Monday, November 20, 2006

Tentang Louis Althusser: Catatan Awal Investigasi


Oleh Utche P. Felagonna
Pendahuluan
Selain Nietzsche, tidak ada orang "gila" lain yang memberikan kontribusi penting bagi kebijakan manusia selain Louis Althusser. Dia disebut dua kali dalam Encyclopaedia Britannica sebagai guru seseorang tokoh. Pada tahun 1960-an dan 70-an, masa-masa yang penting bagi perkembangan filsafat di Perancis, dan kebangkitan studi tentang kebudayaan, Louis Althusser telah memberikan kontribusi penting. Tetapi, tidak banyak orang yang mengenal Louis Althusser setelah ketragisan hidup dan kampanye ad hominem terhadap karya dan dirinya yang kemudian mempengaruhi perkembangan pemikiran para pengikutnya. Banyak orang lebih mengenalnya sebagai seseorang yang mencoba memformulasikan Marxisme dengan metode yang dipakai oleh aliran strukturalisme. Sekalipun ia tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang strukturalis sehingga John Lechte menganggapnya seseorang Marxis dengan kecenderungan strukturalis.
Louis Althusser lahir di Aljazair 19 Oktober 1918 dan meninggal di utara Paris pada 23 Oktober 1990. Studi filsafat diperolehnya di École Normale Supérieure di Paris, dimana ia kemudian menjadi profesor filsafat. Ia juga merupakan intelektual yang bergabung dengan Partai Komunis Perancis. Argumen-argumennya kebanyakan adalah tanggapan terhadap serangan-serangan yang ditujukan pada dasar-dasar ideologi partai itu. Termasuk diantaranya empirisisme yang mempengaruhi tradisi sosiologi dan ekonomi Marxis, serta ancaman dari orientasi humanitik dan sosial demokrat yang dipandangnya sebagai sebuah ancaman yang mulai mereduksi kemurnian orientasi partai-partai komunis Eropa. Jadi, Louis Althusser dalam hal itu dapat dikategorikan sebagai seorang filsuf Marxis yang lebih ortodoks, karena mencoba mempertahankan dasar-dasar pemikiran Marx dan melihatnya sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentang masyarakat yang harus mengikuti dasar-dasar ilmiah.
Althusser berada dalam ruang anti humanis (tepatnya humanis teoritis), karena ia menentang pandangan bahwa individu ada sebelum kondisi-kondisi sosial muncul. Individu adalah bentukan dari desakan-desakan kondisi struktur yang ada. Struktur di sini bukan hanya dalam arti tingkatan atau strukturasi, tetapi menunjuk pada kompleksitas bagunan-bangunan (deferensial maupun strukturasi) segala sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan dan keberlangsungan sistem kehidupan. Struktur secara luas menyangkut dunia ide, materi, baik yang tercandra dalam bentuk organisasi atau bahkan pandangan-pandangan hidup, pun ideologi. Individu dengan sendirinya adalah makhluk terberi, bahkan terhadap kesadarannya sendiri merupakan suatu reflektif dari kondidsi objektif struktur yang mengerangkainya.
Masyarakat dalam pendekatan Althusser adalah kesatuan struktural yang tersusun dari tingkatan-tingkatan otonom. Tingkatan-tingkatan tersebut memiliki karakter yang berbeda sebagai sebuah kesatuan dalam struktur, karena setiap unsur dari tingkatan otonom tadi secara jatidiri mencerminkan sebagai ciri keseluruhan. Althusser menolak masyarakat sebagai totalitas sosial yang menampilkan langsung hubungan-hubungan ekonomi. Kecerdasan Althusser terbukti saat ia berusaha menjelaskan bahwa dugaan para intelektual Marxis yang menganggap Marx sangat deterministik ekonomi berarti secara mentah hanya melihat masyarakat sebagai sebuah totalitas sosial yang menampilkan relasi ekonomi. Hasil pandangan seperti ini hanya terjadi jika melihat Marx dalam konteks pengertian ekonomi klasik—yang kerap disandarkan dalam pemahaman atas Hegel.
Diskursus yang dicapai Marx adalah diskursus yang berada diluar kolam cakrawala pemikiran Hegel, meski keduanya terjun dalam term ekonomi. Diskursus Marx memiliki cakrawala kompleksitas dalam dirinya sendiri sehingga jika serta merta ditempelkan dalam cakrawala kompleksitas Hegel sifatnya akan meredup—tidak terungkap seperti yang sesungguhnya—karena harus menggunakan struktur pengetahuan yang berbasis Hegel, menggunakan struktur teoritisi tertentu, epistemologi, metode yang bertolak dari pijakan konsep dan bahasa dalam Hegel. Dengan begitu Marx akan kehilangan originitalitas pemikiran dan keradikalannya. Dengan kalimat lain, melekatkan suatu diskursus pemikiran seseorang dalam kawasan cakrawala pemikiran seseorang yang lain akan terjebak pada konteks keilmuan dan kepentingan epistemologi seseorang yang lain tersebut.
Pembacaan ala Althusser ini merupakan suatu revolusi teoritis dengan melihat apa sebenarnya pusat studi teori-teori Marx itu, dan rupanya ia menemukannya dalam cara produksi. (meski memiliki hasil analisis yang sama seperti melihat Marx sebagai negasi (struktur teoritis) dalam konteks ekonomi klasik Hegel, cara produksi yang ditemukan Althusser menjadi sebuah bagian tingkatan otonom yang menentukan efektifitas kerja bagian-bagian diferendsial lainnya, pembacaan dengan melihat tingkatan-tingkatan otonom lain secara lebih arif ini memberi point lebih terhadap pembacaan Althusser.) Althusser membaca Marx dengan meletakkan Marx sebagai sebuah diskursus yang berada dalam kolam cakarawala pengetahuan dirinya (pikiran-pikiran Marx ) sendiri. Ini menjelaskan mengapa Althusser melakukan upaya pembacaan yang ahistoris, ia memandang ilmu sebagi ilmu bukan sekadar turunan dari kolam diskursus tertentu, dengan kata lain mungkin Althusser ingin menunjukkan bahwa tidak selalu jiwa bertolakan dengan materi, karena mungkin diskursus materi sendiri bukanlah sesuatu yang final, demgan begitu Althusser melihat tidak ada konsep yang utuh yang ada hanya gambaran-gambaran dari pengetahuan kita dalam melihat dan memahami unsur dari tuingkatan-tingkatan ortonomi yang merupakan ciri keseluruhan sebuah struktur semesta.
Cara pikir yang demikian bisa jadi sangat menakutkan, karena manusia harus tahu dan sadar bahwa tidak ada kesadaran yang utuh, selain kesadaran yang muncul dari pilihan-pilihan manusia (otonomi manusia) terhadap gambaran-gambaran konsep yang terpenggal-penggal hasil bentukan struktur semesta yang telah ada sebelum si ego ada, terbangun dalam dirinya sebagai struktur itu sendiri dan dalam diri manusia yang terberi tadi. Berhadapan dengan orang yang sadar atas pilihan-pilihan konsep dari suatu proses reflektif terhadap struktur sekitar dan yang terberi akan membangun sebuah kesadaran pelawanan yang luar biasa jika ini terjadi dalam sebuah gerakan perlawanan terhadap kemapanan, ketidakadilan atau kapitalisme. Karena kesadaran yang terbentuk secara efektif mampu melihat bagaimana sebenarnya struktur bekerja secara langsung memberi pengetahuan tentang kisi-kisi struktur mana yang harus diberangus dulu. Kesadaran atas ideologi, pembacaan terhadap semesta struktur membawa pada kelihaian strategi dan siasat perjuangan yang dashyat. Inilah yang dapat memberi gelombang perlawanan tak henti karena setiap kader akan sangat gesit mencari siasat yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang tahu dan sadar betul bentukan struktur terhadap diri, kelompok dan kelas kepentingannya.
Strukturalime dan Louis Althusser
Tahun 1960-an, strukturalisme berkembang sebagai gerakan intelektual di Perancis. Pokok pandangan aliran ini adalah: dalam setiap aspek kehidupan, pikiran dan tindakan kita sebenarnya diatur oleh struktur dalam (deep structure) yang bisasanya tidak kita sadari. Struktur-struktur dalam yang tidak kita sadari itu dapat digunakan untuk mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia. Strukturalisme menjelaskan dari segi eksistensi dan interaksi struktur yang mendasarinya, yakni sebagai ganti dari agensi, cara berfikir dan memutuskan manusia (Adams, 2003: 285). Paham strukturalisme memandang makna suatu unsur/elemen, tidak ditentukan oleh substansinya tetapi oleh relasi dengan beberapa unsur dalam struktur. Beberapa prinsip strukturalisme banyak diinspirasi oleh Sausurre ketika mencari sifat-sifat yang termanifestasi dalam bahasa. Konsep ini kemudian diradikalkan oleh kelompok pasca-strukturalisme yang menyatakan bahwa makna tidak pernah dapat stabil karena selalu terpengaruh arus permainan jaringan penanda.
Strukturalisme mengkritik penggunaan pendekatan humanisme dan historisisme dalam ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, psikologi dan linguistik. Anehnya, seringkali hal itu dilakukan atas nama Marxisme. Claude Lévi-Strauss, menyebut dirinya seorang Marxis, mengkritik masih adanya prinsip-prinsip dialektika Hegelian pada karya-karya eksistensialisme-humanis dari Sartre, yang menyebabkan debat panjang dirinya dengan Sartre (Kurztweil, 2004: 33-39). Jacques Lacan menulis ulang psikoanalisis Freudian dalam term-term yang digunakan oleh prinsip-prinsip struktural seperti pada linguistik yang diajarkan Saussure, sehingga ia menyatakan: “L’inconscient est structure comme un langage” (Ketidaksadaran dirancang seperti suatu bahasa) (Bowie dalam Strurrock, 2003:202). Michel Foucault secara radikal mempertanyakan asumsi-asumsi bahwa sejarah adalah sesuatu yang progresif serta meragukan apakah yang disebut dengan pengetahuan manusia itu memiliki obyek pengertahuannya yang nyata secara ontologis (Sarup, 2004:101;103). Strukturalisme, karenanya lebih mengutamakan struktur dari pada subyek, dengan mengutamakan penggunaan analisa sinkronik (ahistoris) daripada diakronik, telah membuka kembali perdebatan yang lama dari Marxisme itu sendiri (Wihl, 2000).
Dengan menggunakan ide-ide yang dikembangkan oleh aliran strukturalisme, Louis Althusser—terutama dengan metode pembacaan simtomatis—menafsirkan kembali Marx. Louis Althusser menolak semua intrepretasi pikiran Marx yang dianggap humanistik-teoritis dan ekonomi-deterministik dengan menyatakan bahwa dalam karir intelektual Marx terdapat keterputusan epistemologis yang mengubah orientasi intelektual Marx. Louis Althusser adalah salah satu dari beberapa filsuf yang menjadi anggota PCF, tetapi keputusannya untuk bergabung dengan partai itu telah mengakibatkan dominasi yang kuat dari partai terhadap karya-karya dan kehidupannya. Apapun yang dikatakan atau ditulisnya dianggap dan harus mengikuti garis kebijakan partai. Tetapi ia tetap menjadi anggota partai sepanjang masa hidupnya.
Louis Althusser baru menonjol dalam kalangan intelektual Perancis setelah tahun 1965, setelah dua karyanya, For Marx dan Reading Capital diterbitkan. Sejak saat itu, ia bersama dengan Roger Garaudy menjadi dua orang intelektual PCF yang terkemuka (Kurztweil, 2004, 50-52). Pemikiran Louis Althusser yang cukup terkenal adalah teorinya mengenai ideology state aparatus dan repressive state aparatus yang terdapat dalam negara kapitalistik sebagai analisa tentang bagaimana sebuah mekanisme reproduksi kondisi-kondisi produksi berlangsung. Analisis wacana yang dikembangkan dari pandangan-pandangan Althusser masih bertahan sampai saat ini, yakni analisis wacana yang menggunakan metode symtomatik terhadap teks. Metode itu digunakan untuk mengetahui kandungan ideologi apa yang berada di belakang sebuah teks atau wacana. Teori ideologi Althusser tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh Pecheux dan mempengarhui pandangan-pandangan tentang komunikasi dari John Fiske (Faruk, 2002); (Fiske, 2004:240-6); (Macdonell, 2005).
Althusser menyerang penggunaan dialektika Hegel dan bentuk-bentuk lain dari Marxisme humanis, ia mengajukan Marxisme sebagai sebuah ilmu pengetahuan (science) yang tidak memiliki dasar-dasar etika. Kritiknya dibentuk oleh sebuah pendirian bahwa subyektifitas manusia, bersama dengan persoalan-persoalan filsafat dihasilkan oleh dualisme subyek-obyek adalah ilusi. Marxisme Althusserian menjadi trend pada universitas-universitas diluar Perancis, tetapi para pendukungnya serta gaya mereka yang penuh paradoks juga menyebabkan timbulnya aliran Marxisme Analitis di akhir tahun 1970-an (Torrance, 2000; 531).
