Thursday, July 06, 2006

AKHIRNYA KUTEMUKAN MEREKA YANG HILANG!

Berangsur-angsur Kamil menduga bahwa rangkaian kejadian yang pada akhirnya membawanya masuk rumah sakit ini ialah jebakan semata. Sebutir peluru melesat dari ujung laras sebuah senapan dan menembus dada kirinya pastilah cuma ilusi belaka. Dia bahkan telah memberanikan diri meraba permukaan kulit di balik ikatan perban, dan menemukan kenyataannya tak ada luka disitu.

Jadi kenapa saya harus masuk rumah sakit?” Jam menunjuk setengah tiga dini hari.

Lampu utama kamar perawatan telah lama dimatikan. Kamil bangkit duduk, mencabut pipa-pipa infus dan oksigen yang malang-melintang di sekitar tubuhnya, turun dari ranjang, berjingkat keluar ruangan dan setengah berlari menembus keremangan koridor rumah sakit menuju gerbang utama. Sepertinya malam begitu rakus mengisap semua suara, hingga suasana begitu senyap. Langkah-langkah Kamil sampai tak menyisakan desis apa pun, hingga para satpam yang tertidur di gardu depan sama sekali bergeming tatkala Kamil melintas dua meter di sampingnya.

Belakangan Kamil baru sadar bahwa ia tak pernah mengenal nama ruma sakit yang ditinggalinya selama entah berapa hari ini. Berarti selama masa tak sadarkan diri ia mungkin lebih dibawa ke kota lain, atau provinsi lain, atau jangan-jangan ke luar pulau.

“Jadi di mana sekarang saya berada?”

Kamil terus berjalan melintasi jalanan sepi yang terang benderang. Dia sangat berharap bisa berjumpa dengan seseorang yang mengenalnya, atau dikenalnya, atau sembarang orang yang paling tidak bisa dia tanyai seputar tempat keberadaan dirinya saat ini, tetapi bahkan orang yang sekadar masih terjaga saja sama sekali tak dijumpainya.

“Jadi kepada siapa saya harus bertanya?”

Pertanyaan ini ternyata tak terlalu lama tak berjawab, sebab agak jauh di depan sana tampak seorang pemuda berjalan sendirian ke arahnya. Langkahnya mencitrakan rasa percaya diri yang tinggi. Berangsur wajahnya tampak jelas, mulai tampak senyum di wajah yang teduh, dan Kamil merasa pernah mengenalnya. Oh, ternyata bukan Cuma pernah mengenalnya, tetapi sangat mengenalnya, karena dia adalah teman dekat, pernah jadi teman sekampus, seangkatan, satu kos-kosan, bahkan sekamar!

“Yusuf….??”

Pemuda ini tersenyum makin lebar dan berucap pelan, “Ya, Kamil.”

Kamil segera beringsut maju dan memeluk sahabatnya ini erat-erat. “Kamu ternyata masih hidup, Yusuf?”

“Ingat yang dulu pernah saya katakana ke kamu? Cepat atau lambat kita akan bertemu.”

“Lalu dimana selama ini kamu berada? Dua tahun lebih kamu menghilang, Suf! Segala upaya telah kami lakukan untuk mencari kamu, Ahmad, Agam, Budiman, dan yang lain, sampai foto kalian kami buat poster dan kami sebar ke seluruh Indonesia sebagai nama-nama korban penculikan yang sampai sekarang belum ditemukan.”

“Seperti yang kamu lihat, saya ada disini.”

“Tetapi, kenapa tidak pernah menemui kami? Kenapa kamu tidak mengikuti jejak teman-teman lain yang mengumumkan secara terbuka perihal penculikan yang mereka alami? Waktu itu mereka memang bebas bicara apa saja tanpa harus takut kepada siapapun, termasuk aparat kemanan.”

Yusuf terdiam beberapa saat menatap Kamil. Lalu melihat sekeliling dan bergumam lirih. “Saya tidak mungkin melakukannya, Kamil.”

“Kenapa?”

“Kamu tahu kita sekarang berada dimana?”

Kamil gantian terdiam. Ia ingat lagi bahwa ia akan bertanya tentang keberadaan dirinya kepada orang yang pertama dia temui.

“Memang kita di mana?”

“Nama tempat ini tidak penting, tetapi yang pasti dari sini saya tidak bisa bertemu dengan semua teman lama di Jakarta. Kamu pun akan merasa hal yang sama setelah berhasil melarikan diri dari rumah sakit.”

“Dari mana kamu tahu saya lari dari rmah sakit??”

“Tidak bisa bertemu teman-teman di Jakarta bukan berarti saya sama sekali buta perkembangan situasi, Kamil. Saya tahu kamu bentrok dengan aparat keamanan waktu melakukan demo ke Cendana. Sampai kamu tertembak dan masuk rumah sakit.”

“Tetapi, saya yakin itu cuma rekayasa, Suf, sebab ternyata saya sama sekali tidak terluka. Mereka cuma mengupayakan agar saya masuk rumah sakit, hingga bisa menahan saya di luar ketentuan hukum.”

