
Setelah agak lama kami berenang-renang, datang temanku Rusdi (anaknya oom Samingun), Bedjo (anaknya oom Prawiro) dan Sadjad (anaknya oom Wongso Karno). Mereka juga mau berenang-renang.
Walaupun aku berteman akrab dengan Rusdi waktu bermain layangan, tapi kalau berenang aku tidak mau berteman dengan dia karena beberapa kali aku hampir tenggelam berperahu dengan dia. Dia suka sekali membalikkan perahu karena dia memang pintar berenang sedangkan aku sendiri berenangnya masih seperti kodok. Aku lebih senang berperahu dengan mas Supad karena mas Supad mengajariku dengan penuh rasa kasih sayang seorang kakak. Mas Supad, Triharsono dan aku segera naik perahu lagi.
“Kemana?" tanyaku.
“Ke hilir,” jawab mas Supad.
Perahu segera kukemudikan ke hilir menuju ke arah rakit yang tertambat di bawah perengan Standard School Met Nederlands, yaitu satu-satunya sekolah gubernemen setingkat dengan HIS (Holands Inlandsche School) di Jawa. Mas Supad sudah kelas tujuh sedang Triharsono dan aku sendiri masih kelas lima.
Perahu melaju ke hilir di atas perladangan yang kebanjiran melewati rumah-rumah oom Soediyat, mbah Pawiro Sarjono, oom Sadi, oom Samingun, oom Sumo Taruno, oom Sunaryo, oom Nurati. Rumah-rumah itu kelihatan agak jauh dari ladang yang kebanjiran.
Setelah melewati gedung sandiwara bernama “Ontwikeling en Onspaningen” (gedung itu terletak di depan rumah oom Sutan Said Ali (guru kami dan kami menyebutnya dengan bahasa Belanda “meneer Said Ali”) sampailah kami di rakit.
Rakit ini bukan seperti rakit-rakit di sungai-sungai di pulau Jawa. Rakit ini besar dan lebar terbuat dari papan-papan tebal dan balok. Penghubung papan-papan balok ini bukan hanya paku-paku biasa tapi dengan sekrup besi besar-besar dan rakit ini ditambat dengan kabel sebesar pergelangan tanganku.
Di rakit inilah biasanya kalau sebulan sekali kapal Volmalhout, Albatros atau kapal lainnya membawa ransum (beras, kacang hijau, minyak tanah, kelapa dan entah apa lagi) datang dari Jawa, motor boatnya bersandar di rakit ini. Muatan motorboat yang terdiri dari beras, gula, kacang hijau dll. diturunkan di rakit ini dan kemudian oom-oom (orang buangan) mengankutinya ke gudang yang terletak di depan toko Tantui. Toko Tantui adalah satu-satunya toko orang Tionghwa di Digul. Ada juga warung-warung orang buangan misalnya warungnya oom Tambi, oom Yahya Malik Nasution, oom Wongso (pembuat roti) dan warung-warung lainnya – warung-warung kecil yang isi tokonya tidak selengkap toko Tantui.
Air sungai Digul mengalir sangat deras karena banjir. Banyak anak-anak lain yang bermain dan berenang-renang di rakit ini. Tapi kami (mas Supad, Triharsono dan aku tak berani berlama-lama. Kalau ketahuan bapak aku bermain perahu tentu aku dimarahi dan mungkin diikat lagi di bawah pohon jeruk dan digigiti semut ngangrang (semut besar merah) yang pedas sekali gigitannya. Tambatan rantai perahu di rakit kami lepas dan kami mulai mendayung ke arah hulu sungai. Karena arusnya deras kami harus mendayung sekuat tenaga.