Posisi Louis Althusser dalam Marxisme abad ke-20 dapat ditempat di antara dua intrepretasi tentang pemikiran Marx yang sepintas lalu bentuknya bertentangan, sehingga menolak yang satu dengan sendirinya berarti menerima yang lain. Dua intrepretasi itu adalah humanisme dan ekonomisme. Humanisme keliru dalam menerjemahkan konsep Marx dan Lenin tentang sejarah. Bagi pengaut humanisme manusia adalah subyek sejarah, seperti Hegel meletakan roh. Padahal, materialisme hanya memperhatikan hubungan-hubungan sosial dan manusia itu sebagai “tempat berpijak” bagi hubungan-hubungan sosial. Intrepretasi humanisme ini mendapat angin dalam kerangka gelombang anti-stalinisme sesudah kongres Partai Komunis Uni Soviet ke-20, khususnya di Prancis yang didominasi oleh aliran eksistensialisme dan antroposentrisme.
Louis Althusser mengaitkan anti-stalinisme dengan anti-humanisme. Baginya humanisme teoritis sebagai humanisme yang tidak bersifat etis—yang menempatkan manusia sebagai pusat sejarah dan pusat realitas—tidak mungkin beranjak dari pemikiran Marx. Louis Althusser juga menolak ekonomisme atau pandangan yang menganggap hubungan-hubungan sosial hanya mencerminkan proses-proses ekonomis—ekonomi menentukan segala-galanya. Ekonomisme mengabaikan perjuangan kelas dan pertentangan-pertentangan dalam hubungan-hubungan produksi.
Menurut Bertens (1985; 432-433) Louis Althusser bertujuan memberikan suatu kerangka tepretis yang kokoh kepada ajaran Marx. Ia ingin merumuskan kembali filsfat materialistis ini sedemikian rupa sehingga menampakkan relevansi teoritis dan politisnya. Langkah yang dilakukannya antara lain adalah membaca kembali karya-karya Marx, Engels dan Lenin untuk menggali dan menemukan kekuatan teoritisnya sebagai ilmu pengetahuan ilmiah. Menurut Althusser, pada pemikiran Marx, struktur-struktur politik dan ideologis suatu masyarakat tidak boleh dianggap hanya mencerminkan proses-proses ekonomis. Struktur-struktur ideologis dan politik mempunyai suatu otonomi tertentu yang sifatnya relatif. Dengan pengertian bahwa proses-proses ekonomi juga bisa ditentukan oleh politik dan ideologis, pada akhirnya harus dimengerti berdasarkan struktur-struktur hubungan-hubungan produksi.
Hubungan Louis Althusser dengan strukturalisme agak aneh. Dalam Essay on Self-Critism ia menolak disebut sebagai seorang strukturalis. Seperti juga yang disampaikannya dalam pendahuluan buku Reading Capital edisi kedua. Ia mengatakan bahwa buku-bukunya tidak memiliki hubungan dengan “ideologi strukturalis”. Ian Craib (1992:186) melihat penolakan Althusser itu sebagai sesuatu yang politis sifatnya. Namun demikian, pengaruhnya akan terlihat saat menelaah karya-karyanya. Sementara itu Bertens (1985: 438) mengambil kesimpulan bahwa sekalipun Althusser menyangkal dirinya sebagai seorang strukturalis, bukan dirinya orang paling tepat untuk menilai pemikirannya. Tetapi, ada dasarnya juga untuk mengatakan Althusser sebagai seorang strukturalis Selain karya-karyanya dipenuhi dengan terminologi yang dekat dengan strukturalisme, ia juga menganut pendirian-pendirian yang khas strukturalis, seperti anti-humanisme dan anti-historisisme.
Althusser dan Kajian Media
Beberapa pemikiran Louis Althusser dapat digunakan untuk menjelaskan peranan media dalam masyarakat. Studi ini sepenuhnya belum selesai, karena pemikiran Louis Althusser sendiri menurut saya sangatlah rumpil (complex), sehingga tulisan ini bisa dikatakan sebagai catatan awal yang digunakan untuk penyelidikan lanjutan mengenai hal itu. Tentunya, juga dengan mempelajari pemikiran-pemikiran Barthes tentang semiologi dan Foucoult. Kajian Althusser tentang Ideologi—ISA dan RSA—merupakan sumber yang paling banyak digunakan dalam cultural studies dan kajian media. Terutama konsep-konsep seperti interpelation, overdetermination, hailing dan lain-lain. Dalam hubungannya dengan kajian media, pemikiran althusser tidak dapat dilepaskan dari pemikiran-pemikirannya yang kemudian menjadi khas strukturalisme Marxisme.
Ada dua konsep Marxisme struktural yang penting. Pertama, penolakan Louis Althusser terhadap bentuk hubungan antara basis dan supra-struktur klasik yang deterministik, serta pandangannya yang melihat media dengan tegas sebagai alat produksi yang menciptakan kesadaran palsu. Dalam Marxisme klasik, basis ekonomi dalam masyarakat menciptakan supra-struktur (politik-ideologi dll)—hubungan-hubungan ekonomi menghasilkan fenomena-fenomena sosial, budaya dan politik yang meliputi semua hal termasuk diantaranya ideologi, kesadaran politik hingga budaya yang berhubungan dengan media. Marxisme strukturalis Althusser menolak pandangan klasik tersebut. Ia berargumen bahwa hubungan basis dan supra-struktur itu bersifat otonomi relatif, dan terdapat kesalinghubungan yang saling mempengaruhi antara supra-struktur dan basis. Sekalipun begitu ekonomi masih mempunyai pengaruhi ‘in the last instance’.
Marxisme Althusser juga menjadi sangat struktural, karena ia menolak konsep essensialisme[5] yang menyebabkan pandangan kaum Marxis melihat hubungan-hubungan ekonomi sebagai satu-satunya esensi dalam masyarakat dan melihat perkembangan sosial masyarakat seolah-olah ekspresi manusia secara alamiah. Dalam pandangan Louis Althusser tiap-tiap pandangan subyektif manusia dibangun oleh ideologi—sebagai faktor yang menjembatani manusia dan alam sekitarnya. Selanjutnya, manusia dan kategori-kategorinya terdapat dalam struktur yang kompleks yang telah ada sebelumnya, seperti bahasa, pendidikan dan dalam konteks ini, budaya media.
Berbeda dengan Marxisme klasik yang sangat ekonomi deterministik, budaya, dilihat sebagai ekspresi dari hubungan produksi yang terjadi. Budaya adalah supra-struktur, sehingga media-massa komersil, koran, majalah, televisi isinya dipandang sebagai cerminan dari hubungan-hubungan ekonomi yang eksploitatif, yang melatarinya. Mengikuti pandangan Louis Althusser, media-massa dilihat sebagai sebuah praktik ideologis yang hubungannya relatif otonom dengan hubungan-hubungan ekonomi yang ada padanya. Dengan begitu sangat memungkinkan untuk menghasilkan nilai-nilai yang berbeda dan berlawanan. Dalam ekplorasi lebih lanjut, media dapat pula menciptakan nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang konsekuensi politiknya seperti yang dapat kita lihat saat ini: medialah yang mengatur dan mengontrol masyarakat. Dengan demikian, wajar jika Green Day (musisi band-ed) tidak ingin menjadi bagian dari masyarakat Amerika yang idiot, dimana masyarakatnya sangat menggagumi media massa, sehingga tidak sadar jika seluruh bangsa itu telah dikontrol oleh media.
Sebelum Althusser, kaum Marxis lainnya juga telah memperhatikan media sebagai sebuah bagian dari alat produksi yang khusus menciptkan kesadaran palsu bagi kelas-kelas pekerja. Kajian Adorno dan Horkheimer yang melihat media massa sebagai bagian dari industri kebudayaan atau budaya industri itu sendiri yang memproduksi “pembodohan massal”]. Karakteristik ini kemudian menyadari bahwa media massa menjadi alat untuk mengembangkan nilai-nilai yang berlaku dalam kelas yang berkuasa di samping institusi lain, seperti pendidikan, agama, polisi bahkan sistem politik.
Dalam kajian mengenai institusi-intitusi di luar media massa, pandangan penting dari Louis Althusser adalah tentang ideologi dan aparatusnya. Althusser menolak faham bahwa ideologi adalah kesadaran palsu, sekalipun ia menyadari juga bahwa manusia berhubungan dengan alam sekitarnya melalui ideologi, yang juga memiliki kekuatan yang sama untuk menjadi faktor yang menentukan bangunan masyarakat, sebagaimana basis ekonomi. Ideologi menurut Althusser adalah: I D E O L O G Y (idéologie). Ideology is the 'lived' relation between men and their world, or a reflected form of this unconscious relation, for instance a 'philosophy' (q.v.), etc. It is distinguished from a science not by its falsity, for it can be coherent and logical (for instance, theology), but by the fact that the practico-social predominates in it over the theoretical, over knowledge. Historically, it precedes the science that is produced by making an epistemological break (q.v.) with it, but it survives alongside science as an essential element of every social formation (q.v.), including a socialist and even a communist society. Dengan menempatkan ideology pada tempat yang lebih utama daripada alat-alat produksi, Althusser membuka pembacaan yang bersifat oposisional terhadap media massa sebagamana juga membuka jalan bagi beragam cara pandang dalam media. Seperti juga apa yang dikatakan Marx, dalam ideologi, manusia sadar akan status sosialnya dan berjuang untuk membebaskannya. Sehingga dengan “membaca” dan “melihat” media, maka seseorang akan sadar dengan status sosialnya, serta melalui produksi media orang juga dapat melakukan perlawanan terhadap dominasi kelas yang berkuasa.
Di samping itu, ideologi juga memiliki peran dalam menciptakan individu menjadi subyek-subyek. Individu mendapatkan status/identitas sosialnya terutama melalui aparatus ideologis negara, salah satunya adalah media. Dalam diskursus cultural studies, pandangan Althusser tentang ideologi setidaknya dapat dipahami dalam lima konsep. Pertama, ideologi mengacu pada pelembagaan gagasan secara sistematis yang diartikulaiskan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Kedua, ideologi dipandang sebagai upaya penopengan dan penyembunyian realitas tertentu. Ia berfungsi untuk menghadirkan citra-citra tertentu yang telah diseleksi, direduksi dan didistorsi yang kemudian memproduksi apa yang disebut oleh Marx dan Engels sebagai “kesadaran palsu”. Ketiga, defenisi ideologi sedikit banyaknya terkait dengan defenisi kedua, yaitu ideologi yang terwujud/ mengejewantah dalam bentuk-bentuk ideologis. Ideologi dimanfaatkan untuk menarik dan memikat perhatian massa pada citra-citra media untuk kemudian menarik massa untuk berpihak pada ideologi yang memproduksi bentu-bentuk itu. Keempat, ideologi sebagai pelembagaan ide sekaligus sebagai praktek materil. Konsep ini dikemukakan oleh louis Althusser dalam Ideology and Ideological Apparatus. Maksudnya, ideologi dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada ide-ide tertentu tentang kehidupan sehari-hari. Althusser menandaskan bahwa aktivitas-aktivitas yang lazim kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari sejatinya memproduksi akibat-akibat yang mengikat dan melekatkan kita pada suatu tatanan sosial yang mapan, sebuah tatanan yang senjang dan tidak adil. Aktivitas-aktivitas itu, mengelabui massa dari realitas kesenjangan dan ketidakadilan itu untuk sementara waktu. Karenanya ideologi juga berfungsi untuk mereproduksi kondisi-kondisi dan relasi sosial strategis yang penting demi tujuan tertentu, terutama bagi kepentingan ekonomi dan kuasa ekonomi kapitalisme. Kelima, ideologi yang difungsikan pada level konotasi (tersirat), makna sekunder, makna yang seringkali tidak disadari yang terdapat pada teks dan praktik kehidupan. Defenisi ini dikemukakan oleh Roland Barthes, seorang teoritisi budaya Perancis. Ideologi (mitos) menurut Barthes mengarahkan kita pada perjuangan hegemonik untuk membatasi makna konotatif, menetapkan konotasi-konotasi partikular, dan memproduksi konotasi-konotasi baru. Ideologi selalu berupa untuk menjadikan apa yang faktanya partikular menjadi universal dan legitimate dan juga upaya untuk menaturalkan hal-hal yang pada dasarnya kultural.
rumahkiri.net