“Saya dulu juga merasa mengalami hal yang sama. Sampai saya terbuang kemari dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mendengar dan melihat.”

“Bukan begitu, Yusuf. Kamu cuma terlalu putus asa. Besok pagi kita sama-sama berusaha keluar dari tempat ini. Kembali ke Jakarta.”

Yusuf menghela nafas panjang. “Kembali ke Jakarta sebenarnya bukan masalah.”

“Jadi apa persoalannya?”

Yusuf menepuk pundak Kamil dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Berjalan meninggalkan jalan raya, berbelok memasuki lorong kecil menurun, menyisir tebing sampai ke dasarnya, ialah sebuah pantai yang begitu indah dan terang benderang oleh ribuan lampu yang menghiasi pada hampir setiap rumah serta pohon yang berdiri dan tumbuh sejajar garis pantai.

Kamil terpana. Terkesima melihat semua yang terbentang di hadapannya. Yusuf lalu membawanya ke sebuah rumah yang termegah di antara yang lain. Sebelum Yusuf mengetuk pintu, pintu itu sudah terlebih dulu terbuka, dibuka dari dalam oleh beberapa pemuda yang langsung memperlihatkan senumnya. “Selamat datang, Kamil.”

Kamil tercengang. Ahmad! Agam! Budiman! Mereka semua ada disini!

Maka terjadilah sebuah reuni yang mengharukan. Kamil merasa terbuai dalam sebuah mimpi yang teramat indah. Semua ternyata selamat. Semua masih hidup. Masih bisa tertawa dan bicara. Tetapi, kembali ke Jakarta?

“Kamu benar-benar ingin kembali ke Jakarta?” tanya mereka beramai-ramai.

“Tentu saja. Bukankah kita semua punya sanak-saudara di sana? Saya bahkan sudah berkeluarga. Anak-istri saya menanti saya pulang.”

Teman-teman Kamil saling berpandangan. Yusuf lalu membuka sebuah almari besi, mengambil sebotol minuman dari dalamnya dan memberikannya pada Kamil.

“Minumlah sampai habis. Kita akan melakukan sebuah perjalanan yang jauh dan melelahkan.”

Kamil menenggak minuman itu dan berangsur hilang kesadaran.

Entah berapa lama.

Sampai ia tersadar dan menemukan dirinya berada diruangan tertutup yang panas, pengab, dan menyesakkan. Yusuf dan yang lain ada disitu pula bersama-sama. “Kita ada di mana?”

“Ini adalah ruang tahanan tempat terakhir kita disekap,” Yusuf menjawab, dan kemudian menarik lengan Kamil, memintanya melongok ke sebuah jendela kecil berteralis besi lima belas mili.

“Kamu lihat orang-orang yang sedang bermain kartu itu? Yang berbadan paling besar ialah Sersan Mayor Hariman. Yang dua lagi Sersan Satu Sarkawi dan Sersan Dua Kusnen, yang bertugas memegangi kedua tangan dan kaki saya setiap Serma Hariman memasang kabel untuk menyetrum tubuh saya.”

“Kamu yakin mereka pelakunya?”

“Ya.”

“Kenapa tidak kamu laporkan ke teman-teman di kantor pusat?”

“Orang-orang ini cuma menjalankan perintah.”

“Bukankah dari mereka bisa dikorek keterangan tentang siapa yang memberi perintah pada mereka?”

“Semuanya sudah jelas,” Yusuf mengeluarkan gulungan kertas dari dalam tasnya dan memperlihatkannya ke Kamil. “Dokumen ini saya ambil dari lemari arsip mereka. Surat perintah dari komandan untuk menjalankan operasi melenyapkan kita.”

Kamil terperangah. “Kalau begitu kita bisa menuntut mereka secara hukum!”

“Sabar, Kamil. Sebaiknya kami antar kamu pulang dulu ke rumah.”


* * *
Jauh lewat tengah malam Kamil tiba di gerbang perumahan tempat tinggalnya, berjalan kaki melintasi gardu hansip yang didiami tiga peronda. Rupanya tak seorang pun di antara mereka melihat kedatangannya, namun Kamil justru bersyukur bisa terus berjalan tanpa harus banyak berbasa-basi.

Kamil memang ingin segera bertemu Tanti, istrinya, dan si kecil Reza yang bulan depan baru akan berulang tahun pertama. Ia pun mempercepat langkah dan segera tiba di depan rumah.

Beberapa saat ia terpaku di depan pintu pagar, seperti ingin meneliti ada-tidaknya perubahan pada rumah itu setelah sekian lama dia tinggalkan. Yang pasti halaman depan pintu kotor dan sebagian rumput tampak mongering. Pastilah istrinya menjadi terlalu sibuk hingga tak sempat merawat keasrian halaman rumahnya ini.