Serumpun pohon pandan berduri kami lewati. Seekor anak buaya kuning bertengger di daun pandan yang menjuntai ke air sungai Digul. Anak buaya itu kami hampiri dan kami merasa kasihan kalau-kalau anak buaya itu jatuh ke air tentu akan terbawa arus air yang deras. Triharsono menangkap anak buaya itu dan menaikkannya ke dalam perahu. Anak buaya itu dielus-elus oleh Triharsono dan anak buaya itu diam saja. Sebentar-sebentar lidahnya terjulur keluar. Mungkin dia ingin menetek kata Tri. Mana ada buaya menetek, dia lapar. Kata mas Supad. Dengan membawa anak buaya itu kami terus mudik ke hulu menuju halaman rumah oom Nayoan dan terus ke arah kali bening tempat semula.
Sampai di kali bening aku menoleh ke belakang. Aku terkejut. Induk buaya mengikuti kami.
“Mas Supad, induk buaya itu mengikuti kita,” kataku.
“Biar, biar saja ikut ke rumah kita. Nanti semuanya kita pelihara. Jadi nanti di rumah kita ada kucing, anjing kita si Tupon dan burung nori dan kakatua. Kita beri makan sagu di satu piring agar mereka belajar hidup rukun seperti kita,” jawab mas Supad.
“Ah, tapi aku takut. Induk buaya itu makin dekat, Dia menyentuh dayungku. Kita lepaskan saja anaknya di lanjaran kacang panjang itu,” kataku.
“Mbok, mbok buaya kuning, jangan marah ya. Kita kan bersahabat. Kami sedikit pun tidak menyakiti anakmu, Kami hanya ingin bermain bersama. Mbok buaya juga boleh main ke rumah kami. Nah anakmu kami tenggerkan di lanjaran ini. Tapi hati-hati ya, gendong anakmu pulang.” Kataku.
Nah begitulah. Kami lepaskan anak buaya itu dan segera mengayuh perahu ke arah belik oom Kadirun. Kami segera sampai. Perahu segera kutambatkan di tempat semula dan kami bertiga bergegas pulang ke rumah masing-masing.
Oleh: Tri Ramidjo
Tangerang, Senin Wage 13 Nopember 2006

Monday, November 20, 2006

Tentang Louis Althusser: Catatan Awal Investigasi


Oleh Utche P. Felagonna
Pendahuluan
Selain Nietzsche, tidak ada orang "gila" lain yang memberikan kontribusi penting bagi kebijakan manusia selain Louis Althusser. Dia disebut dua kali dalam Encyclopaedia Britannica sebagai guru seseorang tokoh. Pada tahun 1960-an dan 70-an, masa-masa yang penting bagi perkembangan filsafat di Perancis, dan kebangkitan studi tentang kebudayaan, Louis Althusser telah memberikan kontribusi penting. Tetapi, tidak banyak orang yang mengenal Louis Althusser setelah ketragisan hidup dan kampanye ad hominem terhadap karya dan dirinya yang kemudian mempengaruhi perkembangan pemikiran para pengikutnya. Banyak orang lebih mengenalnya sebagai seseorang yang mencoba memformulasikan Marxisme dengan metode yang dipakai oleh aliran strukturalisme. Sekalipun ia tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang strukturalis sehingga John Lechte menganggapnya seseorang Marxis dengan kecenderungan strukturalis.
Louis Althusser lahir di Aljazair 19 Oktober 1918 dan meninggal di utara Paris pada 23 Oktober 1990. Studi filsafat diperolehnya di École Normale Supérieure di Paris, dimana ia kemudian menjadi profesor filsafat. Ia juga merupakan intelektual yang bergabung dengan Partai Komunis Perancis. Argumen-argumennya kebanyakan adalah tanggapan terhadap serangan-serangan yang ditujukan pada dasar-dasar ideologi partai itu. Termasuk diantaranya empirisisme yang mempengaruhi tradisi sosiologi dan ekonomi Marxis, serta ancaman dari orientasi humanitik dan sosial demokrat yang dipandangnya sebagai sebuah ancaman yang mulai mereduksi kemurnian orientasi partai-partai komunis Eropa. Jadi, Louis Althusser dalam hal itu dapat dikategorikan sebagai seorang filsuf Marxis yang lebih ortodoks, karena mencoba mempertahankan dasar-dasar pemikiran Marx dan melihatnya sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentang masyarakat yang harus mengikuti dasar-dasar ilmiah.