Sunday, October 15, 2006

KEBENARAN VERSI PRABOWO

Dari arsip yang diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka, PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom. Xpos, No 07/III/5-12 Maret 2000.
Prabowo merasa "dijebak" saat meletus kerusuhan Mei 1998.Benarkah Wiranto sengaja meninggalkannya di Jakarta?
Dua tahun berlalu, sejak terjadinya kerusuhan berdarah bulan Mei 1998.Letjen (purn.) Prabowo Subianto merasa sudah saatnya bicara blak-blakan. Mutasi besar-besaran di tubuh TNI yang digambarkan sejumlah pengamat militersebagai upaya "de-Wiranto-isasi", mungkin dianggapnya sebagai momen yangtepat untuk menumpahkan uneg-unegnya. Selama ini, ia hanya bersikap defensifmenanggapi pemberitaan di berbagai media massa yang dianggapnya terlalumenyudutkan dirinya.
Ketika ia merasa harus bicara, pun media yang dipilihnya bukan dari dalam negeri -yang dikhawatirkan tidak independen dari kekuatan politik tertentu-melainkan mingguan berbahasa Inggris, Asiaweek dalam edisi awal Maret ini. Keengganan Prabowo berbicara selama ini, mau tak mau telah menjadikan peristiwa kerusuhan Mei '98 hanya sebagai cerita tentang gagalnya upaya"kudeta militer" oleh Prabowo dan kawan-kawan (sikap diamnya memang bisa dimengerti, sebab ia toh merasa tak ada gunanya membela diri dalam situasi yang takkan menguntungkan dirinya. Beberapa saat sebelum pecahnya kerusuhan Mei, bersama sejumlah perwira muda Kopassus, ia dianggap bertanggungjawab terhadap penculikan dan penyiksaan sejumlah aktifis HAM). Dalam versi yang terlanjur berkembang, Prabowo dianggap sebagai orang yang menggerakkan sejumlah provokator untuk membakar emosi massa, serta dicurigai hendak mengambil alih kekuasaan dari tangan Habibie.
Versi yang diungkapkan Prabowo sungguh bertolak belakang. Ia mengungkap sejumlah fakta yang selama ini tidak diperoleh media massa mengenai cerita seputar kerusuhan Mei. Misalnya, ketika pembakaran dan penjarahan sudah mulai terjadi di Jakarta pada 13 Mei 1998, Prabowo yang ketika itu masih menjabat sebagai Pangkostrad mengaku telah menghubungi Panglima ABRI Wiranto untuk mendapatkan perintah agar bisa mengendalikan keadaan. Bahkan, ia mengusulkan agar pawai kemiliteran di Malang yang dihadiri Wiranto saat itu, dibatalkan saja. "Delapan kali saya menelepon kantornya, delapan kalipula saya mendapat jawaban, the show must go on, pertunjukkan harus dilanjutkan," ungkap Prabowo.
Cerita Prabowo selanjutnya berkisar tentang upaya "penyingkiran" dirinya secara sistematis oleh kubu Wiranto. Hal ini bermula dari keluarnya pernyataan pers dari markas angkatan bersenjata, setelah terjadinya kerusuhan, yang mendukung sikap organisasi massa NU -sebelumnya, NU menyatakan supaya Presiden Soeharto mundur dari jabatan. Membaca surat itu, Soeharto meminta Prabowo melacak dari mana asal surat yang tidak ditandatangani itu. Anehnya, tak ada satu pun perwira tinggi mengaku telah membuat surat itu. Meskipun menurut Prabowo, kopi faksimili surat itu diperolehnya dari kantor Kapuspen ABRI, Brigjen A. Wahab Mokodongan. Belakangan, setelah Soeharto mundur, keluarga Cendana menyalahkan Prabowo. Ia dianggap pengkhianat. Pasalnya, banyak laporan sampai ke telinga Soeharto yang mengatakan bahwa Prabowo dan Habibie, beberapa waktu sebelumnya, telah mengadakan pertemuan berkali-kali. Di samping laporan bahwa Prabowo melakukan pertemuan pada 14 Mei dengan Adnan Buyung Nasution dan sejumlah tokoh lain. Hal ini diartikan sebagai upaya terencana untuk menyingkirkan Soeharto. Dengan demikian, segala kesalahan pun ditumpahkan ke mukanya-termasuk pernyataan pers misterius itu.
Prabowo mengaku, ia memang sempat bertemu Habibie setelah terjadinya kerusuhan. Namun, menurutnya, konteks pertemuan itu bukanlah untuk merebut kekuasaan, melainkan "untuk membicarakan cara terbaik menenangkan kekerasan." Secara logis, Prabowo merasa tidak mempunyai motif apa pun untuk merebut kekuasaan. "Saya adalah bagian dari rezim Soeharto. Seandainya Soeharto bertahan tiga tahun lagi saja, saya sangat mungkin berpangkat jenderal berbintang empat. Mengapa saya harus menyulut kerusuhan?" tanyanya. Mengenai pertemuan dengan Adnan Buyung Nasutian dan kawan-kawan, baginya sama sekali tidak ada relevansinya dengan kudeta. Pertemuan itu sendiri, bukan ia yang menghendaki, tapi pihak Buyung. Sedangkan pertemuannya "secara baik-baik" dengan Habibie, membuktikan bahwa ia waktu itu tidak hendak "mengepung" dan mengambil-alih kekuasaan seperti yang dituduhkan Habibie padanya.
Dari ceritanya, tampak sekali bahwa Prabowo ingin menunjukkan diri sebagai korban yang terperangkap dalam situasi yang merugikan. Pertama, ketika kerusuhan terjadi, Wiranto tidak berada di ibukota. Dengan sendirinya, karena Prabowo dan Sjafrie Sjamsuddin (waktu itu Pangdam Jaya-red.) yang berada di Jakarta, merekalah yang dianggap paling bertanggungjawab atas keamanan. Kedua, meskipun sudah meminta mandat, Wiranto sebagai Panglima tidak berbuat apa-apa. Di sini terkesan pula, Prabowo ingin mengatakan bahwa seharusnya Wiranto yang bertanggungjawab. Memang, sejumlah pertanyaan muncul, mengapa Wiranto bersikeras membawa sejumlah perwira tinggi pada 14Mei 1998? Siapa yang bertanggungjawab atas pembuatan pernyataan pers militer tentang Soeharto? Lalu, mengapa Panglima TNI membiarkan mahasiswa terus berada di Gedung DPR/MPR sampai Soeharto jatuh?
Prabowo tak langsung menjawabnya. "Saya harus adil pada Wiranto. Ia memang menginginkan reformasi, namun ia juga punya ambisi-ambisi politik," ujarnya diplomatis. Prabowo diganti oleh Djohny Lumintang pada 22 Mei 1998, setelah Habibie naik takhta dan Wiranto, sebagai Menhankam/Pangab, berjanji untuk melindungi Soeharto dan keluarganya.
"Dosa-dosa" Prabowo semakin dilegitimasi dengan terbentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menginvestigasi terjadinya kerusuhan Mei 1998. Dalam laporannya, TPGF menyimpulkan, peristiwa penculikan para aktifis HAM berhubungan erat dengan kerusuhan Mei 1998. Hal yang menurut Prabowo lebih merupakan opini ketimbang fakta. Munir, Ketua Kontras pun mengakui ada perbedaan mendasar antara peristiwa penculikan aktifis dengan kerusuhan Mei. Katanya, peristiwa Mei merupakan gerakan dari elit untuk perubahan politik. Sementara perisitiwa penculikan, merupakan konspirasi untuk mempertahankan sistem yang ada.
Mengenai peristiwa penculikan aktifis, Prabowo sama sekali tidak menyangkalnya. Ia mengakuinya. Namun, menurutnya, apa yang dilakukannya itu tidak terlepas dari pengetahuan para atasan.
Apa yang dikemukakan oleh Prabowo, bagaimanapun telah memberi perspektif baru dalam melihat kembali tragedi berdarah Mei 1998. Soal apakah ceritanya benar atau tidak, sulit untuk ditentukan. Toh ia bukan orang suci. Wiranto dan Prabowo, masing-masing berbicara atas nama subyektifitas. Bisa jadi, malah kedua-duanya tidak benar.

Hadiah Nobel Perdamaian bagi Muhammad Yunus

Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini tidak dianugerahkan kepada calon-calon yang diperkirakan bakal menjadi pemenang, seperti mantan presiden Finlandia, Marthi Ahtisaari atau bintang musik pop Bono dan Bob Geldof, melainkan kepada pakar ekonomi Bengal, Muhammad Yunus. Mei lalu, Yunus sempat berkunjung ke Belanda untuk menerima sebuah hadiah lain, yaitu Four Freedoms Award, karena pandangan uniknya terhadap pengentasan kemiskinan.

Tuesday, August 29, 2006

LAPORAN PERKEMBANGAN LAPANGAN

Rekonstruksi Desa Jeumeurang – Kembang TanjungAkhir Februari 2006
Pendahuluan
Sebelum saya melaporkan perkembangan terakhir yang berkenaan dengan kondisi fisik pembangunan Rekonstruksi Desa Jeumeurang, Kec. Kembang Tanjung, Pidie, ada baiknya saya kemukakan beberapa pendapat pribadi yang saya rasa sangat penting untuk dimunculkan. Pertama, ketika kunjungan beberapa kali sebelum saya dimandatkan menjadi Bendahara Program Rekonstruksi Desa Jeumeurang yang berakhir pada sebuah rekomendasi lapangan mengenai diharuskannya mengganti Bendahara Keuangan terdahulu, mental saya secara psikologis sempat ‘jatuh’ melihat program yang besar dengan uang yang sangat besar juga tetapi lemah dalam pengelolaannya (begitu juga ketika saya telah menerima surat tugas dan menjalankannya).

Kedua, segala teori dan argumentasi yang sempat saya pikirkan di Jakarta mengenai ‘idealnya’ proses yang harus dijalankan, dalam kenyataannya dilapangan ternyata bisa berubah sampai 180o dikarenakan berbagai macam factor, baik dari dalam maupun dari luar. Ketiga, jalinan komunikasi dan koordinasi antar para pihak yang terkait dalam prinsip-prinsip yang tidak transparan dan berbeda visi satu sama lain. Dan yang keempat, fungsi dan wewenang Koordinator Program yang menurut saya sudah disorientasi sehingga membuat management dan akumulasi dari keseluruhan tugas dan tanggung jawabnya menjadi tidak terarah.

Pembacaan situasi lapangan dan pengerjaan teknis yang menjadi prioritas dan berkenaan dengan ‘kemauan’ awal dalam kesepakatan, dalam frame ideal, sebenarnya sudah bisa menggambarkan apa yang dimaksud dan apa yang akan dilakukan. Periode awal pengerjaan Proyek Rekonstruksi Desa Jeumeurang, dimana TdH-NL menyertakan tim konsultan sebagai pendamping, sebetulnya sudah mewakili dan sangat representative untuk SHMI, terutama yang berada dilapangan untuk menuntaskan pekerjaan dan menjawab tanggung jawab SHMI secara keseluruhan terhadap TdH-NL dalam Program tersebut.

Saya tidak akan bisa obyektif dalam membuat laporan ini, tapi paling tidak harapan dari saya ini bukan kemudian menjadi ‘pembelaan diri’, apa yang menjadi misi awal saya selama mengemban tugas sebagai Bendahara Program bisa saya pertanggungjawabkan. Begitu juga dengan frame yang lebih besar dari misi saya terhadap Program tersebut, bahwa nama baik SHMI dari pengalaman yang buruk dibulan-bulan awal Program, setidaknya bisa diperbaiki dan dipertanggungjawabkan dihadapan funding dan masyarakat korban tsunami.

Identifikasi Permasalahan
Pada awal saya menjalankan tugas sebagai Bendahara Program, Bulan Oktober 2005, tidak ada persoalan yang serius terjadi dilapangan. Karena pada waktu itu Program Rekonstruksi sudah memasuki Tahap II akhir penyelesaian. Yang artinya, saya datang dan menjalankan tugas secara spesifik hanya menyelesaikan pembayaran honor tukang tanpa ada hal-hal lain yang berkenaan dengan itu, seperti: melakukan pembelian dan pembayaran material maupun bertemu dengan supplier.

Pada bulan berikutnya, November 2005, ketika TdH-NL menyetujui request kebutuhan dana yang SHMI ajukan, proses yang baru saya temui dalam pengerjaan teknis Program terjadi. Saya melakukan pembelian dan pembayaran, juga bertemu dengan supplier seperti yang dimandatkan dalam surat tugas saya. Mekanisme pengerjaannya pada waktu itu, secara realistis, masih banyak terdapat kekurangan. Pertama, supplier yang saya temui untuk melakukan transaksi jual beli adalah ‘orang lama’ yang kemudian saya sebut sebagai kontak Soni dari awal dalam melakukan jual beli material. Kedua, secara administrative, saya mendesak kepada Soni untuk melakukan perjanjian jual beli diantara kedua belah pihak dan sebagai tuntutan dan keharusan yang nantinya akan menjadi pembuktian dalam audit, ini tidak dilakukan pada awal proses pengerjaan dan terjadi kelambatan pada tahap dimana saya ada dan akhirnya bisa dipenuhi. Dan ketiga, sebagai pertimbangan kenapa dua hal tersebut saya sebutkan adalah bagaimana kemudian ‘sisa uang’ dalam pembayaran bisa mudah dinegosiasikan antara kedua belah pihak dalam bukti pembelian.

Sampai pada proses tersebut, pembacaan saya mengenai kondisi dilapangan seutuhnya belum bisa dikatakan saya dapat menguasai. Karena saya ‘ditaruh’ sebagai orang dan pihak yang dianggap bisa menyelesaikan persoalan terdahulu, waktu yang relative singkat membuat saya harus terus mengikuti ritme dan pola pada tahapan konsep. Fokus pada pengelolaan keuangan Program TdH-NL sebagai pembuktian akurat yang dilaporkan kepada Bagian Keuangan di Jakarta tetap jadi prioritas saya.

Ada beberapa hal yang ingin saya kemukakan berkaitan dengan aktivitas di bulan November 2005, dimana pada awal pemesanan material, hitungan barang material sisa dilapangan ada dan menjadi milik SHMI yang tidak dilaporkan (nantinya persoalan ini akan saya kemukakan pada item rekomendasi menghadapi audit). Hitungan material sisa tersebut, yang menjadi tugas dan tanggung jawab Staff Teknis dan Staff Logistik, sebetulnya lemah dalam proses penghitungan dan pertanggungjawaban. Hitungan material dengan perkiraan kasar dan manual serta berlanjut kemudian pada mekanisme pembelian material baru, tidak sepenuhnya bisa dikatakan mewakili kebutuhan secara keseluruhan dari jumlah material (penjelasan berikutnya ada pada paragraph di Bulan Januari 2006).

Pada Bulan Desember 2005, diakhir bulan tersebut, saya dan Soni akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Karena pada saat-saat di bulan tersebut, kunjungan untuk kesekian kalinya dari tim Konsultan Keuangan yang dikirim TdH-NL kembali mengunjungi lapangan. Diskusi antara saya dan Konsultan Keuangan pada saat itu, tercetus beberapa rekomendasi yang keluar dan harus segera disikapi oleh tim SHMI dilapangan. Rekomendasi tersebut kemudian saya sampaikan kepada Soni untuk disikapi lebih lanjut. Rekomendasi tersebut antara lain, berkenaan dengan batas waktu yang tercantum di MoU antara TdH-NL dan SHMI, yang disebutkan disitu bahwa Program berakhir pada Bulan Desember 2005 beserta dengan RAB Baru yang dipakai dalam budget program, yang seterusnya harus secara tertulis disetujui oleh kedua belah pihak.

Otomatis, pada Bulan Januari 2006, konsentrasi untuk membuat laporan dan meminta persetujuan secara tertulis dari TdH-NL menjadi prioritas pekerjaan di Jakarta. Bagian pekerjaan tersebut menjadi tanggungjawab Soni kemudian untuk bisa merealisasikan bentuk surat persetujuan diantara kedua belah pihak. Namun, pekerjaan tersebut belum sepenuhnya selesai, e-mail dari ICCO mengenai rencana kedatangannya di Jeumeurang pada minggu kedua di Bulan Januari 2006 harus juga dijawab oleh SHMI.

Praktis, saya dan Soni akhirnya kembali kelapangan untuk menemui kedatangan tim ICCO ke Jeumeurang (laporan mengenai pertemuan tersebut sudah pernah saya sampaikan ke Bu Ade), walaupun beban laporan dan hal-hal yang bersifat administrative dari TdH-NL belum bisa terealisasi.

Datang dilapangan bukan berarti seluruh persoalan di bulan sebelumnya sudah teratasi. Selain untuk menemui kunjungan ICCO dilapangan, kendala-kendala kemudian bermunculan. Kendala paling pelik selama kurang lebih dua minggu lapangan ditinggal, material seperti batu bata menjadi persoalan utama. Sampai pada satu bulan tepatnya pembelian material, kurang dari sepertiga dari jumlah keselurahan batu bata yang dipesan (jumlah keseluruhan yang dipesan kurang lebih berjumlah 180.000 biji). Disinilah masalah kemudian timbul.

Fungsi Koordinator yang kurang pro aktif dalam menyelesaikan persoalan tersebut, membuat proses teknis pengerjaan menjadi lambat. Usaha untuk menemui dan mempertanyakan kelambatan material hanya tergantung telp dan sms. Usaha itupun mengalami kebuntuan, selain telepon seluler supplier tersebut dimatikan, ketika sms masukpun hanya dijanjikan bahkan sampai tidak dijawab.

Usaha terakhir yang dilakukan adalah mendatangi rumah supplier (dengan catatan, tetap pada kurang pro aktifnya Koordinator). Setelah itu, diadakan pertemuan di depan Alun-alun Kota Sigli, dimana supplier tersebut mengakui bahwa uang pembelian material batu bata dipakai dan diputar untuk proyek yang sedang dia jalani dan mengalami kebuntuan. Jalan terakhir, akhirnya material tersebut kembali diambil alih oleh SHMI dalam pembeliannya dan diadakan perjanjian ulang (ada surat perjanjian dan jaminan/borg dari supplier).