Hati-hati Kamil membuka pintu pagar yang tak terkunci, nyaris tak bersuara, namun ternyata cukup mengagetkan seekor kucing yang semula tiduran di sofa teras. Kucing ini terlonjak bangkit dan menggeram keras, namun Kamil tak peduli dan terus melangkah ke pintu butulan. Diambilnya anak kunci yang seperti biasanya tersimpan di balik pot kaktus, lalu ia masuk ke dalam dengan perasaan berdebar.

Tanti sudah tertidur memeluk si kecil Reza yang terlelap pula ketika Kamil hati-hati membuka pintu kamar. Kamil tak tega membangunkan istri dan anaknya dan cuma berani secara lembut mencium kening dan pipi mereka, lalu membaringkan badannya di atas karpet di samping tempat tidur. Matanya terpejam, namun tak kunjung terlelap hingga jam di dinding menunjuk pukul lima. Saat itulah Tanti terbangun, turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil air sembahyang. Kamil membuka mata dan hendak mengatakan, “Saya tidak tidur,” tetapi istrinya keburu menutup pintu. Seperti dirinya. Tanti juga tak pernah tega membangunkan orang tidur. Kamil lalu bangkit dan pindah ke tempat tidur; lama menatap si kecil Reza, mengelus-elus pipinya, menciumi tangannya. Tak lama kemudian anak ini terjaga, membuka matanya lebar-lebar. Kamil membuat ekspresi lucu dengan menggembungkan pipinya. Reza tertawa-tawa.

Sampai Tanti masuk kamar lagi dan terheran-heran melihat anaknya.

“Heeii, sudah bangun, ya? Tertawa sama siapa, sayang?”

Tanti lalu menggendong anaknya, mencium pipinya. Tak lama kemudian ibu Tanti melongok ke dalam, heran pula melihat cucunya sudah terbangun. “Tumben?”

“Sudah bangun kepagian, tidak menangis pula. Malah tertawa-tawa.”

“Dia melihat ayahnya, barangkali.”

“Ah, Ibu.”

“Mungkin saja suamimu belum ikhlas berpisah dengan kalian.”

Tanti mendekap anaknya erat-erat. Tetapi, ia sendiri kemudian merasa berdebar dan melihat sekeliling ruangan, lalu bertanya dengan nada berbisik. “Benar, sayang? Reza lihat ayah? Di mana? Bilang sama ayah, Reza sebentar lagi mau ulang tahun, ayah. Reza sayang ayah.”

Sekonyong-konyong tawa Reza terhenti. Lalu menangis keras dan menggapai-gapaikan tangannya ke arah pintu.”


Cerpen Jujur Prananto
Dari Cerpen Pilihan KOMPAS 2002

Friday, June 30, 2006

Jim Nolan: "Che Guevara. Lebih Daripada Lambang Revolusioner?"


Pada tahun 1968, bersempena dengan pergolakan sosial meluas di merata dunia, para pelajar di Universiti Bandar Paris telah menduduki asrama mereka dan memberikannya nama baru – ‘Che Guevara.’ Di Amerika Syarikat pada tahun yang sama, satu kajian menunjukkan bahawa tokoh bersejarah yang paling digemari oleh para pelajar di Universiti Berkeley, di Kalifornia, sekali lagi adalah Che Guevara.

Maka ia adalah jelas bahawa Che masih hidup, bukan sahaja dalam memori mereka yang telah melalui pergolakan tahun 1960-an – seperti para pelajar di Paris dan Berkeley – tetapi juga dalam imaginasi ramai orang yang tidak mengenali kehidupan atau politiknya. Wajah Che dapat dijumpai di merata-rata – pada kemeja-T, cawan, lukisan dan lencana, serta pada pelbagai cenderamata lain. Dari segi ini, wajah Che jelasnya telah menjadi lambang revolusioner.

Tetapi Che pada hari ini juga adalah lebih daripada lambang terkenal. Pada 1hb Januari 1994, apabila kebangkitan Zapatista bermula di Meksiko, mereka telah menggunakan riwayat Che sebagai contoh, bukan sahaja dalam lukisan dan tulisan, tetapi juga dari segi ideologi. Pada tahun 1999, apabila para pekerja Bolivia bermogok untuk menghalang penswastaan air, wajah Che telah muncul pada panji-panji dan surat berkala. Sekali lagi, pada 15hb Februari 2003, apabila lebih daripada 30 juta orang di merata dunia berdemonstrasi menentang peperangan ke atas Iraq, wajah Che muncul pada bendera, panji-panji dan majalah. Seperti yang dijelaskan oleh Jorge Castaňeda:

Tarikan mutakhir Che mengutarakan tuntutan terakhir demi utopia moden. Ia mencerminkan gabungan wawasan besar dan baik dari zaman kita – kesama-rataan, perpaduan, kebebasan individu dan kolektif – dengan lelaki dan perempuan benar yang telah mencuba menjadikannya sesuatu realiti. Nilai-nilai Che Guevara masih adalah penting, bersama dengan nilai-nilai generasinya. Harapan dan impian tahun 1960-an masih berkumandang pada penutup abad yang telah kehilangan utopia.