Althusser berada dalam ruang anti humanis (tepatnya humanis teoritis), karena ia menentang pandangan bahwa individu ada sebelum kondisi-kondisi sosial muncul. Individu adalah bentukan dari desakan-desakan kondisi struktur yang ada. Struktur di sini bukan hanya dalam arti tingkatan atau strukturasi, tetapi menunjuk pada kompleksitas bagunan-bangunan (deferensial maupun strukturasi) segala sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan dan keberlangsungan sistem kehidupan. Struktur secara luas menyangkut dunia ide, materi, baik yang tercandra dalam bentuk organisasi atau bahkan pandangan-pandangan hidup, pun ideologi. Individu dengan sendirinya adalah makhluk terberi, bahkan terhadap kesadarannya sendiri merupakan suatu reflektif dari kondidsi objektif struktur yang mengerangkainya.
Masyarakat dalam pendekatan Althusser adalah kesatuan struktural yang tersusun dari tingkatan-tingkatan otonom. Tingkatan-tingkatan tersebut memiliki karakter yang berbeda sebagai sebuah kesatuan dalam struktur, karena setiap unsur dari tingkatan otonom tadi secara jatidiri mencerminkan sebagai ciri keseluruhan. Althusser menolak masyarakat sebagai totalitas sosial yang menampilkan langsung hubungan-hubungan ekonomi. Kecerdasan Althusser terbukti saat ia berusaha menjelaskan bahwa dugaan para intelektual Marxis yang menganggap Marx sangat deterministik ekonomi berarti secara mentah hanya melihat masyarakat sebagai sebuah totalitas sosial yang menampilkan relasi ekonomi. Hasil pandangan seperti ini hanya terjadi jika melihat Marx dalam konteks pengertian ekonomi klasik—yang kerap disandarkan dalam pemahaman atas Hegel.
Diskursus yang dicapai Marx adalah diskursus yang berada diluar kolam cakrawala pemikiran Hegel, meski keduanya terjun dalam term ekonomi. Diskursus Marx memiliki cakrawala kompleksitas dalam dirinya sendiri sehingga jika serta merta ditempelkan dalam cakrawala kompleksitas Hegel sifatnya akan meredup—tidak terungkap seperti yang sesungguhnya—karena harus menggunakan struktur pengetahuan yang berbasis Hegel, menggunakan struktur teoritisi tertentu, epistemologi, metode yang bertolak dari pijakan konsep dan bahasa dalam Hegel. Dengan begitu Marx akan kehilangan originitalitas pemikiran dan keradikalannya. Dengan kalimat lain, melekatkan suatu diskursus pemikiran seseorang dalam kawasan cakrawala pemikiran seseorang yang lain akan terjebak pada konteks keilmuan dan kepentingan epistemologi seseorang yang lain tersebut.
Pembacaan ala Althusser ini merupakan suatu revolusi teoritis dengan melihat apa sebenarnya pusat studi teori-teori Marx itu, dan rupanya ia menemukannya dalam cara produksi. (meski memiliki hasil analisis yang sama seperti melihat Marx sebagai negasi (struktur teoritis) dalam konteks ekonomi klasik Hegel, cara produksi yang ditemukan Althusser menjadi sebuah bagian tingkatan otonom yang menentukan efektifitas kerja bagian-bagian diferendsial lainnya, pembacaan dengan melihat tingkatan-tingkatan otonom lain secara lebih arif ini memberi point lebih terhadap pembacaan Althusser.) Althusser membaca Marx dengan meletakkan Marx sebagai sebuah diskursus yang berada dalam kolam cakarawala pengetahuan dirinya (pikiran-pikiran Marx ) sendiri. Ini menjelaskan mengapa Althusser melakukan upaya pembacaan yang ahistoris, ia memandang ilmu sebagi ilmu bukan sekadar turunan dari kolam diskursus tertentu, dengan kata lain mungkin Althusser ingin menunjukkan bahwa tidak selalu jiwa bertolakan dengan materi, karena mungkin diskursus materi sendiri bukanlah sesuatu yang final, demgan begitu Althusser melihat tidak ada konsep yang utuh yang ada hanya gambaran-gambaran dari pengetahuan kita dalam melihat dan memahami unsur dari tuingkatan-tingkatan ortonomi yang merupakan ciri keseluruhan sebuah struktur semesta.