Kenapa akhirnya kita yang membeli dan dari mana uangnya? Saya yang merekomendasikan kepada Soni untuk mengambil kebijakan tersebut. Dengan alasan, proses fisik tidak boleh dibiarkan berlarut-larut menunggu ketidakpastian dan jalan tersebut adalah pilihan yang terbaik dari yang terburuk, itu yang ada dipikiran saya waktu itu beserta alasan tukang yang tidak bisa kerja dan honor staff yang tertunda akibat hal tersebut. Uang yang dipakai untuk membeli batu bata tersebut adalah uang pengembalian hutang Soni ke SHMI (termin kedua) sebesar Rp. 40.000.000,-. Dari jumlah keseluruhan batu bata yang akhirnya menjadi tanggungan SHMI mengalami kenaikan sebesar kurang lebih 25% dari harga pembelian ke supplier pertama kali. Uang senilai Rp. 40.000.000,- tersebut adalah harga asli dari seluruh batu bata yang dipesan pertama kali dengan jumlah kurang lebih 180.000 biji. Karena kebutuhan batu bata sedang dibutuhkan, pabrik batu bata kemudian menaikkan harganya menjadi Rp. 500,-/biji. Sehingga total keseluruhan uang yang harus SHMI keluarkan berjumlah kurang lebih Rp. 53.000.000,-. (dijelaskan pada paragraph yang mempertanyakan darimana sisa uangnya?)

Kendala batu bata bisa diatasi, namun masalah baru muncul. Dalam pembangunan fisik perumahan, satu material akan berkait dengan material yang lain. Batu bata sudah berada dilapangan dan semen dibutuhkan. Namun kenyataannya, semen menjadi masalah yang tidak kalah seriusnya dari persoalan batu bata. Pola Soni yang membelikan dan membelanjakan material secara keseluruhan (tidak pertahap) dari awal pembangunan, menyebabkan kerumitan dalam prosesnya kemudian dan ditambah dengan tidak adanya ikatan atau perjanjian jual beli.

Kebutuhan semen memang telah dipesan jauh sebelum saya berada dilapangan. Yang saya tahu, pada tahap akhir ini, jumlah semen sebanyak 750 sak tidak jelas keberadaannya. Dikarenakan, mekanisme pembelian pada saat itu melalui calo. Sehingga, sampai saat ini, proses pemasukkan semen kedalam gudang dan lapangan (dengan jumlah tersebut dan yang berasal dari calo) tidak teratasi – penglihatan saya ketika berada dilapangan pada tanggal 27 Februari – 2 Maret 2006 ketika menghadiri pertemuan dengan tim audit TdH-NL.

Resolusi Identifikasi Persoalan
Sebetulnya, kendala-kendala tersebut bisa diatasi oleh lapangan. Tanpa harus meminjam kembali uang yang telah ada di kas SHMI Jakarta dan tanpa harus terlalu berlarut-larut dalam segi waktu persoalannya.

Soal Batu Bata, uang pinjaman dari SHMI berjumlah Rp. 40.000.000,-, sedangkan pembayaran batu bata berjumlah Rp. 53.000.000,-, darimana sisa uangnya?
Seperti saya jelaskan dipembuka, bahwa kondisi lapangan berbeda jauh dengan kondisi ideal di Jakarta. “Uang Saving” bukan hanya ada di Jakarta, tetapi juga ada dilapangan. Secara spesifik saya jelaskan bahwa dalam setiap kali pembelian dan pembayaran (dengan pertimbangan negosiasi penjual dan pembeli terhadap pembuktian yang saya jelaskan diatas), terdapat “Uang Sisa” sebanyak kurang lebih Rp. 60.000.000,- dalam setiap kali transaksi. Selama dua kali request, setidaknya ada 2 kali pembelian dan pembayaran serta “Uang Sisa”.

Dari “Uang Sisa” tersebut, sebanyak Rp. 40.000.000,- diserahkan ke SHMI sebagai bentuk pengembalian hutang Soni dan sudah dilakukan juga sebanyak 2 termin. Sisa dari uang tersebut, ada ditangan Soni dengan dimasukkan kedalam rekening tabungan BRI cabang Sigli atas nama M. Soni Qodri.

Selengkapnya, sebagai bagian dari rasa tanggungjawab lapangan dalam menyelesaikan dan menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan, “Uang Sisa” tersebut pada awalnya menjadi kesepakatan bersama untuk dipergunakan menutupi kekurangan-kekurangan tersebut. Dalam artian, pengkondisian hal tersebut telah disepakati diawal. Dengan asumsi, lapangan bisa menjawab kendala-kendala yang terjadi. Namun sayangnya, identifikasi, kesepakatan, proses dan pencapaiannya tidak seideal gambaran semula. Persoalan yang kemudian terjadi lebih dikarenakan pada persoalan pribadi yang menyebabkan seluruh rencana berantakan dalam segi teknis.

Peran Bendahara Program
Dalam hal tersebut, saya sebagai Bendahara Program hanya terbatas dan terorientasi pada persoalan laporan keuangan yang jelas sesuai budget, rapi dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan “Uang Sisa”, saya hanya bisa mengusahakan dari setiap “Uang Sisa” yang didapat pada setiap termin untuk pengembalian hutang (pemenuhan tanggungjawab Soni terhadap hutang-hutangnya yang harus dia penuhi ke SHMI). Selebihnya, dengan berbagai macam pertimbangan, “Uang Sisa” setelah pembayaran pencicilan hutang diambil alih Soni dan memang tidak ada niat dari saya untuk memegangnya.

Menghadapi Audit
Satu persoalan yang sebetulnya juga harus dipikirkan ekstra oleh pihak-pihak yang terkait. Ini berhubungan dengan data-data secara administrative dalam program ini.

Yang paling penting untuk diantisipasi dalam menghadapi audit pada minggu ke III Maret 2006 nanti adalah, bagaimana kelengkapan data-data administrative sejak awal bisa cocok antara jumlah pembelian material yang sudah dibeli, kebutuhan awal sampai laporan pertanggungjawaban dari segi logistik (pemakaian, pengeluaran dan barang-barang material sisa). Kalaupun ada barang-barang material sisa atau perlu tambahan karena jumlahnya kurang atau meleset dari perhitungan, harus disertai pembuktian melalui mekanisme berita acara dengan lampiran-lampiran pendukungnya.

Begitupun dari sisi keuangan, mulai dari awal pengerjaan program, beberapa hal-hal yang bersifat administrative sangat diperlukan. Penglihatan saya selama ini, harapan untuk bisa menjawab audit nanti jauh dari ideal. Terlebih dengan proses atau pola yang telah dilakukan sebelum saya mengemban amanat Bendahara Program.

Rekomendasi
Dari paparan saya, ada beberapa hal yang sebetulnya menjadi sangat perlu untuk disikapi dan ditindak lanjuti. Pertama, mengembalikan orientasi Koordinator Program pada program yang tengah menjadi tanggungjawabnya. Paling tidak, untuk bersikap tegas dan focus pada apa yang akan dia hadapi dan SHMI tentunya. Kedua, Surat Perpanjangan Kontrak Kerja untuk semua pihak-pihak yang terkait dalam menjawab tantangan dan permasalahan kedepan yang berkaitan dengan program ini. Dan yang ketiga, supervisi serta time frame dalam menghadapi sisa waktu yang TdH-NL berikan dalam menyelesaikan program Rekonstruksi paling lambat akhir Maret 2006 ini.

Penutup
Demikian laporan perkembangan lapangan yang saya buat. Jika terdapat hal-hal yang kemudian menimbulkan tanda tanya, jalan diskusi akan menjadi sangat efektif. Sebagai bagian dari rasa penuh tanggungjawab dan sebagai komitmen saya terhadap nama baik SHMI.


Jakarta, 4 Maret 2006
Yang Membuat Laporan,



Tomix Pribadi
Bendahara Lapangan

Saturday, August 12, 2006

Yang Marah Di Aceh

MASJID adalah nama sebuah kampung di Aceh terletak di pinggir pantai. Wartawan The New York Times Jane Perlez mengunjungi desa itu, lalu melaporkan dalam korannya keadaan Masjid sesudah 19 bulan terjadinya tsunami. Rumah-rumah yang dibangun di sana oleh badan bantuan Save the Children (Selamatkan Kanak-kanak) terbukti tidak bisa di diami. Beberapa rumah di bangun dalam waktu tiga hari, kata penduduk. Pondasi gedung sekolah tetap tersia-siakan, ditanami oleh rerumputan.
"Penduduk marah. Para pekerja pemberi bantuan mengumber janji-janji, tetapi tidak berwujud kenyataan" ujar Innu Barkar, kepala desa sembari berjalan seputar rumah-rumah kosong tidak terhuni. Kehidupan di Aceh pasca tsunami bulan Desember 2004 telah jadi agak normal. Sebagian besar kanak-kanak bersekolah lagi. Jalanan dibangun lagi. Pasar-pasar terbuka penuh dengan produk hasil lokal. Pekerjaan tidak terlalu sulit mencarinya. Dan bahkan persetujuan damai antara pemerintah pusat dengan GAM tetap bertahan utuh.
Hampir tiap orang telah dipindahkan dari tenda-tenda berlumpur, kendati banyak keluarga masih mendiami bedeng-bedeng yang bobrok. Tetapi di bawah permukaan aktivitas terdapat suatu selubung ketidakpuasan terhadap badan-badan bantuan internasional. Suatu perasaan bahwa janji-janji muluk yang didukung oleh sumbangan-sumbangan yang tiada taranya, baik besar maupun kecil dari seputar dunia masih akan harus dipenuhi.
Bagi banyak orang jumlah 8,5 miliar dolar AS yang dikatakan oleh badan-badan kemanusiaan, pemerintah-pemerintah asing dan Indonesia akan dibelanjakan bagi pembangunan kembali Aceh tampaknya bagaikan suatu khayalan belaka. Dalam beberapa hal mereka benar. Sampai sekarang, Bank Dunia mengatakan hanya 1,5 miliar dolar AS dari 8,5 miliar dolar yang disumbangkan kepada malapetaka telah dikeluarkan.
Lebih daripada itu, banyak dari jumlah yang telah dikeluarkan tidaklah dibelanjakan dengan baik. Sebuah kritik pedas diterbitkan tanggal 14 Juli oleh Koalisi Evaluasi Tsunami, termasuk para ahli dari pemerintah-pemerintah Barat, PBB dan badan-badan bantuan internasional, dan didukung oleh mantan Presiden Bill Clinton telah membuat jelas bahwa penduduk desa-desa Aceh tidak hanya menggerutu. Banyak dari ratusan badan bantuan yang mengalir ke Aceh pasca tsunami telah memperlihatkan "kesombongan dan ketidaktahuan" dan seringkali punya staf-staf terdiri dari "pekerja-pekerja tidak becus (inkompeten)" yang datang dan pergi dengan cepat, kata laporan tersebut.
Meskipun bermilyar-milyar dolar berupa sumbangan (donations) yang berarti jumlah rekor 7100 dolar AS untuk setiap orang yang terkena (tsunami), berbanding dengan 3 dolar bagi setiap orang yang selamat dari banjir di Bangladesh tahun 2004, penduduk Aceh tidaklah melihat buah hasil kedermawanan itu, kata laporan tadi.
Penilaian yang dicatat oleh Bill Clinton dalam kata pengantar laporan mengandung "bacaan yang tidak enak", mengecam badan-badan bantuan karena memberikan lebih banyak perhatian kepada mengiklankan "brands" atau merek-merek mereka dan menerbitkan laporan-laporan yang memuji-muji diri sendiri ketimbang memberikan pertanggunganjawab atas pengeluaran-pengeluaran mereka.
Badan-badan bantuan internasional telah bertindak relatif bagus selama tiga bulan pertama sesudah tsunami, tatkala mereka menyerahkan bahan makanan dan air, dan menjauhkan penyakit-penyakit. Akan tetapi banyak dari sukses itu untuk sebagian besar adalah berkat organisasi-organisasi lokal, kata laporan. Bagi rekonstruksi jangka panjang, laporan mengatakan bahwa kekurangan keahlian (expertise) oleh badan-badan bantuan telah mengakibatkan "hasil-hasil brengsek".
Pembangunan rumah sesungguhnya adalah sumber utama keluh-kesah atau komplain. Di beberapa daerah kumpulan-kumpulan perumahan baru, dengan atap sengnya berkilauan di matahari tropis, telah bertumbuh subur di lanskap yang gersang. Di daerah-daerah lain, baris demi baris bedeng-bedeng bobrok yang membengkak dengan keluarga-keluarga bertumpukan dalam ruangan-ruangan kecil merupakan saksi dari lambannya pembangunan rumah baru keluarga. Secara keseluruhan kira-kira 25.000 rumah baru yang dibangun oleh jenis luas badan-badan bantuan telah diselesaikan dari jumlah 120.000 rumah yang diproyeksikan diperlukan adanya, demikian menurut badan PBB Habitat.
Banyak alasan mengapa harapan-harapan tidak terpenuhi, ujar Kuntoro Mangkusubroto, ketua badan rehabilitasi dan rekonstruksi Indonesia. Punya banyak uang dari sumbangan publik sebagaimana belum pernah dialami sebelumnya, badan-badan bantuan merasa dipaksa maju terus membangun rumah-rumah, sekalipun mereka kekurangan pengalaman. "Mereka bilang, Mari kita bangun". Mereka tidak bicara mengenai kontrak-kontrak, tidak ada perjanjian-perjanjian dengan para kontraktor. "Soalnya ialah bangun rumah, boom, boom, boom" ujar Kuntoro. Dia telah memberi peringatan kepada badan-badan bantuan. "Saya terus bilang kepada mereka bahwa jenis orang-orang yang mereka punya, cara mereka mengelola, harus berubah. Diperlukan waktu hingga akhir Desember yang lalu meyakinkan mereka untuk berubah" kata Kuntoro.
Kolom Rosihan Anwar
WASPADA online
07 Aug 06 16:25 WIB

Wednesday, July 19, 2006

DOA YANG MENGANCAM

“Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir kali pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu.”

Itulah doa terakhir Monsera, seorang penduduk miskin yang tinggal di pingiran Kota Ampari, ibu kota negeri Kalyana. Setelah itu ia menutup pintu rumah tempat tinggalnya, menguncinya dan menyerahkah kunci pada si empunya rumah yang telah berbulan-bulan menagih tunggakan uang sewa padanya.