Siapakah Che Guevara?
Ernesto Guevara de la Serna dilahirkan pada 14hb Mei 1928 kepada keluarga kelas menengah di Rosario, Argentina. Gelaran ‘Che’ sebenarnya diberikan kepadanya beberapa tahun selepas itu oleh pihak revolusioner di Meksiko, dan diterjemahkan dengan kasar, ia bermakna ‘anda.’ Tahun-tahun awal Che dilalui di Argentina, tetapi walaupun ibunya Celia mempunyai hubungan dengan Parti Komunis Argentina, Che sendiri tidaklah berminat dalam bindang politik. Pada tahun 1948, dia memasuki Universiti Buenos Aires untuk mempelajari bidang perubatan, tetapi dia tidak mementingnya pendidikan itu.

Beberapa tahun selepas itu, Che telah membuat beberapa penjelajahan ke sekitar Amerika Latin menggunakan motosikal. Buat kali pertama, dia telah memerhatikan kehidupan pekerja dan petani di benua itu. Dalam Diari Motosikal, misalnya, Che merekodkan penjelajahannya pada tahun 1953, dengan sahabatnya Alberto Granado. Apa yang yang menarik mengenai Diari tersebut adalah bahawa ia menunjukkan perubahan yang berlaku dalam diri Che sambil identitinya sebagai warga Amerika Latin mula berkembang. Dan maka, dari masa ke semasa, Che mengulas mengenai campur tangan imperialis di Amerika Latin, walaupun dia tidak menganggap dirinya sebagai terlibat dalam mana-mana perjuangan kemerdekaan pada masa itu. Selepas menunjungi kawasan Macchu Picchu, dia menulis:

Inilah bahagian sedih… Segala pertumbuhan di kawasan kebinasaan itu dibersihkan, dikaji dan dihuraikan dengan sangat baik… dan segala benda yang jatuh ke dalam tangan pengkaji dibawa dengan berjaya ke negara masing-masing dalam dua ratus kotak, mengandungi segala harta karun arkeologi… Di manakah seseorang dapat melihat atau mengkaji harta karun bandar purba itu? Jawapannya adalah jelas: di muzium Amerika Utara.

Tahun 1954 merupakan titik perubahan, bukan sahaja bagi Che, tetapi bagi kesemua warga Amerika Latin secara umumnya. Che berada di Guatemala apabila sebuah kerajaan reformis di bawah Jacobo Arbenz mula menasionalisasikan permilikan tanah sebuah perusahaan Amerika Syarikat, iaitu Syarikat United Fruit. Di bawah Arbenz, kesatuan-kesatuan petani dibentukkan di bawah kepimpinan Parti Komunis dan para pekerja lain digerakkan dalam kesatuan-kesatuan pekerja bebas. Ini tidak dapat diterima oleh kerajaan Amerika Syarikat – mereka membiayai rampasan kuasa ketenteraan menentang Arbenz, dan Guatemala mendapat reputasi buruk kerana penindasan kejam.

Pada masa rampasan kuasa itu, Che sebenarnya mengunjungi kawasan Maya berdekatan dengan sempadan Honduras, tetapi apabila dia kembali ke Bandar Guatemala, dia menotakan dalam diarinya betapa marahnya dia dengan fakta bahawa tentangan teratur tidak diutarakan terhadap campur tangan Amerika Syarikat:

Arbenz tidak berfikir bahawa bandar itu penuh dengan pihak reaksioner, dan bahawa rumah-rumah yang dimusnahkan akan dimiliki oleh mereka dan bukannya oleh rakyat jelata, yang tidak memiliki apa-apa dan hanya mempertahankan kerajaan itu. Dan walaupun Korea dan Indocina wujud sebagai contoh, dia tidak berfikir bahawa rakyat yang bersenjata merupakan kuasa yang tidak dapat dihapuskan. Dia dapat memberikan senjata kepada rakyat, tetapi dia enggan melakukannya – dan kini kita melihat hasilnya.

Jelasnya, Che hanya mempertimbangkan persoalan ketenteraan pada masa ini – dalam erti kata lain, tindakan dan pemahamannya tidak mengandungi strategi politik yang mendalam. Namun, ia juga merupakan masa apabila Che mula tertarik dan terlibat dengan gerakan sosialis. Dia mula membaca karya-karya Marx, dia mempertahankan Revolusi Rusia tahun 1917, dan dia ingin memberikan nama Rusia (Vladimir) kepada anaknya, sebagai penghormatan kepada revolusioner Rusia bernama Vladimir Lenin.