Cara pikir yang demikian bisa jadi sangat menakutkan, karena manusia harus tahu dan sadar bahwa tidak ada kesadaran yang utuh, selain kesadaran yang muncul dari pilihan-pilihan manusia (otonomi manusia) terhadap gambaran-gambaran konsep yang terpenggal-penggal hasil bentukan struktur semesta yang telah ada sebelum si ego ada, terbangun dalam dirinya sebagai struktur itu sendiri dan dalam diri manusia yang terberi tadi. Berhadapan dengan orang yang sadar atas pilihan-pilihan konsep dari suatu proses reflektif terhadap struktur sekitar dan yang terberi akan membangun sebuah kesadaran pelawanan yang luar biasa jika ini terjadi dalam sebuah gerakan perlawanan terhadap kemapanan, ketidakadilan atau kapitalisme. Karena kesadaran yang terbentuk secara efektif mampu melihat bagaimana sebenarnya struktur bekerja secara langsung memberi pengetahuan tentang kisi-kisi struktur mana yang harus diberangus dulu. Kesadaran atas ideologi, pembacaan terhadap semesta struktur membawa pada kelihaian strategi dan siasat perjuangan yang dashyat. Inilah yang dapat memberi gelombang perlawanan tak henti karena setiap kader akan sangat gesit mencari siasat yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang tahu dan sadar betul bentukan struktur terhadap diri, kelompok dan kelas kepentingannya.
Strukturalime dan Louis Althusser
Tahun 1960-an, strukturalisme berkembang sebagai gerakan intelektual di Perancis. Pokok pandangan aliran ini adalah: dalam setiap aspek kehidupan, pikiran dan tindakan kita sebenarnya diatur oleh struktur dalam (deep structure) yang bisasanya tidak kita sadari. Struktur-struktur dalam yang tidak kita sadari itu dapat digunakan untuk mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia. Strukturalisme menjelaskan dari segi eksistensi dan interaksi struktur yang mendasarinya, yakni sebagai ganti dari agensi, cara berfikir dan memutuskan manusia (Adams, 2003: 285). Paham strukturalisme memandang makna suatu unsur/elemen, tidak ditentukan oleh substansinya tetapi oleh relasi dengan beberapa unsur dalam struktur. Beberapa prinsip strukturalisme banyak diinspirasi oleh Sausurre ketika mencari sifat-sifat yang termanifestasi dalam bahasa. Konsep ini kemudian diradikalkan oleh kelompok pasca-strukturalisme yang menyatakan bahwa makna tidak pernah dapat stabil karena selalu terpengaruh arus permainan jaringan penanda.
Strukturalisme mengkritik penggunaan pendekatan humanisme dan historisisme dalam ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, psikologi dan linguistik. Anehnya, seringkali hal itu dilakukan atas nama Marxisme. Claude Lévi-Strauss, menyebut dirinya seorang Marxis, mengkritik masih adanya prinsip-prinsip dialektika Hegelian pada karya-karya eksistensialisme-humanis dari Sartre, yang menyebabkan debat panjang dirinya dengan Sartre (Kurztweil, 2004: 33-39). Jacques Lacan menulis ulang psikoanalisis Freudian dalam term-term yang digunakan oleh prinsip-prinsip struktural seperti pada linguistik yang diajarkan Saussure, sehingga ia menyatakan: “L’inconscient est structure comme un langage” (Ketidaksadaran dirancang seperti suatu bahasa) (Bowie dalam Strurrock, 2003:202). Michel Foucault secara radikal mempertanyakan asumsi-asumsi bahwa sejarah adalah sesuatu yang progresif serta meragukan apakah yang disebut dengan pengetahuan manusia itu memiliki obyek pengertahuannya yang nyata secara ontologis (Sarup, 2004:101;103). Strukturalisme, karenanya lebih mengutamakan struktur dari pada subyek, dengan mengutamakan penggunaan analisa sinkronik (ahistoris) daripada diakronik, telah membuka kembali perdebatan yang lama dari Marxisme itu sendiri (Wihl, 2000).