“Suatu saat saya akan kembali untuk membayar utangku,”

Si empunya rumah cuma tersenyum sinis dan membiarkan Monsera pergi.

Monsera lalu berpamitan pada para tetangga, pemilik warung makan, pemilik toko kelontong, penjual minyak tanah, ialah semua yang berpiutang padanya dengan ucapan sama. “Suatu saat saya akan kembali untuk membayar utangku.” Dan semua juga membiarkannya pergi tanpa berharap Monsera akan menepati janjinya.

Lelaki berbadan kurus itu lalu meninggalkan ibu kota, berjalan kaki memasuki wilayah berhutan, mencari kelinci, umbi-umbian, dan buah-buahan, untuk bersantap malam, lalu tidur di dahan sebuah pohon besar; menanti datangnya pagi.

Monsera terbangun oleh tetesan embun yang membasahi mukanya, dan setelah itu tak bisa tidur lagi sampai ufuk timur memerah. Ia berdebar-debar menunggu terbitnya Matahari, berharap-harap cemas membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

“Apakah Tuhan mendengar doaku? Apakah Tuhan terusik oleh ancamanku?”

Sampai Matahari terbit dan Monsera meneruskan perjalanannya yang tanpa tujuan ini, tak ada kejadian istimewa terjadi. Monsera mulai kesal dan putus asa, tapi terus berjalan meninggalkan hutan dan memasuki padang rumput savana.

Seperti ingin bunuh diri, Monsera menantang teriknya Matahari tanpa berbekal setetes pun air dan menantang dinginnya malam tanpa berbekal selembar pun selimut. Pada hari ketujuh, Monsera tergeletak tanpa daya di atas permukaan rumput. Saat itu hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, seorang saudagar kuda bernama Sinaro menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mengiranya sudah jadi mayat. Sinaro menggali liang kubur, mendoakan Monsera dan menguburnya. Tapi begitu gumpalan tanah mengenai muka Monsera, mulutnya sedikit bergerak. Ternyata Monsera cuma mati suri. Sinaro kaget sekali dan membawa Monsera pulang ke rumahnya di negeri Salaban.


* * *
Setelah sebulan lebih dirawat keluarga Sinaro, luka bakar yang diderita Monsera berangsur sembuh. Kesadarannya berangsur pulih. Monsera mulai bisa bicara sepatah dua patah kata, tapi masih menderita amnesia. Masuk bulan ketiga barulah ingatannya kembali normal, dan bisa berbincang secara wajar dengan orang-orang disekitarnya.

Suatu hari Monsera tertarik pada foto lama keluarga ayah Sinaro yang ditaruh di atas almari pakaian. Lama Monsera mengamati foto itu, lalu menunjuk seorang bocah yang ada di situ dan menanyakannya pada Sinaro. “Ini saudaramu?”

Sinaro agak kaget, lalu bercerita dengan perasaan sedih. “Ya, namanya Sridar. Ia hilang waktu ikut perang saudara sepuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang tak pernah ada kepastian dia masih hidup atau sudah meninggal.”

“Dia masih hidup,” kata Monsera penuh kepastian. “Belum lama saya bertemu dia di Rodamar.”

Sinaro terperanjat. “Kamu yakin?”

“Saya yakin.”

“Tapi itu foto dua puluh lima tahun yang lalu, Monsera. Bagaimana kamu yakin yang kamu temui di Rodamar itu adalah Sridar adikku?”

“Sebaiknya kita sama-sama ke Rodamar. Sridar tinggal di salah-satu perumahan rakyat di pinggiran kota.”

Antara percaya dan tidak, Sinaro berangkat ke Rodamar bersama sanak saudara yang lain, mengikuti petunjuk Monsera. Tiga hari dua malam mereka berkuda menyeberangi padang pasir dan berhasil mencapai Rodamar dengan selamat. Dengan mudah Monsera menunjukkan jalan-jalan dalam kota yang harus dilalui, sampai akhirnya menemukan perumahan rakyat yang dimaksud. Dan berhasil menemukan Sridar!

Tak terkira betapa gembira Sinaro dan sanak-saudara lainnya, bisa berjumpa lagi dengan Sridar yang sudah sepuluh tahun mereka anggap hilang ini. Dan tak terkira pula rasa terima kasih mereka pada Monsera yang telah membantu menemukan Sridar.

Belakangan Monsera merasa takut dan heran pada dirinya sendiri, setelah sadar bahwa sebelum ini ia sama sekali belum pernah pergi ke Rodamar. Jadi bagaimana ia bisa tahu seorang bernama Sridar yang belum pernah dikenalnya tinggal di sebuah kota yang belum pernah didatanginya pula?

Sekembali ke rumah Sinaro, Monsera meminjam foto-foto yang lain, mengamati wajah-wajah dalam foto itu. Dalam waktu singkat ia ternyata bisa melihat perjalanan kehidupan orang yang diamatinya bagaikan sebuah film panjang. Melihat Sinaro waktu masih berpacaran. Melihat Sinaro melamar calon istrinya. Melihat istrinya melahirkan anak pertama. Dan melihat saat ini istrinya sedang berbelanja di pasar.

Tak ayal, kemampuan lebih yang dimiliki Monsera cepat diketahui orang-orang. Mereka berbondong-bondong mendatangi Monsera, menanyakan anak atau ayah atau suami atau sanak saudara mereka yang hilang pada waktu perang saudara. Banyak yang sedih setelah Monsera mengatakan yang mereka cari sudah meninggal. Namun banyak pula yang bergembira seperti Sinaro, berhasil bertemu kembali dengan yang selama ini menghilang entah ke mana. Hadiah berupa uang, emas, maupun barang-barang berharga lainnya, sebagai tanda terima kasih, mengalir deras ke pundi-pundi Monsera. Sampai akhirnya pemerintah negeri Salaban mendengar pula kehebatan Monsera, lalu mengangkat Monsera sebagai pejabat khusus di kepolisian dengan gaji yang sangat tinggi, dan memberinya tugas melacak para penjahat yang melarikan diri.

Monsera pun menjadi orang yang kaya raya. Dan ditengah-tengah kekayaannya yang melimpah itu, ia merasa dirinya telah berhasil mengancam Tuhan lewat doanya.


* * *
Setelah cukup lama berbakti bagi rakyat dan pemerintahan Salaban, Monsera pulang ke negerinya. Yang pertama dilakukannya ialah menemui para mantan tetangga, dan membayar semua piutang mereka. Setelah itu Monsera meninggalkan Kota Ampari, pergi ke sebuah dusun termiskin di negeri Kalyana, menemui ibunya yang selama ini ditinggalkannya begitu saja.

Si ibu yang tua dan renta nyaris tak mengenali Monsera yang gemuk dan bersih.

“Tuhan akhirnya mengabulkan doa saya, Ibu! Bahkan lebih dari sekedar terbebas dari kemiskinan, saya sekarang jadi kaya raya!”

Monsera lalu membawa ibunya pindah ke kota untuk tinggal bersamanya di sebuah kastil termegah dan termahal di Ampari yang sudah dibelinya. Kekayaan ibunya yang dibawa dari dusun cuma sebuah tas kecil berisi selembar kain dan foto-foto lama. Monsera membakar kain tua itu dan meminta para pembantunya membelikan lusinan kain sutera sebagai pengganti. Monsera membeli pula bingkai-bingkai emas untuk memasang foto-foto keluarga yang dibawa ibunya.

Monsera tersenyum sendiri melihat sebuah foto ibunya waktu masih muda.

“Cantik sekali,” gumam Monsera. Lalu, diluar kehendaknya, kilasan-kilasan gambaran masa lalu mulai berkelebat secara bening dan meyakinkan.

Seorang wanita bernama Lastina berdandan di muka cermin… Malam hari dia berjalan di kaki lima mengenakan pakaian seronok, melambai-lambaikan tangan pada setiap kereta kuda yang lewat, sampai salah satu berhenti dan membawanya pergi… Sekilas nampak Lastina digauli seorang pria… Lalu digauli pria lain di tempat lain pula… Lastina hamil, gagal menggugurkan kandungan, merayu seorang preman jalanan untuk minta dinikahi… Lastina menikah dengan preman itu… Si preman kaget setelah tahu Lastina sudah hamil… Si preman meninggalkan Lastina begitu saja… Lastina melahirkan anaknya… Dan diberi nama Monsera.


* * *
“Ini pasti salah! Tak mungkin ibuku seorang pelacur!” Monsera berteriak dalam hati sambil membuang foto-foto ditangannya. Perasaannya terguncang hebat, merasa begitu takut kalau pandangannya benar belaka. “Katakanlah padaku, ya, Tuhan, bahwa pandanganku kali ini keliru.”

Namun jawaban dari Tuhan dalam bentuk apa pun ta pernah diterimanya. Dan tetap saja setiap ia melihat foto ibunya, gambaran masa lalu yang kelam itu kembali berkerjap-kerjap. Bahkan kian lama kian benderang sekaligus menjijikkan.

Sampai akhirnya Monsera tak kuat bertahan dan memohon lagi kepada Tuhan. “Aku sungguh bersyukur Engkau telah memberiku rezeki yang berlimpah, ya, Tuhan, tapi sekarang tolong bebaskan aku dari keahlianku melihat masa lalu, dan kembalikan aku sebagai manusia biasa.”

Setelah sehari, dua hari, seminggu, sebulan Monsera terus berdoa dan berdoa, kemampuan supranaturalnya tak kunjung menghilang. Ia mulai tak sabar dan terucaplah ancaman seperti yang dulu pernah dilakukannya. “Kalau Kau tak juga mengabulkan doaku, ya, Tuhan, aku akan segera meninggalkan-Mu.”

Kali ini ia merasa ancamannya pada Tuhan sama sekali tak mempan. Sedikitpun tidak ada perubahan terjadi dalam dirinya. Lama-lama Monsera berpikir, jangan-jangan dengan ancamannya yang pertama dulu Tuhan marah dan lebih dulu meninggalkannya. Kalau memang begitu, segala mukjizat yang diterimanya selama ini bisa jadi bukan anugerah dari Tuhan, melainkan pemberian dari setan.

Maka Monsera pun berkata, “Hai, setan! Jangan kau siksa aku dengan pemberianmu yang justru membuatku menderita. Kembalikan aku seperti manusia biasa! Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan kembali mengabdi pada Tuhan!”

Seketika hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, orang-orang menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mati suri. Mereka berebut membawa Monsera ke rumah sakit terbaik. Pemerintah pusat menginstruksikan Departemen Kesehatan agar mengerahkan semua dokter ahli di seluruh negeri untuk menyelamatkan aset negara berupa manusia bernama Monsera ini.

Tak lebih dari sebulan Monsera tersadar dari mati surinya. Yang pertama dia lihat adalah seorang perawat jaga bernama Datim yang berwajah sedih. Monsera mengajaknya berkenalan dan bertanya kenapa Datim nampak sangat bersedih.

“Suami saya memohon izin pada saya untuk menikah lagi karena setelah delapan tahun menikah saya tak bisa memberinya anak,” jawab Datim.

Monsera terdiam menatap Datim. Tiba-tiba di luar kehendaknya, kilasan-kilasan adegan berkelebatan seperti biasa dia alami. Kali ini ia meihat Datim muntah-muntah di kamar mandi, lalu bicara dengan dokter yang mengucap selamat atas kehamilannya.

“Kenapa Tuan Monsera menatap saya seperti itu?”

“Aku lihat engkau hamil, Datim.”

“Ah. Tuan pandai menyenang-nyenangkan perasaan wanita. Kalau dalam benak Tuan terbayang di masa lalu saya hamil, tentulah saya sudah melahirkan atau malah anak saya sudah besar.”

Sekonyong-konyong Monsera menjadi cemas. “Jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa, Tuang Monsera?”

“Jangan-jangan aku melihat sesuatu yang belum terjadi.”

Ternyata benar! Seminggu setelah itu Datim muntah-muntah, pergi ke dokter dan dinyatakan hamil. Datim sangat gembira dan menceritakannya pada semua orang. Dalam tempo singkat seluruh warga negeri Kalyana tahu, bahwa sekarang Monsera bukan cuma bisa melihat kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga kejadian yang belum terjadi di masa yang akan datang, hanya dengan menatap wajah orang yang akan mengalaminya. Maka berbondong-bondonglah orang mendatangi Monsera, menanyakan masa-depan pekerjaan mereka, jabatan, jodoh, vonis hakim, nomor undian, dan segala sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan oleh yang bersangkutan. Dan belakangan terbukti, bahwa yang dilihat secara maya oleh Monsera semuanya benar-benar terjadi!

Monsera kewalahan menampung imbalan berupa uang berjuta-juta, emas berkilo-kilo maupun berlian berkarat-karat, sampai ia sendiri tak sempat menghitung, apalagi menikmatinya. Sampai suatu saat ia merasa sangat lelah dan menyempatkan diri beristirahat sesaat, membasuh muka di wastafel, dan menatap wajahnya di cermin. Monsera pun tertegun. Tak lama kemudian muncul kilasan-kilasan kejadian sebagaimana selalu terjadi setiap ia menatap wajah seseorang…

Kali ini yang nampak ialah seorang lelaki kaya raya berwajah letih yang merasa bosan dengan kekayaannya, menyamar sebagai rakyat bersahaja dan lari dari rumahnya sendiri di tengah malam sunyi. Sekelompok penjahat mencegatnya, menodongkan senjata mereka ke tubuh laki-laki ini dan menghardiknya keras.

“Serahkan semua uangmu!”

“Saya tidak bawa uang sesen pun. Semua saya tinggal di rumah. Ambillah sesuka kalian kalau kalian mau.”

“Jangan main-main! Serahkan uangmu sekarang juga!”

Laki-laki ini mengulangi jawaban yang sama, hingga para penodongnya marah dan menghujamkan senjata mereka berkali-kali ke tubuhnya.

“Tidaaaak!” Monsera berteriak. “Aku tidak mau mati dengan cara begituuu!!!”

Tapi kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa.


Jakarta, 29 Maret 2001



Cerpen Karya Jujur Prananto
Dari Cerpen Pilihan KOMPAS 2002

Thursday, July 06, 2006

AKHIRNYA KUTEMUKAN MEREKA YANG HILANG!