Berperang di Kuba
Dari Guatemala, Che telah berpindah ke Meksiko, di mana dia diperkenalkan dengan sekumpulan penghijrah dari Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro. Pada masa itu, kumpulan di sekeliling Castro itu sedang merancangkan penumbangan pemerintahan diktator Fulgencio Batista di Kuba. Castro sebenarnya berasal dari kelas pemilik tanah di Kuba, tetapi apabila Batista membantutkan proses demokratik di Kuba, Castro diyakinkan bahawa satu-satunya jalan ke hadapan merupakan serangan bersenjata ke atas pemerintahan diktator itu. Che menjelaskan perjumpaan pertamanya dengan Castro seperti berikut:

Saya telah berjumpa dengannya pada suatu malam Meksiko sejuk, dan saya mengingati bahawa perbincangan pertama kami adalah mengenai politik dunia. Selepas beberapa jam – pada waktu subuh – saya sudah mengambil keputusan untuk mengikuti ekspedisi masa depan itu. Sebenarnya, selepas pengalaman mengembara di Amerika Latin dan peristiwa terakhir di Guatemala, ia bukanlah susah untuk meyakinkan saya menyertai apa-apa revolusi menentang seorang pemerintah zalim… Masih terdapatnya banyak yang perlu dilakukan, diperjuangkan, dirancang. Kami perlu berhenti menangis dan mula berjuang.

Che dan Castro berkongsi latarbelakang anti-imperialis, serta kepercayaan bahawa tugas terakhir adalah untuk mengutarakan kuasa bersenjata menentang rejim Batista. Selepas Castro membeli sebuah kapal laut kecil bernama Granma pada bulan November 1956, kumpulan itu melayar ke Kuba. Pelayaran itu hampir gagal sepenuhnya – apabila kumpulan 82 orang itu tiba di Pantai Colorados, mereka dijumpai oleh angkatan tentera Batista. Hanya 18 daripada mereka berjaya melarikan diri, dan di antara mereka merupakan Che yang juga mengalami serangan asma yang serius. Kumpulan itu mengundur diri ke pergunungan Sierra Maestra, di mana mereka berhadapan dengan lebih 10,000 askar di bawah arahan Batista. Pada masa itu, Che telah menjadi terkenal kerana kemampuan taktik, dan juga sebagai ahli Komunis paling penting dalam kumpulan itu.

Selepas pertempuran selama dua tahun di kawasan pergunungan itu, kuasa jatuh ke dalam tangan pejuang gerila tersebut dengan tidak dijangka. Ia adalah jelas bahawa perjuangan gerila itu telah membantu melemahkan rejim Batista, terutamanya selepas serangan ke atas pangkalan ketenteraan di Santa Clara. Tetapi Kuba juga merupakan tempat permainan bagi warga Amerika Syarikat yang kaya, dan apabila kerajaan Amerika Syarikat menarik balik sokongan dan bantuan persenjataan pada hujung tahun 1958, Batista ditinggalkan dalam kedudukan yang sangat lemah. Apabila Batista melarikan diri dari Kuba pada Hari Tahun Baru 1959, vakum kekuasaan telah muncul, dan kolum-kolum gerila – di bawah Che dan Castro – telah berkejar untuk memenuhi vakum itu.

Dalam sejarah rasmi, Revolusi Kuba dipersembahkan sebagai kejayaan ketenteraan penting yang melibatkan rakyat Kuba. Ia tidak dapat dinafikan bahawa, dari segi politik, Revolusi Kuba merupakan kekalahan besar bagi imperialisme Amerika Syarikat. Menjelang tahun 1950-an, Kuba seolah-olah telah menjadi negara jajahan, dengan Amerika Syarikat menguasai ekonomi dan kehidupan politik negara itu. Misalnya, menjelang tahun 1950-an, lebih 80 peratus daripada barangan import Kuba berasal dari Amerika Syarikat. Penumbangan Batista telah memberikan harapan kepada berjuta-juta orang bahawa kemiskinan dan penindasan di tangan kerajaan Amerika Syarikat akhirnya dapat dicabar. Che merumuskan perasaan ini:

Kepada tuan-tuan berkuasa, kami mewakili segala yang tidak dapat dibayangkan, negatif, tidak berhormat dan menganggu dalam benua Amerika yang mereka membencikan dan memusuhi ini. Tetapi dalam tangan sebelah, bagi rakyat benua Amerika… kami mewakili segala yang baik, tulus dan berani.

Di Kuba sendiri, berbanding dengan rejim Batista yang zalim, Castro dan Che sangatlah popular. Castaňeda menjelaskan ketika apabila Che memasuki Havana:

Camilo Fuentes [seorang lagi pejuang gerila] telah memasuki Havana pada subuh 3hb Januari, diiringi sorakan rakyat yang gembira dan berhormat. Che tiba di ibu bandar dengan lebih sulit, pada subuh hari seterusnya, diiringi hanya oleh sahabat-sahabat karib… Pada 7hb Januari, dia berkunjung ke Matanzas untuk menjemput Fidel – yang dia belum menjumpai sejak bulan Ogos – dalam perjalanannya ke Havana. Mereka memasuki ibu bandar bersama-sama pada kereta kebal, dan diiringi oleh hadirin yang sangat gembira. Fotograf perjumpaan di antara rakyat dan wira-wira mereka telah menangkap mata bukan sahaja penyunting di seluruh dunia, tetapi juga imaginasi dan simpati penyokong di merata-rata. Senyuman malu Che telah menangkap hati beribu-ribu, dan kemudian berjuta-juta warganegara Kuba, Amerika Latin dan dunia, yang menyamakan Che dengan revolusi yang juga dimiliki oleh mereka sendiri.