Dengan menggunakan ide-ide yang dikembangkan oleh aliran strukturalisme, Louis Althusser—terutama dengan metode pembacaan simtomatis—menafsirkan kembali Marx. Louis Althusser menolak semua intrepretasi pikiran Marx yang dianggap humanistik-teoritis dan ekonomi-deterministik dengan menyatakan bahwa dalam karir intelektual Marx terdapat keterputusan epistemologis yang mengubah orientasi intelektual Marx. Louis Althusser adalah salah satu dari beberapa filsuf yang menjadi anggota PCF, tetapi keputusannya untuk bergabung dengan partai itu telah mengakibatkan dominasi yang kuat dari partai terhadap karya-karya dan kehidupannya. Apapun yang dikatakan atau ditulisnya dianggap dan harus mengikuti garis kebijakan partai. Tetapi ia tetap menjadi anggota partai sepanjang masa hidupnya.
Louis Althusser baru menonjol dalam kalangan intelektual Perancis setelah tahun 1965, setelah dua karyanya, For Marx dan Reading Capital diterbitkan. Sejak saat itu, ia bersama dengan Roger Garaudy menjadi dua orang intelektual PCF yang terkemuka (Kurztweil, 2004, 50-52). Pemikiran Louis Althusser yang cukup terkenal adalah teorinya mengenai ideology state aparatus dan repressive state aparatus yang terdapat dalam negara kapitalistik sebagai analisa tentang bagaimana sebuah mekanisme reproduksi kondisi-kondisi produksi berlangsung. Analisis wacana yang dikembangkan dari pandangan-pandangan Althusser masih bertahan sampai saat ini, yakni analisis wacana yang menggunakan metode symtomatik terhadap teks. Metode itu digunakan untuk mengetahui kandungan ideologi apa yang berada di belakang sebuah teks atau wacana. Teori ideologi Althusser tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh Pecheux dan mempengarhui pandangan-pandangan tentang komunikasi dari John Fiske (Faruk, 2002); (Fiske, 2004:240-6); (Macdonell, 2005).
Althusser menyerang penggunaan dialektika Hegel dan bentuk-bentuk lain dari Marxisme humanis, ia mengajukan Marxisme sebagai sebuah ilmu pengetahuan (science) yang tidak memiliki dasar-dasar etika. Kritiknya dibentuk oleh sebuah pendirian bahwa subyektifitas manusia, bersama dengan persoalan-persoalan filsafat dihasilkan oleh dualisme subyek-obyek adalah ilusi. Marxisme Althusserian menjadi trend pada universitas-universitas diluar Perancis, tetapi para pendukungnya serta gaya mereka yang penuh paradoks juga menyebabkan timbulnya aliran Marxisme Analitis di akhir tahun 1970-an (Torrance, 2000; 531).
Posisi Louis Althusser dalam Marxisme abad ke-20 dapat ditempat di antara dua intrepretasi tentang pemikiran Marx yang sepintas lalu bentuknya bertentangan, sehingga menolak yang satu dengan sendirinya berarti menerima yang lain. Dua intrepretasi itu adalah humanisme dan ekonomisme. Humanisme keliru dalam menerjemahkan konsep Marx dan Lenin tentang sejarah. Bagi pengaut humanisme manusia adalah subyek sejarah, seperti Hegel meletakan roh. Padahal, materialisme hanya memperhatikan hubungan-hubungan sosial dan manusia itu sebagai “tempat berpijak” bagi hubungan-hubungan sosial. Intrepretasi humanisme ini mendapat angin dalam kerangka gelombang anti-stalinisme sesudah kongres Partai Komunis Uni Soviet ke-20, khususnya di Prancis yang didominasi oleh aliran eksistensialisme dan antroposentrisme.