Berangsur-angsur Kamil menduga bahwa rangkaian kejadian yang pada akhirnya membawanya masuk rumah sakit ini ialah jebakan semata. Sebutir peluru melesat dari ujung laras sebuah senapan dan menembus dada kirinya pastilah cuma ilusi belaka. Dia bahkan telah memberanikan diri meraba permukaan kulit di balik ikatan perban, dan menemukan kenyataannya tak ada luka disitu.

Jadi kenapa saya harus masuk rumah sakit?” Jam menunjuk setengah tiga dini hari.

Lampu utama kamar perawatan telah lama dimatikan. Kamil bangkit duduk, mencabut pipa-pipa infus dan oksigen yang malang-melintang di sekitar tubuhnya, turun dari ranjang, berjingkat keluar ruangan dan setengah berlari menembus keremangan koridor rumah sakit menuju gerbang utama. Sepertinya malam begitu rakus mengisap semua suara, hingga suasana begitu senyap. Langkah-langkah Kamil sampai tak menyisakan desis apa pun, hingga para satpam yang tertidur di gardu depan sama sekali bergeming tatkala Kamil melintas dua meter di sampingnya.

Belakangan Kamil baru sadar bahwa ia tak pernah mengenal nama ruma sakit yang ditinggalinya selama entah berapa hari ini. Berarti selama masa tak sadarkan diri ia mungkin lebih dibawa ke kota lain, atau provinsi lain, atau jangan-jangan ke luar pulau.

“Jadi di mana sekarang saya berada?”

Kamil terus berjalan melintasi jalanan sepi yang terang benderang. Dia sangat berharap bisa berjumpa dengan seseorang yang mengenalnya, atau dikenalnya, atau sembarang orang yang paling tidak bisa dia tanyai seputar tempat keberadaan dirinya saat ini, tetapi bahkan orang yang sekadar masih terjaga saja sama sekali tak dijumpainya.

“Jadi kepada siapa saya harus bertanya?”

Pertanyaan ini ternyata tak terlalu lama tak berjawab, sebab agak jauh di depan sana tampak seorang pemuda berjalan sendirian ke arahnya. Langkahnya mencitrakan rasa percaya diri yang tinggi. Berangsur wajahnya tampak jelas, mulai tampak senyum di wajah yang teduh, dan Kamil merasa pernah mengenalnya. Oh, ternyata bukan Cuma pernah mengenalnya, tetapi sangat mengenalnya, karena dia adalah teman dekat, pernah jadi teman sekampus, seangkatan, satu kos-kosan, bahkan sekamar!

“Yusuf….??”

Pemuda ini tersenyum makin lebar dan berucap pelan, “Ya, Kamil.”

Kamil segera beringsut maju dan memeluk sahabatnya ini erat-erat. “Kamu ternyata masih hidup, Yusuf?”

“Ingat yang dulu pernah saya katakana ke kamu? Cepat atau lambat kita akan bertemu.”

“Lalu dimana selama ini kamu berada? Dua tahun lebih kamu menghilang, Suf! Segala upaya telah kami lakukan untuk mencari kamu, Ahmad, Agam, Budiman, dan yang lain, sampai foto kalian kami buat poster dan kami sebar ke seluruh Indonesia sebagai nama-nama korban penculikan yang sampai sekarang belum ditemukan.”

“Seperti yang kamu lihat, saya ada disini.”

“Tetapi, kenapa tidak pernah menemui kami? Kenapa kamu tidak mengikuti jejak teman-teman lain yang mengumumkan secara terbuka perihal penculikan yang mereka alami? Waktu itu mereka memang bebas bicara apa saja tanpa harus takut kepada siapapun, termasuk aparat kemanan.”

Yusuf terdiam beberapa saat menatap Kamil. Lalu melihat sekeliling dan bergumam lirih. “Saya tidak mungkin melakukannya, Kamil.”

“Kenapa?”

“Kamu tahu kita sekarang berada dimana?”

Kamil gantian terdiam. Ia ingat lagi bahwa ia akan bertanya tentang keberadaan dirinya kepada orang yang pertama dia temui.

“Memang kita di mana?”

“Nama tempat ini tidak penting, tetapi yang pasti dari sini saya tidak bisa bertemu dengan semua teman lama di Jakarta. Kamu pun akan merasa hal yang sama setelah berhasil melarikan diri dari rumah sakit.”

“Dari mana kamu tahu saya lari dari rmah sakit??”

“Tidak bisa bertemu teman-teman di Jakarta bukan berarti saya sama sekali buta perkembangan situasi, Kamil. Saya tahu kamu bentrok dengan aparat keamanan waktu melakukan demo ke Cendana. Sampai kamu tertembak dan masuk rumah sakit.”

“Tetapi, saya yakin itu cuma rekayasa, Suf, sebab ternyata saya sama sekali tidak terluka. Mereka cuma mengupayakan agar saya masuk rumah sakit, hingga bisa menahan saya di luar ketentuan hukum.”

“Saya dulu juga merasa mengalami hal yang sama. Sampai saya terbuang kemari dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mendengar dan melihat.”

“Bukan begitu, Yusuf. Kamu cuma terlalu putus asa. Besok pagi kita sama-sama berusaha keluar dari tempat ini. Kembali ke Jakarta.”

Yusuf menghela nafas panjang. “Kembali ke Jakarta sebenarnya bukan masalah.”

“Jadi apa persoalannya?”

Yusuf menepuk pundak Kamil dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Berjalan meninggalkan jalan raya, berbelok memasuki lorong kecil menurun, menyisir tebing sampai ke dasarnya, ialah sebuah pantai yang begitu indah dan terang benderang oleh ribuan lampu yang menghiasi pada hampir setiap rumah serta pohon yang berdiri dan tumbuh sejajar garis pantai.

Kamil terpana. Terkesima melihat semua yang terbentang di hadapannya. Yusuf lalu membawanya ke sebuah rumah yang termegah di antara yang lain. Sebelum Yusuf mengetuk pintu, pintu itu sudah terlebih dulu terbuka, dibuka dari dalam oleh beberapa pemuda yang langsung memperlihatkan senumnya. “Selamat datang, Kamil.”

Kamil tercengang. Ahmad! Agam! Budiman! Mereka semua ada disini!

Maka terjadilah sebuah reuni yang mengharukan. Kamil merasa terbuai dalam sebuah mimpi yang teramat indah. Semua ternyata selamat. Semua masih hidup. Masih bisa tertawa dan bicara. Tetapi, kembali ke Jakarta?

“Kamu benar-benar ingin kembali ke Jakarta?” tanya mereka beramai-ramai.

“Tentu saja. Bukankah kita semua punya sanak-saudara di sana? Saya bahkan sudah berkeluarga. Anak-istri saya menanti saya pulang.”

Teman-teman Kamil saling berpandangan. Yusuf lalu membuka sebuah almari besi, mengambil sebotol minuman dari dalamnya dan memberikannya pada Kamil.

“Minumlah sampai habis. Kita akan melakukan sebuah perjalanan yang jauh dan melelahkan.”

Kamil menenggak minuman itu dan berangsur hilang kesadaran.

Entah berapa lama.

Sampai ia tersadar dan menemukan dirinya berada diruangan tertutup yang panas, pengab, dan menyesakkan. Yusuf dan yang lain ada disitu pula bersama-sama. “Kita ada di mana?”

“Ini adalah ruang tahanan tempat terakhir kita disekap,” Yusuf menjawab, dan kemudian menarik lengan Kamil, memintanya melongok ke sebuah jendela kecil berteralis besi lima belas mili.

“Kamu lihat orang-orang yang sedang bermain kartu itu? Yang berbadan paling besar ialah Sersan Mayor Hariman. Yang dua lagi Sersan Satu Sarkawi dan Sersan Dua Kusnen, yang bertugas memegangi kedua tangan dan kaki saya setiap Serma Hariman memasang kabel untuk menyetrum tubuh saya.”

“Kamu yakin mereka pelakunya?”

“Ya.”

“Kenapa tidak kamu laporkan ke teman-teman di kantor pusat?”

“Orang-orang ini cuma menjalankan perintah.”

“Bukankah dari mereka bisa dikorek keterangan tentang siapa yang memberi perintah pada mereka?”

“Semuanya sudah jelas,” Yusuf mengeluarkan gulungan kertas dari dalam tasnya dan memperlihatkannya ke Kamil. “Dokumen ini saya ambil dari lemari arsip mereka. Surat perintah dari komandan untuk menjalankan operasi melenyapkan kita.”

Kamil terperangah. “Kalau begitu kita bisa menuntut mereka secara hukum!”

“Sabar, Kamil. Sebaiknya kami antar kamu pulang dulu ke rumah.”


* * *
Jauh lewat tengah malam Kamil tiba di gerbang perumahan tempat tinggalnya, berjalan kaki melintasi gardu hansip yang didiami tiga peronda. Rupanya tak seorang pun di antara mereka melihat kedatangannya, namun Kamil justru bersyukur bisa terus berjalan tanpa harus banyak berbasa-basi.

Kamil memang ingin segera bertemu Tanti, istrinya, dan si kecil Reza yang bulan depan baru akan berulang tahun pertama. Ia pun mempercepat langkah dan segera tiba di depan rumah.

Beberapa saat ia terpaku di depan pintu pagar, seperti ingin meneliti ada-tidaknya perubahan pada rumah itu setelah sekian lama dia tinggalkan. Yang pasti halaman depan pintu kotor dan sebagian rumput tampak mongering. Pastilah istrinya menjadi terlalu sibuk hingga tak sempat merawat keasrian halaman rumahnya ini.

Hati-hati Kamil membuka pintu pagar yang tak terkunci, nyaris tak bersuara, namun ternyata cukup mengagetkan seekor kucing yang semula tiduran di sofa teras. Kucing ini terlonjak bangkit dan menggeram keras, namun Kamil tak peduli dan terus melangkah ke pintu butulan. Diambilnya anak kunci yang seperti biasanya tersimpan di balik pot kaktus, lalu ia masuk ke dalam dengan perasaan berdebar.

Tanti sudah tertidur memeluk si kecil Reza yang terlelap pula ketika Kamil hati-hati membuka pintu kamar. Kamil tak tega membangunkan istri dan anaknya dan cuma berani secara lembut mencium kening dan pipi mereka, lalu membaringkan badannya di atas karpet di samping tempat tidur. Matanya terpejam, namun tak kunjung terlelap hingga jam di dinding menunjuk pukul lima. Saat itulah Tanti terbangun, turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil air sembahyang. Kamil membuka mata dan hendak mengatakan, “Saya tidak tidur,” tetapi istrinya keburu menutup pintu. Seperti dirinya. Tanti juga tak pernah tega membangunkan orang tidur. Kamil lalu bangkit dan pindah ke tempat tidur; lama menatap si kecil Reza, mengelus-elus pipinya, menciumi tangannya. Tak lama kemudian anak ini terjaga, membuka matanya lebar-lebar. Kamil membuat ekspresi lucu dengan menggembungkan pipinya. Reza tertawa-tawa.

Sampai Tanti masuk kamar lagi dan terheran-heran melihat anaknya.

“Heeii, sudah bangun, ya? Tertawa sama siapa, sayang?”

Tanti lalu menggendong anaknya, mencium pipinya. Tak lama kemudian ibu Tanti melongok ke dalam, heran pula melihat cucunya sudah terbangun. “Tumben?”

“Sudah bangun kepagian, tidak menangis pula. Malah tertawa-tawa.”

“Dia melihat ayahnya, barangkali.”

“Ah, Ibu.”

“Mungkin saja suamimu belum ikhlas berpisah dengan kalian.”

Tanti mendekap anaknya erat-erat. Tetapi, ia sendiri kemudian merasa berdebar dan melihat sekeliling ruangan, lalu bertanya dengan nada berbisik. “Benar, sayang? Reza lihat ayah? Di mana? Bilang sama ayah, Reza sebentar lagi mau ulang tahun, ayah. Reza sayang ayah.”

Sekonyong-konyong tawa Reza terhenti. Lalu menangis keras dan menggapai-gapaikan tangannya ke arah pintu.”


Cerpen Jujur Prananto
Dari Cerpen Pilihan KOMPAS 2002

Friday, June 30, 2006

Jim Nolan: "Che Guevara. Lebih Daripada Lambang Revolusioner?"


Pada tahun 1968, bersempena dengan pergolakan sosial meluas di merata dunia, para pelajar di Universiti Bandar Paris telah menduduki asrama mereka dan memberikannya nama baru – ‘Che Guevara.’ Di Amerika Syarikat pada tahun yang sama, satu kajian menunjukkan bahawa tokoh bersejarah yang paling digemari oleh para pelajar di Universiti Berkeley, di Kalifornia, sekali lagi adalah Che Guevara.

Maka ia adalah jelas bahawa Che masih hidup, bukan sahaja dalam memori mereka yang telah melalui pergolakan tahun 1960-an – seperti para pelajar di Paris dan Berkeley – tetapi juga dalam imaginasi ramai orang yang tidak mengenali kehidupan atau politiknya. Wajah Che dapat dijumpai di merata-rata – pada kemeja-T, cawan, lukisan dan lencana, serta pada pelbagai cenderamata lain. Dari segi ini, wajah Che jelasnya telah menjadi lambang revolusioner.

Tetapi Che pada hari ini juga adalah lebih daripada lambang terkenal. Pada 1hb Januari 1994, apabila kebangkitan Zapatista bermula di Meksiko, mereka telah menggunakan riwayat Che sebagai contoh, bukan sahaja dalam lukisan dan tulisan, tetapi juga dari segi ideologi. Pada tahun 1999, apabila para pekerja Bolivia bermogok untuk menghalang penswastaan air, wajah Che telah muncul pada panji-panji dan surat berkala. Sekali lagi, pada 15hb Februari 2003, apabila lebih daripada 30 juta orang di merata dunia berdemonstrasi menentang peperangan ke atas Iraq, wajah Che muncul pada bendera, panji-panji dan majalah. Seperti yang dijelaskan oleh Jorge Castaňeda:

Tarikan mutakhir Che mengutarakan tuntutan terakhir demi utopia moden. Ia mencerminkan gabungan wawasan besar dan baik dari zaman kita – kesama-rataan, perpaduan, kebebasan individu dan kolektif – dengan lelaki dan perempuan benar yang telah mencuba menjadikannya sesuatu realiti. Nilai-nilai Che Guevara masih adalah penting, bersama dengan nilai-nilai generasinya. Harapan dan impian tahun 1960-an masih berkumandang pada penutup abad yang telah kehilangan utopia.