Maka, ia tidak dapat dinafikan bahawa gerakan gerila itu menerima sokongan umum. Populariti kerajaan baru yang dibina oleh Che dan Castro juga dibantu oleh reformasi tanah, rancangan pendidikan, tindakan kesihatan dan sebagainya. Tetapi perjuangan gerila itu tidak mengutarakan apa-apa pertubuhan rakyat – dalam erti kata lain, sokongan rakyat bagi perjuangan gerila itu hanyalah sokongan pasif. Castro dan Che telah bergerak dengan laju untuk membina pertubuhan-pertubuhan kerajaan baru – misalnya, Che diberikan tanggungjawab menyelia pertubuhan keselamatan baru, iaitu G2 – tetapi ia sentiasanya direka dari atas dan tidak mempunyai apa-apa kawalan demokratik dari bawah. Lebih-lebih lagi, pada tahun 1962, peranan kesatuan-kesatuan pekerja dihadkan, persaingan di antara pekerja diperkenalkan semula dan disiplin tenaga pekerja ditegaskan.

Tradisi ‘perubahan dari atas’ ini sangatlah bertentangan dengan tradisi yang diwakili oleh Marxsisme tulin – bahawa pembebasan kelas pekerja mestilah menjadi usaha kelas pekerja sendiri. Misalnya, pada tahun 1933, kelas pekerja Kuba telah menumbangkan seorang diktator ganas bernama Gerardo Machado. Apa yang bermula sebagai permogokan pemandu bas telah berkembang menjadi kebangkitan umum yang melibatkan para pekerja dan pelajar menentang pihak berkuasa. Kumpulan gerila Castro dan Che sebenarnya berasal dari tradisi yang bertentangan – iaitu tradisi ‘perubahan dari atas.’ Sifat Revolusi Kuba pada tahun 1959 menunjukkan perbezaan di antara dua aliran ini – ahli-ahli gerila yang tiba di Kuba pada bulan November 1956 telah mendirikan pusat di pergunungan Sierra Maestra – iaitu jauh dari pusat-pusat kelas pekerja. Bertentangan dengan permogokan umum yang telah menghancurkan pemerintahan diktator Machado, kaum pekerja tidak memainkan peranan aktif dalam revolusi tahun 1959. Untuk menerima Kuba sebagai sebuah negara sosialis akan bermakna mengubah apa yang kami maksudkan dengan ‘sosialisme.’

Kekurangan kawalan demokratik dari bawah ini adalah agak jelas dalam tulisan-tulisan Che dari masa itu. Perang Gerila, misalnya, adalah panduan mengenai cara untuk mengatur dan mengutarakan perang gerila foko, tetapi ia juga mengandungi kosenp politik revolusioner yang perlu dikaji dengan baik. Pertama sekali, ia menganggap bahawa perang gerila, sebagai strategi revolusioner utama, dapat dimulakan dan diamalkan oleh sekumpulan revolusioner kecil tanpa rujukan kepada keadaan sosial dan politik masyarakat:

Contoh revolusi kami dan pelajaran-pelajarannya bagi Amerika Latin telah menghapuskan segala teori kedai kopi: kami telah menunjukkan bahawa sebuah kumpulan kecil disokong oleh rakyat dan yang berani mati jika diperlukan, dapat mengatasi sebuah angkatan tentera dan mengalahkannya.

Dalam erti kata lain, ia merupakan kepercayaan Che bahawa individu-individu berdedikasi dapat menciptakan revolusi dalam apa-apa keadaan. Che seringkali dipersembahkan sebagai Marxsis paling maju dalam kepimpinan Revolusi Kuba, tetapi bagi pihak Marxsis tulin, kebebasan kelas pekerja mestilah menjadi tindakan kelas pekerja sendiri. Dalam erti kata lain, sokongan pasif rakyat tidaklah mencukupi – rakyat jelata patut mengambil peranan aktif dalam membebaskan diri mereka daripada belenggu kapitalis. Di Kuba misalnya, permogokan umum yang diatur oleh kumpulan Castro pada 9hb April 1958 tidak mendapat sokongan luas. Sebaliknya, gerakan Castro sebenarnya bersifat kelas menengah – ahli-ahli kumpulan Castro yang melayar pada kapal Granma semuanya datang dari kelas ini.