Louis Althusser mengaitkan anti-stalinisme dengan anti-humanisme. Baginya humanisme teoritis sebagai humanisme yang tidak bersifat etis—yang menempatkan manusia sebagai pusat sejarah dan pusat realitas—tidak mungkin beranjak dari pemikiran Marx. Louis Althusser juga menolak ekonomisme atau pandangan yang menganggap hubungan-hubungan sosial hanya mencerminkan proses-proses ekonomis—ekonomi menentukan segala-galanya. Ekonomisme mengabaikan perjuangan kelas dan pertentangan-pertentangan dalam hubungan-hubungan produksi.
Menurut Bertens (1985; 432-433) Louis Althusser bertujuan memberikan suatu kerangka tepretis yang kokoh kepada ajaran Marx. Ia ingin merumuskan kembali filsfat materialistis ini sedemikian rupa sehingga menampakkan relevansi teoritis dan politisnya. Langkah yang dilakukannya antara lain adalah membaca kembali karya-karya Marx, Engels dan Lenin untuk menggali dan menemukan kekuatan teoritisnya sebagai ilmu pengetahuan ilmiah. Menurut Althusser, pada pemikiran Marx, struktur-struktur politik dan ideologis suatu masyarakat tidak boleh dianggap hanya mencerminkan proses-proses ekonomis. Struktur-struktur ideologis dan politik mempunyai suatu otonomi tertentu yang sifatnya relatif. Dengan pengertian bahwa proses-proses ekonomi juga bisa ditentukan oleh politik dan ideologis, pada akhirnya harus dimengerti berdasarkan struktur-struktur hubungan-hubungan produksi.
Hubungan Louis Althusser dengan strukturalisme agak aneh. Dalam Essay on Self-Critism ia menolak disebut sebagai seorang strukturalis. Seperti juga yang disampaikannya dalam pendahuluan buku Reading Capital edisi kedua. Ia mengatakan bahwa buku-bukunya tidak memiliki hubungan dengan “ideologi strukturalis”. Ian Craib (1992:186) melihat penolakan Althusser itu sebagai sesuatu yang politis sifatnya. Namun demikian, pengaruhnya akan terlihat saat menelaah karya-karyanya. Sementara itu Bertens (1985: 438) mengambil kesimpulan bahwa sekalipun Althusser menyangkal dirinya sebagai seorang strukturalis, bukan dirinya orang paling tepat untuk menilai pemikirannya. Tetapi, ada dasarnya juga untuk mengatakan Althusser sebagai seorang strukturalis Selain karya-karyanya dipenuhi dengan terminologi yang dekat dengan strukturalisme, ia juga menganut pendirian-pendirian yang khas strukturalis, seperti anti-humanisme dan anti-historisisme.
Althusser dan Kajian Media
Beberapa pemikiran Louis Althusser dapat digunakan untuk menjelaskan peranan media dalam masyarakat. Studi ini sepenuhnya belum selesai, karena pemikiran Louis Althusser sendiri menurut saya sangatlah rumpil (complex), sehingga tulisan ini bisa dikatakan sebagai catatan awal yang digunakan untuk penyelidikan lanjutan mengenai hal itu. Tentunya, juga dengan mempelajari pemikiran-pemikiran Barthes tentang semiologi dan Foucoult. Kajian Althusser tentang Ideologi—ISA dan RSA—merupakan sumber yang paling banyak digunakan dalam cultural studies dan kajian media. Terutama konsep-konsep seperti interpelation, overdetermination, hailing dan lain-lain. Dalam hubungannya dengan kajian media, pemikiran althusser tidak dapat dilepaskan dari pemikiran-pemikirannya yang kemudian menjadi khas strukturalisme Marxisme.