Siapakah Che Guevara?
Ernesto Guevara de la Serna dilahirkan pada 14hb Mei 1928 kepada keluarga kelas menengah di Rosario, Argentina. Gelaran ‘Che’ sebenarnya diberikan kepadanya beberapa tahun selepas itu oleh pihak revolusioner di Meksiko, dan diterjemahkan dengan kasar, ia bermakna ‘anda.’ Tahun-tahun awal Che dilalui di Argentina, tetapi walaupun ibunya Celia mempunyai hubungan dengan Parti Komunis Argentina, Che sendiri tidaklah berminat dalam bindang politik. Pada tahun 1948, dia memasuki Universiti Buenos Aires untuk mempelajari bidang perubatan, tetapi dia tidak mementingnya pendidikan itu.

Beberapa tahun selepas itu, Che telah membuat beberapa penjelajahan ke sekitar Amerika Latin menggunakan motosikal. Buat kali pertama, dia telah memerhatikan kehidupan pekerja dan petani di benua itu. Dalam Diari Motosikal, misalnya, Che merekodkan penjelajahannya pada tahun 1953, dengan sahabatnya Alberto Granado. Apa yang yang menarik mengenai Diari tersebut adalah bahawa ia menunjukkan perubahan yang berlaku dalam diri Che sambil identitinya sebagai warga Amerika Latin mula berkembang. Dan maka, dari masa ke semasa, Che mengulas mengenai campur tangan imperialis di Amerika Latin, walaupun dia tidak menganggap dirinya sebagai terlibat dalam mana-mana perjuangan kemerdekaan pada masa itu. Selepas menunjungi kawasan Macchu Picchu, dia menulis:

Inilah bahagian sedih… Segala pertumbuhan di kawasan kebinasaan itu dibersihkan, dikaji dan dihuraikan dengan sangat baik… dan segala benda yang jatuh ke dalam tangan pengkaji dibawa dengan berjaya ke negara masing-masing dalam dua ratus kotak, mengandungi segala harta karun arkeologi… Di manakah seseorang dapat melihat atau mengkaji harta karun bandar purba itu? Jawapannya adalah jelas: di muzium Amerika Utara.

Tahun 1954 merupakan titik perubahan, bukan sahaja bagi Che, tetapi bagi kesemua warga Amerika Latin secara umumnya. Che berada di Guatemala apabila sebuah kerajaan reformis di bawah Jacobo Arbenz mula menasionalisasikan permilikan tanah sebuah perusahaan Amerika Syarikat, iaitu Syarikat United Fruit. Di bawah Arbenz, kesatuan-kesatuan petani dibentukkan di bawah kepimpinan Parti Komunis dan para pekerja lain digerakkan dalam kesatuan-kesatuan pekerja bebas. Ini tidak dapat diterima oleh kerajaan Amerika Syarikat – mereka membiayai rampasan kuasa ketenteraan menentang Arbenz, dan Guatemala mendapat reputasi buruk kerana penindasan kejam.

Pada masa rampasan kuasa itu, Che sebenarnya mengunjungi kawasan Maya berdekatan dengan sempadan Honduras, tetapi apabila dia kembali ke Bandar Guatemala, dia menotakan dalam diarinya betapa marahnya dia dengan fakta bahawa tentangan teratur tidak diutarakan terhadap campur tangan Amerika Syarikat:

Arbenz tidak berfikir bahawa bandar itu penuh dengan pihak reaksioner, dan bahawa rumah-rumah yang dimusnahkan akan dimiliki oleh mereka dan bukannya oleh rakyat jelata, yang tidak memiliki apa-apa dan hanya mempertahankan kerajaan itu. Dan walaupun Korea dan Indocina wujud sebagai contoh, dia tidak berfikir bahawa rakyat yang bersenjata merupakan kuasa yang tidak dapat dihapuskan. Dia dapat memberikan senjata kepada rakyat, tetapi dia enggan melakukannya – dan kini kita melihat hasilnya.

Jelasnya, Che hanya mempertimbangkan persoalan ketenteraan pada masa ini – dalam erti kata lain, tindakan dan pemahamannya tidak mengandungi strategi politik yang mendalam. Namun, ia juga merupakan masa apabila Che mula tertarik dan terlibat dengan gerakan sosialis. Dia mula membaca karya-karya Marx, dia mempertahankan Revolusi Rusia tahun 1917, dan dia ingin memberikan nama Rusia (Vladimir) kepada anaknya, sebagai penghormatan kepada revolusioner Rusia bernama Vladimir Lenin.

Berperang di Kuba
Dari Guatemala, Che telah berpindah ke Meksiko, di mana dia diperkenalkan dengan sekumpulan penghijrah dari Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro. Pada masa itu, kumpulan di sekeliling Castro itu sedang merancangkan penumbangan pemerintahan diktator Fulgencio Batista di Kuba. Castro sebenarnya berasal dari kelas pemilik tanah di Kuba, tetapi apabila Batista membantutkan proses demokratik di Kuba, Castro diyakinkan bahawa satu-satunya jalan ke hadapan merupakan serangan bersenjata ke atas pemerintahan diktator itu. Che menjelaskan perjumpaan pertamanya dengan Castro seperti berikut:

Saya telah berjumpa dengannya pada suatu malam Meksiko sejuk, dan saya mengingati bahawa perbincangan pertama kami adalah mengenai politik dunia. Selepas beberapa jam – pada waktu subuh – saya sudah mengambil keputusan untuk mengikuti ekspedisi masa depan itu. Sebenarnya, selepas pengalaman mengembara di Amerika Latin dan peristiwa terakhir di Guatemala, ia bukanlah susah untuk meyakinkan saya menyertai apa-apa revolusi menentang seorang pemerintah zalim… Masih terdapatnya banyak yang perlu dilakukan, diperjuangkan, dirancang. Kami perlu berhenti menangis dan mula berjuang.

Che dan Castro berkongsi latarbelakang anti-imperialis, serta kepercayaan bahawa tugas terakhir adalah untuk mengutarakan kuasa bersenjata menentang rejim Batista. Selepas Castro membeli sebuah kapal laut kecil bernama Granma pada bulan November 1956, kumpulan itu melayar ke Kuba. Pelayaran itu hampir gagal sepenuhnya – apabila kumpulan 82 orang itu tiba di Pantai Colorados, mereka dijumpai oleh angkatan tentera Batista. Hanya 18 daripada mereka berjaya melarikan diri, dan di antara mereka merupakan Che yang juga mengalami serangan asma yang serius. Kumpulan itu mengundur diri ke pergunungan Sierra Maestra, di mana mereka berhadapan dengan lebih 10,000 askar di bawah arahan Batista. Pada masa itu, Che telah menjadi terkenal kerana kemampuan taktik, dan juga sebagai ahli Komunis paling penting dalam kumpulan itu.

Selepas pertempuran selama dua tahun di kawasan pergunungan itu, kuasa jatuh ke dalam tangan pejuang gerila tersebut dengan tidak dijangka. Ia adalah jelas bahawa perjuangan gerila itu telah membantu melemahkan rejim Batista, terutamanya selepas serangan ke atas pangkalan ketenteraan di Santa Clara. Tetapi Kuba juga merupakan tempat permainan bagi warga Amerika Syarikat yang kaya, dan apabila kerajaan Amerika Syarikat menarik balik sokongan dan bantuan persenjataan pada hujung tahun 1958, Batista ditinggalkan dalam kedudukan yang sangat lemah. Apabila Batista melarikan diri dari Kuba pada Hari Tahun Baru 1959, vakum kekuasaan telah muncul, dan kolum-kolum gerila – di bawah Che dan Castro – telah berkejar untuk memenuhi vakum itu.

Dalam sejarah rasmi, Revolusi Kuba dipersembahkan sebagai kejayaan ketenteraan penting yang melibatkan rakyat Kuba. Ia tidak dapat dinafikan bahawa, dari segi politik, Revolusi Kuba merupakan kekalahan besar bagi imperialisme Amerika Syarikat. Menjelang tahun 1950-an, Kuba seolah-olah telah menjadi negara jajahan, dengan Amerika Syarikat menguasai ekonomi dan kehidupan politik negara itu. Misalnya, menjelang tahun 1950-an, lebih 80 peratus daripada barangan import Kuba berasal dari Amerika Syarikat. Penumbangan Batista telah memberikan harapan kepada berjuta-juta orang bahawa kemiskinan dan penindasan di tangan kerajaan Amerika Syarikat akhirnya dapat dicabar. Che merumuskan perasaan ini:

Kepada tuan-tuan berkuasa, kami mewakili segala yang tidak dapat dibayangkan, negatif, tidak berhormat dan menganggu dalam benua Amerika yang mereka membencikan dan memusuhi ini. Tetapi dalam tangan sebelah, bagi rakyat benua Amerika… kami mewakili segala yang baik, tulus dan berani.

Di Kuba sendiri, berbanding dengan rejim Batista yang zalim, Castro dan Che sangatlah popular. Castaňeda menjelaskan ketika apabila Che memasuki Havana:

Camilo Fuentes [seorang lagi pejuang gerila] telah memasuki Havana pada subuh 3hb Januari, diiringi sorakan rakyat yang gembira dan berhormat. Che tiba di ibu bandar dengan lebih sulit, pada subuh hari seterusnya, diiringi hanya oleh sahabat-sahabat karib… Pada 7hb Januari, dia berkunjung ke Matanzas untuk menjemput Fidel – yang dia belum menjumpai sejak bulan Ogos – dalam perjalanannya ke Havana. Mereka memasuki ibu bandar bersama-sama pada kereta kebal, dan diiringi oleh hadirin yang sangat gembira. Fotograf perjumpaan di antara rakyat dan wira-wira mereka telah menangkap mata bukan sahaja penyunting di seluruh dunia, tetapi juga imaginasi dan simpati penyokong di merata-rata. Senyuman malu Che telah menangkap hati beribu-ribu, dan kemudian berjuta-juta warganegara Kuba, Amerika Latin dan dunia, yang menyamakan Che dengan revolusi yang juga dimiliki oleh mereka sendiri.

Maka, ia tidak dapat dinafikan bahawa gerakan gerila itu menerima sokongan umum. Populariti kerajaan baru yang dibina oleh Che dan Castro juga dibantu oleh reformasi tanah, rancangan pendidikan, tindakan kesihatan dan sebagainya. Tetapi perjuangan gerila itu tidak mengutarakan apa-apa pertubuhan rakyat – dalam erti kata lain, sokongan rakyat bagi perjuangan gerila itu hanyalah sokongan pasif. Castro dan Che telah bergerak dengan laju untuk membina pertubuhan-pertubuhan kerajaan baru – misalnya, Che diberikan tanggungjawab menyelia pertubuhan keselamatan baru, iaitu G2 – tetapi ia sentiasanya direka dari atas dan tidak mempunyai apa-apa kawalan demokratik dari bawah. Lebih-lebih lagi, pada tahun 1962, peranan kesatuan-kesatuan pekerja dihadkan, persaingan di antara pekerja diperkenalkan semula dan disiplin tenaga pekerja ditegaskan.

Tradisi ‘perubahan dari atas’ ini sangatlah bertentangan dengan tradisi yang diwakili oleh Marxsisme tulin – bahawa pembebasan kelas pekerja mestilah menjadi usaha kelas pekerja sendiri. Misalnya, pada tahun 1933, kelas pekerja Kuba telah menumbangkan seorang diktator ganas bernama Gerardo Machado. Apa yang bermula sebagai permogokan pemandu bas telah berkembang menjadi kebangkitan umum yang melibatkan para pekerja dan pelajar menentang pihak berkuasa. Kumpulan gerila Castro dan Che sebenarnya berasal dari tradisi yang bertentangan – iaitu tradisi ‘perubahan dari atas.’ Sifat Revolusi Kuba pada tahun 1959 menunjukkan perbezaan di antara dua aliran ini – ahli-ahli gerila yang tiba di Kuba pada bulan November 1956 telah mendirikan pusat di pergunungan Sierra Maestra – iaitu jauh dari pusat-pusat kelas pekerja. Bertentangan dengan permogokan umum yang telah menghancurkan pemerintahan diktator Machado, kaum pekerja tidak memainkan peranan aktif dalam revolusi tahun 1959. Untuk menerima Kuba sebagai sebuah negara sosialis akan bermakna mengubah apa yang kami maksudkan dengan ‘sosialisme.’

Kekurangan kawalan demokratik dari bawah ini adalah agak jelas dalam tulisan-tulisan Che dari masa itu. Perang Gerila, misalnya, adalah panduan mengenai cara untuk mengatur dan mengutarakan perang gerila foko, tetapi ia juga mengandungi kosenp politik revolusioner yang perlu dikaji dengan baik. Pertama sekali, ia menganggap bahawa perang gerila, sebagai strategi revolusioner utama, dapat dimulakan dan diamalkan oleh sekumpulan revolusioner kecil tanpa rujukan kepada keadaan sosial dan politik masyarakat:

Contoh revolusi kami dan pelajaran-pelajarannya bagi Amerika Latin telah menghapuskan segala teori kedai kopi: kami telah menunjukkan bahawa sebuah kumpulan kecil disokong oleh rakyat dan yang berani mati jika diperlukan, dapat mengatasi sebuah angkatan tentera dan mengalahkannya.

Dalam erti kata lain, ia merupakan kepercayaan Che bahawa individu-individu berdedikasi dapat menciptakan revolusi dalam apa-apa keadaan. Che seringkali dipersembahkan sebagai Marxsis paling maju dalam kepimpinan Revolusi Kuba, tetapi bagi pihak Marxsis tulin, kebebasan kelas pekerja mestilah menjadi tindakan kelas pekerja sendiri. Dalam erti kata lain, sokongan pasif rakyat tidaklah mencukupi – rakyat jelata patut mengambil peranan aktif dalam membebaskan diri mereka daripada belenggu kapitalis. Di Kuba misalnya, permogokan umum yang diatur oleh kumpulan Castro pada 9hb April 1958 tidak mendapat sokongan luas. Sebaliknya, gerakan Castro sebenarnya bersifat kelas menengah – ahli-ahli kumpulan Castro yang melayar pada kapal Granma semuanya datang dari kelas ini.