Pada tahun 1960-an, Tony Cliff, iaitu salah seorang pengasas Parti Pekerja Sosialis di Britain, telah mengutarakan istilah ‘revolusi berterusan terbias’ untuk menghuraikan keadaan-keadaan di mana ketidak-hadiran kelas pekerja dapat mengutarakan bentuk kepimpinan yang lain. Di Kuba, vakum kuasa yang diutarakan oleh penumbangan Batista telah dipenuhi oleh golongan akaliah dan ahli-ahli kelas menengah. Cliff menjelaskan bahawa jika kelas pemerintah lama adalah terlalu lemah untuk menggenggam kuasa berhadapan dengan kebangkitan dari bawah, sambil kelas pekerja tidak memiliki pertubuhan bebas untuk menjadi ketua gerakan tersebut, maka lapisan-lapisan inteligensia dapat merampas kuasa, sambil merasai bahawa mereka mempunyai misi untuk menyelesaikan masalah-masalah masyarakat secara menyeluruh.

Golongan inteligensia juga adalah sensitif kepada kemunduran teknikal negara mereka. Sambil melibatkan diri dalam dunia saintifik dan teknikal pada abad ke-20, ia terbantut oleh kemunduran negara mereka sendiri. Perasaan ini diutarakan lagi oleh ‘pengangguran intelek’ yang berleluasa di negara-negara tersebut. Berhadapan dengan kemunduran ekonomi umum, satu-satunya harapan bagi kebanyakan pelajar adalah pekerjaan kerajaan, tetapi tidak terdapat pekerjaan kerajaan yang mencukupi bagi semua pelajar.

Kehidupan keagamaan golongan inteligensia juga berada dalam krisis. Dalam sebuah susunan yang semakin hancur, di mana corak tradisional sedang dihancurkan, mereka berasa tidak selamat, tidak berakar, kekurangan nilai-nilai kukuh.

Adat yang semakin dileburkan membawa desakan kuat bagi integrasi baru yang perlulah bersifat menyeluruh dan dinamik jika ia ingin mengisi vakum sosial dan keagamaan. Golongan inteligensia memeluk nasionalisme dengan semangat keagamaan… Mereka sedang mencari gerakan dinamik yang akan menyatukan negara, dan membuka alam-alam luas baru baginya, tetapi pada masa yang sama, akan memberikan mereka kuasa…

Mereka mengharapkan reformasi dari atas dan ingin menghadiahkan dunai baru kepada rakyat yang berharga, dan bukannya melihat perjuangan kemerdekaan oleh rakyat yang sedari diri dan bebas demi dunia baru dengan sendiri. Mereka sangat menyukai tindakan-tindakan untuk memajukan negara mereka, tetapi tidak menyukai demokrasi… Semua ini menjadikan kapitalisme kerajaan totalitarian sangat menarik bagi golongan akaliah

Belenggu ekonomi
Balasan kerajaan Amerika Syarikat terhadap Revolusi Kuba bukanlah luarbiasa – ia mencuba memusnahkan Kuba baru dari segi politik dan ekonomi. Dari segi politik, ia mula memaksa sekutu-sekutunya seperti Meksiko untuk memulaukan Kuba dan menghancurkan revolusi tersebut, dan mencapai kemuncak dalam serangan Playa Giron atau Teluk Babi (yang gagal) pada bulan April 1961. Dari segi ekonomi, ia telah menekan sekatan ekonomi yang menghalang perdagangan dengan Kuba dan yang masih berkuatkuasa pada hari ini.

Peranan Che dalam Kuba baru perlu dilihat dalam konteks ini. Che bukan sahaja merupakan tokoh politik penting dalam Revolusi Kuba, malah dia juga memainkan peranan utama dalam perkembangan polisi-polisi ekonomi sebagai ketua Bank Nasional dan Menteri Kemajuan Perindustrian. Che jelasnya memahami bahawa perindustrian dan pertumbuhan ekonomi adalah sangat penting bagi kehidupan Kuba, tetapi bahawa keadaan yang menghadapi Kuba pada masa itu tidak membenarkan pertumbuhan ekonomi pesat. Dalam ucapan-ucapannya mengenai ekonomi di antara tahun 1959 dan 1963, tema biasa merupakan kepentingan perancangan dan keperluan memajukan industri serta membangunkan ekonomi.

Che juga memahami bahawa Kuba tidak dapat berfungsi sebagai negara terpulau buat masa yang lama, dan dua idea tersebut – kemajuan ekonomi dalam satu tangan, dan internasionalisme dalam tangan sebelah – semakin bergabung. Che menyedari bahawa jika Kuba ingin mengekalkan kemerdekaannya, ia perlu menghancurkan pergantungannya pada pengeluaran gula, yang mendirikan 95 peratus daripada pendapatan eksport negara itu. Tetapi untuk memajukan pelbagai industri, Kuba akan memerlukan peralatan perindustrian, minyak dan bahan-bahan mentah yang lain. Tetapi pemulauan Kuba di pasaran dunia – ditingkatkan oleh sekatan Amerika Syarikat – meletakkan Kuba dalam keadaan yang seolah-olah tidak dapat dilepasi.