Ada dua konsep Marxisme struktural yang penting. Pertama, penolakan Louis Althusser terhadap bentuk hubungan antara basis dan supra-struktur klasik yang deterministik, serta pandangannya yang melihat media dengan tegas sebagai alat produksi yang menciptakan kesadaran palsu. Dalam Marxisme klasik, basis ekonomi dalam masyarakat menciptakan supra-struktur (politik-ideologi dll)—hubungan-hubungan ekonomi menghasilkan fenomena-fenomena sosial, budaya dan politik yang meliputi semua hal termasuk diantaranya ideologi, kesadaran politik hingga budaya yang berhubungan dengan media. Marxisme strukturalis Althusser menolak pandangan klasik tersebut. Ia berargumen bahwa hubungan basis dan supra-struktur itu bersifat otonomi relatif, dan terdapat kesalinghubungan yang saling mempengaruhi antara supra-struktur dan basis. Sekalipun begitu ekonomi masih mempunyai pengaruhi ‘in the last instance’.
Marxisme Althusser juga menjadi sangat struktural, karena ia menolak konsep essensialisme[5] yang menyebabkan pandangan kaum Marxis melihat hubungan-hubungan ekonomi sebagai satu-satunya esensi dalam masyarakat dan melihat perkembangan sosial masyarakat seolah-olah ekspresi manusia secara alamiah. Dalam pandangan Louis Althusser tiap-tiap pandangan subyektif manusia dibangun oleh ideologi—sebagai faktor yang menjembatani manusia dan alam sekitarnya. Selanjutnya, manusia dan kategori-kategorinya terdapat dalam struktur yang kompleks yang telah ada sebelumnya, seperti bahasa, pendidikan dan dalam konteks ini, budaya media.
Berbeda dengan Marxisme klasik yang sangat ekonomi deterministik, budaya, dilihat sebagai ekspresi dari hubungan produksi yang terjadi. Budaya adalah supra-struktur, sehingga media-massa komersil, koran, majalah, televisi isinya dipandang sebagai cerminan dari hubungan-hubungan ekonomi yang eksploitatif, yang melatarinya. Mengikuti pandangan Louis Althusser, media-massa dilihat sebagai sebuah praktik ideologis yang hubungannya relatif otonom dengan hubungan-hubungan ekonomi yang ada padanya. Dengan begitu sangat memungkinkan untuk menghasilkan nilai-nilai yang berbeda dan berlawanan. Dalam ekplorasi lebih lanjut, media dapat pula menciptakan nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang konsekuensi politiknya seperti yang dapat kita lihat saat ini: medialah yang mengatur dan mengontrol masyarakat. Dengan demikian, wajar jika Green Day (musisi band-ed) tidak ingin menjadi bagian dari masyarakat Amerika yang idiot, dimana masyarakatnya sangat menggagumi media massa, sehingga tidak sadar jika seluruh bangsa itu telah dikontrol oleh media.
Sebelum Althusser, kaum Marxis lainnya juga telah memperhatikan media sebagai sebuah bagian dari alat produksi yang khusus menciptkan kesadaran palsu bagi kelas-kelas pekerja. Kajian Adorno dan Horkheimer yang melihat media massa sebagai bagian dari industri kebudayaan atau budaya industri itu sendiri yang memproduksi “pembodohan massal”]. Karakteristik ini kemudian menyadari bahwa media massa menjadi alat untuk mengembangkan nilai-nilai yang berlaku dalam kelas yang berkuasa di samping institusi lain, seperti pendidikan, agama, polisi bahkan sistem politik.