Pada tahun 1960-an, Tony Cliff, iaitu salah seorang pengasas Parti Pekerja Sosialis di Britain, telah mengutarakan istilah ‘revolusi berterusan terbias’ untuk menghuraikan keadaan-keadaan di mana ketidak-hadiran kelas pekerja dapat mengutarakan bentuk kepimpinan yang lain. Di Kuba, vakum kuasa yang diutarakan oleh penumbangan Batista telah dipenuhi oleh golongan akaliah dan ahli-ahli kelas menengah. Cliff menjelaskan bahawa jika kelas pemerintah lama adalah terlalu lemah untuk menggenggam kuasa berhadapan dengan kebangkitan dari bawah, sambil kelas pekerja tidak memiliki pertubuhan bebas untuk menjadi ketua gerakan tersebut, maka lapisan-lapisan inteligensia dapat merampas kuasa, sambil merasai bahawa mereka mempunyai misi untuk menyelesaikan masalah-masalah masyarakat secara menyeluruh.

Golongan inteligensia juga adalah sensitif kepada kemunduran teknikal negara mereka. Sambil melibatkan diri dalam dunia saintifik dan teknikal pada abad ke-20, ia terbantut oleh kemunduran negara mereka sendiri. Perasaan ini diutarakan lagi oleh ‘pengangguran intelek’ yang berleluasa di negara-negara tersebut. Berhadapan dengan kemunduran ekonomi umum, satu-satunya harapan bagi kebanyakan pelajar adalah pekerjaan kerajaan, tetapi tidak terdapat pekerjaan kerajaan yang mencukupi bagi semua pelajar.

Kehidupan keagamaan golongan inteligensia juga berada dalam krisis. Dalam sebuah susunan yang semakin hancur, di mana corak tradisional sedang dihancurkan, mereka berasa tidak selamat, tidak berakar, kekurangan nilai-nilai kukuh.

Adat yang semakin dileburkan membawa desakan kuat bagi integrasi baru yang perlulah bersifat menyeluruh dan dinamik jika ia ingin mengisi vakum sosial dan keagamaan. Golongan inteligensia memeluk nasionalisme dengan semangat keagamaan… Mereka sedang mencari gerakan dinamik yang akan menyatukan negara, dan membuka alam-alam luas baru baginya, tetapi pada masa yang sama, akan memberikan mereka kuasa…

Mereka mengharapkan reformasi dari atas dan ingin menghadiahkan dunai baru kepada rakyat yang berharga, dan bukannya melihat perjuangan kemerdekaan oleh rakyat yang sedari diri dan bebas demi dunia baru dengan sendiri. Mereka sangat menyukai tindakan-tindakan untuk memajukan negara mereka, tetapi tidak menyukai demokrasi… Semua ini menjadikan kapitalisme kerajaan totalitarian sangat menarik bagi golongan akaliah

Belenggu ekonomi
Balasan kerajaan Amerika Syarikat terhadap Revolusi Kuba bukanlah luarbiasa – ia mencuba memusnahkan Kuba baru dari segi politik dan ekonomi. Dari segi politik, ia mula memaksa sekutu-sekutunya seperti Meksiko untuk memulaukan Kuba dan menghancurkan revolusi tersebut, dan mencapai kemuncak dalam serangan Playa Giron atau Teluk Babi (yang gagal) pada bulan April 1961. Dari segi ekonomi, ia telah menekan sekatan ekonomi yang menghalang perdagangan dengan Kuba dan yang masih berkuatkuasa pada hari ini.

Peranan Che dalam Kuba baru perlu dilihat dalam konteks ini. Che bukan sahaja merupakan tokoh politik penting dalam Revolusi Kuba, malah dia juga memainkan peranan utama dalam perkembangan polisi-polisi ekonomi sebagai ketua Bank Nasional dan Menteri Kemajuan Perindustrian. Che jelasnya memahami bahawa perindustrian dan pertumbuhan ekonomi adalah sangat penting bagi kehidupan Kuba, tetapi bahawa keadaan yang menghadapi Kuba pada masa itu tidak membenarkan pertumbuhan ekonomi pesat. Dalam ucapan-ucapannya mengenai ekonomi di antara tahun 1959 dan 1963, tema biasa merupakan kepentingan perancangan dan keperluan memajukan industri serta membangunkan ekonomi.

Che juga memahami bahawa Kuba tidak dapat berfungsi sebagai negara terpulau buat masa yang lama, dan dua idea tersebut – kemajuan ekonomi dalam satu tangan, dan internasionalisme dalam tangan sebelah – semakin bergabung. Che menyedari bahawa jika Kuba ingin mengekalkan kemerdekaannya, ia perlu menghancurkan pergantungannya pada pengeluaran gula, yang mendirikan 95 peratus daripada pendapatan eksport negara itu. Tetapi untuk memajukan pelbagai industri, Kuba akan memerlukan peralatan perindustrian, minyak dan bahan-bahan mentah yang lain. Tetapi pemulauan Kuba di pasaran dunia – ditingkatkan oleh sekatan Amerika Syarikat – meletakkan Kuba dalam keadaan yang seolah-olah tidak dapat dilepasi.

Dan maka Kuba memasuki hubungan ekonomi rapat dengan Rusia dan negara-negara Eropah Timur yang lain. Dan buat sementara waktu, Che berharap agar Rusia akan memberikan bantuan ekonomi yang diperlukan oleh Kuba. Ia juga adalah pada masa ini yang Che mengutarakan idea-ideanya mengenai ‘emulasi sosialis’ dalam karangannya yang paling terkenal, iaitu ‘Manusia dan Sosialisme di Kuba.’ Che menulis bahawa kemajuan ekonomi hanya dapat dicapai dalam semangat “persaingan bersahabat dan bukannya dalam cara birokratik dingin.” Dan sebagai contoh, Che menggunakan masa lapangnya untuk memotong tebu (untuk pengeluaran gula) atau bekerja di kilang. ‘Emulasi sosialis,’ dia berkata, akan menggalakkan para pekerja untuk menyumbangkan daya usaha mereka kepada Revolusi Kuba. Tetapi masalahnya dapat disamakan dengan kandungan Perang Gerila – ia dipercayai bahawa hasrat manusia adalah mencukupi untuk menciptakan revolusi. Pelakon bersejarah dalam revolusi adalah pejuang gerila, bukannya gerakan popular, bukannya kelas revolusioner, bukannya kelas pekerja.

Namun demikian, dalam perdebatan-perdebatan ekonomi yang bangkit pada tahun 1963 dan 1964, Che semakin menentang tekanan Rusia pada keuntungan setiap perusahaan dan penciptaan sebuah kelas birokratik baru. Dari segi ekonomi, Rusia telah menjumpai pasaran baru bagi barangannya di Kuba dan bantuan kewangannya tidak membantu meringankan tekanan pada pengeluaran gula. Sebenarnya, apa yang Che menentang adalah penekanan ‘sosialisme’ jenis blok Soviet pada Kuba. Pada bulan Februari 1965, dalam ucapan terkenal kepada majlis Tricontinental di Algiers, Maghribi, Che telah mengutuk Kesatuan Soviet kerana kekurangan sifat internasionalisme. Ini telah membuka jurang di antara dirinya dan Castro, dan menjelang pertengahan tahun 1965, Che mendapati dirinya semakin terpulau di Kuba. Dia meletakkan kesemua jawatannya dalam kerajaan Kuba, dan dalam surat terakhir kepada Castro, menjelaskan bahawa dia ingin memberikan tumpuan kepada perjuangan revolusioner di negara-negara lain:

Negara-negara lain di dunia menuntut usaha-usaha sederhana saya… Saya membawa ke medan pertempuran baru kepercayaan yang anda telah menyemai dalam diri saya, semangat revolusioner rakyat saya, perasaan memenuhi tugas yang paling suci: untuk berjuang menentang imperialisme walau di mana seseorang berada.

Che juga semakin mengutuk imperialisme Amerika Syarikat pada masa ini. Misalnya, dalam ucapan awam terakhir, iaitu ucapan kepada Tricontinental, dia berucap mengenai penciptaan “dua, tiga atau banyak Vietnam” yang akan mencabar imperialisme. Che merupakan seorang internasionalis benar yang percaya bahawa revolusi hanya dapat hidup jika ia diseberkan ke merata dunia:

Kita mesti mengingati bahawa imperialisme adalah sesuatu sistem sedunia, tahap terakhir kapitalisme – dan ia mesti dikalahkan dalam konfrontrasi sedunia. Matlamat strategik perjuangan ini adalah penghapusan imperialisme. Tugas kami, tanggungjawab kaum yang diekesploitasi dan mundur di dunia adalah untuk menghapuskan dasar-dasar imperialisme… Unsur asas dalam matlamat strategik ini adalah kebebasan semua rakyat, sesuatu kebebasan yang akan dicapai melalui perjuangan bersenjata dalam kebanyakan kes dan yang, di Amerika kami, sudah pasti akan menjadi Revolusi Sosialis.

Menyebarkan revolusi
Menjelang tahun 1965, kumpulan-kumpulan gerila telah diasaskan di seluruh benua Amerika Latin, tetapi dalam hampir kesemua kes, mereka telah menermui kegagalan serta-merta. Penjelasan Che bagi kegagalan ini adalah bahawa strategi gerila bukanlah tersilap, hanya pengamalannya. Untuk membuktikan ini, Che telah bertolak ke Kongo di Afrika dengan sekumpulan warganegara Kuba yang kecil.

Sebab-sebab mengapa Che telah memilih Kongo bukanlah jelas, kecuali bahawa terdapatnya beberapa kumpulan bersenjata yang sudah wujud di negara itu. Tetapi Che dan kumpulannya tidak mengenali keadaan politik dan sosial di negara itu, dan tidak memahami perjuangan kuasa di antara lebih kurang dua puluh kumpulan yang ingin memimpin perjuangan di Kongo. Che sendiri tidak dapat memahami bahasa dan budaya tempatan, dan mengalami demam panas dan asma selama sebulan. Kumpulan itu sama sekali tidak memasuki pertempuran, dan kumpulan Kuba itu akhirnya melarikan diri selepas siri kesilapan dan kesalah-fahaman.

Apa yang perlu difahami di sini bukanlah bahawa usaha tersebut telah menemui kegagalan, tetapi kedegilan yang menyifatkannya. Menurut teori perang gerila, tidak terdapatnya keperluan bagi pihak revolusioner untuk menanam akar sosial dan politik, tidak terdapatnya keperluan untuk menjadi sebahagian daripada gerakan rakyat meluas, tidak terdapatnya keperluan untuk memahami keadaan-keadaan bersejarah dan kelas khusus. Satu-satunya keperluan merupakan keinginan untuk menciptakan revolusi. Usaha di Kongo itu menawarkan contoh jelas mengenai kesan-kesan sebenar akibat sesuatu teori yang menggantikan kelas revolusioner dengan pihak revolusioner sendiri. Tetapi ia merupakan pelajaran yang diabaikan oleh Che.

Che telah mengalihkan perhatiannya kepada Bolivia. Wawasan Che sebenarnya lebih luas – dia merancangkan sebuah rangkaian pertubuhan gerila dengan Bolivia di pusat geografi. Tetapi keputusannya untuk membina fokus gerila di kawasan Nancahuazu, di perhutaran Bolivia, merupakan pilihan yang kurang baik. Kawasan itu susah dijelajah dan penduduknya sangatlah tersebar dan terdiri secara umumnya daripada kaum petani tanpa pemahaman yang lebih luas mengenai realiti di Bolivia.

Pengalaman Che di Bolivia direkodkan dalam Diari Bolivia. Ia merupakan dokumen yang sangat mengharukan kerana ia merupakan rekod kegagalan. Pada satu ketika, Che menotakan bahawa permogokan pelombong sedang berlaku di kawasan Siglo XX, kurang daripada 200 batu dari tapak pejuang gerila itu, tetapi kumpulan Che tidak mempunyai hubungan dengannya. Sepanjang ekspidisi tersebut, tentera Bolivia – yang dilatih oleh Agensi Perisikan Pusat (CIA) Amerika Syarikat – semakin mengejar kumpulan gerila Che ke dalam hutan Bolivia. Hari-hari terakhir, apabila Che menjadi sangat lemah dan terpaksa diangkat oleh seorang pelombong muda, sangatlah menyedihkan. Che akhirnya ditangkap pada 8hb Oktober 1967 di kampung La Higuera, dan pada hari seterusnya, dia dibunuh oleh tentera Bolivia.

Kesimpulan
Kehidupan Che merupakan kesetiaan kepada kepentingan dan kesusahan golongan bawahan dalam masyarakat, perjuangan untuk menggalakkan orang ramai untuk meletakkan kepentingan rakyat sebelum keinginan dan hasrat peribadi, dan kesediaan untuk membuat pengorbanan demi susunan sosial yang lebih adil. Dan dari segi itu, pihak sosialis pada hari ini menghormati memori Che Guevara dan kewiraannya.

Tetapi kita tidak patut melayani warisan Che dengan tidak kritikal. Tekanan Che pada sebuah kumpulan gerila kecil yang menciptakan revolusi bagi rakyat sangatlah jauh daripada pandangan Marxsis bahawa kaum pekerja – iaitu kelas yang menciptakan kekayaan dalam masyarakat – perlu mengambil peranan aktif dalam menentukan masa depan mereka. Tragedi Revolusi Kuba adalah bahawa ia tidak berjaya melepaskan diri dari belenggu sistem kapitalis sedunia. Meskipun populariti awal rejim Castro, dan meskipun pencapaian segala reformasi dalam bidang kesihatan dan pendidikan, ia merupakan revolusi dari atas. Jika kepentingan kaum pekerja di Kuba terletak dalam revolusi sosialis antarabangsa, mereka juga akan perlu menumbangkan birokrasi kapitalis Castro yang memerintah mereka pada hari ini. Hanya dengan itu dapatnya warisan Che Guevara dicapai. John Lee Anderson merumuskan warisan ini:
Dengan kematiannya, mereka berharap, mitos Che Guevara akan berakhir. Sebaliknya, mitos Che telah bertumbuh dan berpusar keluar dari kawalan sesiapa. Berjuta-juta orang telah berkabung kerana kematiannya. Penyair dan ahli falsafah telah menulis sanjungan kepadanya, ahli-ahli muzik telah menulis lagu, dan pelukis telah melukis potretnya dalam pelbagai bentuk berwira… Dan sambil pemuda-pemudi di Amerika Syarikat dan Eropah Barat bangkit menentang pihak berkuasa berkenaan dengan Perang Vietnam, prasangka rasis dan ortodoksi sosial, wawasan tabah Che menjadi lambang baik pemberontakan subur mereka yang akhirnya gagal. Badan Che mungkin melesap, tetapi semangatnya terus hidup; Che tidak terdapat di mana-mana dan berada di merata-rata pada masa yang sama.

Jim Nolan (September 2003)