Dalam kajian mengenai institusi-intitusi di luar media massa, pandangan penting dari Louis Althusser adalah tentang ideologi dan aparatusnya. Althusser menolak faham bahwa ideologi adalah kesadaran palsu, sekalipun ia menyadari juga bahwa manusia berhubungan dengan alam sekitarnya melalui ideologi, yang juga memiliki kekuatan yang sama untuk menjadi faktor yang menentukan bangunan masyarakat, sebagaimana basis ekonomi. Ideologi menurut Althusser adalah: I D E O L O G Y (idéologie). Ideology is the 'lived' relation between men and their world, or a reflected form of this unconscious relation, for instance a 'philosophy' (q.v.), etc. It is distinguished from a science not by its falsity, for it can be coherent and logical (for instance, theology), but by the fact that the practico-social predominates in it over the theoretical, over knowledge. Historically, it precedes the science that is produced by making an epistemological break (q.v.) with it, but it survives alongside science as an essential element of every social formation (q.v.), including a socialist and even a communist society. Dengan menempatkan ideology pada tempat yang lebih utama daripada alat-alat produksi, Althusser membuka pembacaan yang bersifat oposisional terhadap media massa sebagamana juga membuka jalan bagi beragam cara pandang dalam media. Seperti juga apa yang dikatakan Marx, dalam ideologi, manusia sadar akan status sosialnya dan berjuang untuk membebaskannya. Sehingga dengan “membaca” dan “melihat” media, maka seseorang akan sadar dengan status sosialnya, serta melalui produksi media orang juga dapat melakukan perlawanan terhadap dominasi kelas yang berkuasa.
Di samping itu, ideologi juga memiliki peran dalam menciptakan individu menjadi subyek-subyek. Individu mendapatkan status/identitas sosialnya terutama melalui aparatus ideologis negara, salah satunya adalah media. Dalam diskursus cultural studies, pandangan Althusser tentang ideologi setidaknya dapat dipahami dalam lima konsep. Pertama, ideologi mengacu pada pelembagaan gagasan secara sistematis yang diartikulaiskan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Kedua, ideologi dipandang sebagai upaya penopengan dan penyembunyian realitas tertentu. Ia berfungsi untuk menghadirkan citra-citra tertentu yang telah diseleksi, direduksi dan didistorsi yang kemudian memproduksi apa yang disebut oleh Marx dan Engels sebagai “kesadaran palsu”. Ketiga, defenisi ideologi sedikit banyaknya terkait dengan defenisi kedua, yaitu ideologi yang terwujud/ mengejewantah dalam bentuk-bentuk ideologis. Ideologi dimanfaatkan untuk menarik dan memikat perhatian massa pada citra-citra media untuk kemudian menarik massa untuk berpihak pada ideologi yang memproduksi bentu-bentuk itu. Keempat, ideologi sebagai pelembagaan ide sekaligus sebagai praktek materil. Konsep ini dikemukakan oleh louis Althusser dalam Ideology and Ideological Apparatus. Maksudnya, ideologi dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada ide-ide tertentu tentang kehidupan sehari-hari. Althusser menandaskan bahwa aktivitas-aktivitas yang lazim kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari sejatinya memproduksi akibat-akibat yang mengikat dan melekatkan kita pada suatu tatanan sosial yang mapan, sebuah tatanan yang senjang dan tidak adil. Aktivitas-aktivitas itu, mengelabui massa dari realitas kesenjangan dan ketidakadilan itu untuk sementara waktu. Karenanya ideologi juga berfungsi untuk mereproduksi kondisi-kondisi dan relasi sosial strategis yang penting demi tujuan tertentu, terutama bagi kepentingan ekonomi dan kuasa ekonomi kapitalisme. Kelima, ideologi yang difungsikan pada level konotasi (tersirat), makna sekunder, makna yang seringkali tidak disadari yang terdapat pada teks dan praktik kehidupan. Defenisi ini dikemukakan oleh Roland Barthes, seorang teoritisi budaya Perancis. Ideologi (mitos) menurut Barthes mengarahkan kita pada perjuangan hegemonik untuk membatasi makna konotatif, menetapkan konotasi-konotasi partikular, dan memproduksi konotasi-konotasi baru. Ideologi selalu berupa untuk menjadikan apa yang faktanya partikular menjadi universal dan legitimate dan juga upaya untuk menaturalkan hal-hal yang pada dasarnya kultural.
rumahkiri.net