Dan maka Kuba memasuki hubungan ekonomi rapat dengan Rusia dan negara-negara Eropah Timur yang lain. Dan buat sementara waktu, Che berharap agar Rusia akan memberikan bantuan ekonomi yang diperlukan oleh Kuba. Ia juga adalah pada masa ini yang Che mengutarakan idea-ideanya mengenai ‘emulasi sosialis’ dalam karangannya yang paling terkenal, iaitu ‘Manusia dan Sosialisme di Kuba.’ Che menulis bahawa kemajuan ekonomi hanya dapat dicapai dalam semangat “persaingan bersahabat dan bukannya dalam cara birokratik dingin.” Dan sebagai contoh, Che menggunakan masa lapangnya untuk memotong tebu (untuk pengeluaran gula) atau bekerja di kilang. ‘Emulasi sosialis,’ dia berkata, akan menggalakkan para pekerja untuk menyumbangkan daya usaha mereka kepada Revolusi Kuba. Tetapi masalahnya dapat disamakan dengan kandungan Perang Gerila – ia dipercayai bahawa hasrat manusia adalah mencukupi untuk menciptakan revolusi. Pelakon bersejarah dalam revolusi adalah pejuang gerila, bukannya gerakan popular, bukannya kelas revolusioner, bukannya kelas pekerja.

Namun demikian, dalam perdebatan-perdebatan ekonomi yang bangkit pada tahun 1963 dan 1964, Che semakin menentang tekanan Rusia pada keuntungan setiap perusahaan dan penciptaan sebuah kelas birokratik baru. Dari segi ekonomi, Rusia telah menjumpai pasaran baru bagi barangannya di Kuba dan bantuan kewangannya tidak membantu meringankan tekanan pada pengeluaran gula. Sebenarnya, apa yang Che menentang adalah penekanan ‘sosialisme’ jenis blok Soviet pada Kuba. Pada bulan Februari 1965, dalam ucapan terkenal kepada majlis Tricontinental di Algiers, Maghribi, Che telah mengutuk Kesatuan Soviet kerana kekurangan sifat internasionalisme. Ini telah membuka jurang di antara dirinya dan Castro, dan menjelang pertengahan tahun 1965, Che mendapati dirinya semakin terpulau di Kuba. Dia meletakkan kesemua jawatannya dalam kerajaan Kuba, dan dalam surat terakhir kepada Castro, menjelaskan bahawa dia ingin memberikan tumpuan kepada perjuangan revolusioner di negara-negara lain:

Negara-negara lain di dunia menuntut usaha-usaha sederhana saya… Saya membawa ke medan pertempuran baru kepercayaan yang anda telah menyemai dalam diri saya, semangat revolusioner rakyat saya, perasaan memenuhi tugas yang paling suci: untuk berjuang menentang imperialisme walau di mana seseorang berada.

Che juga semakin mengutuk imperialisme Amerika Syarikat pada masa ini. Misalnya, dalam ucapan awam terakhir, iaitu ucapan kepada Tricontinental, dia berucap mengenai penciptaan “dua, tiga atau banyak Vietnam” yang akan mencabar imperialisme. Che merupakan seorang internasionalis benar yang percaya bahawa revolusi hanya dapat hidup jika ia diseberkan ke merata dunia:

Kita mesti mengingati bahawa imperialisme adalah sesuatu sistem sedunia, tahap terakhir kapitalisme – dan ia mesti dikalahkan dalam konfrontrasi sedunia. Matlamat strategik perjuangan ini adalah penghapusan imperialisme. Tugas kami, tanggungjawab kaum yang diekesploitasi dan mundur di dunia adalah untuk menghapuskan dasar-dasar imperialisme… Unsur asas dalam matlamat strategik ini adalah kebebasan semua rakyat, sesuatu kebebasan yang akan dicapai melalui perjuangan bersenjata dalam kebanyakan kes dan yang, di Amerika kami, sudah pasti akan menjadi Revolusi Sosialis.

Menyebarkan revolusi
Menjelang tahun 1965, kumpulan-kumpulan gerila telah diasaskan di seluruh benua Amerika Latin, tetapi dalam hampir kesemua kes, mereka telah menermui kegagalan serta-merta. Penjelasan Che bagi kegagalan ini adalah bahawa strategi gerila bukanlah tersilap, hanya pengamalannya. Untuk membuktikan ini, Che telah bertolak ke Kongo di Afrika dengan sekumpulan warganegara Kuba yang kecil.

Sebab-sebab mengapa Che telah memilih Kongo bukanlah jelas, kecuali bahawa terdapatnya beberapa kumpulan bersenjata yang sudah wujud di negara itu. Tetapi Che dan kumpulannya tidak mengenali keadaan politik dan sosial di negara itu, dan tidak memahami perjuangan kuasa di antara lebih kurang dua puluh kumpulan yang ingin memimpin perjuangan di Kongo. Che sendiri tidak dapat memahami bahasa dan budaya tempatan, dan mengalami demam panas dan asma selama sebulan. Kumpulan itu sama sekali tidak memasuki pertempuran, dan kumpulan Kuba itu akhirnya melarikan diri selepas siri kesilapan dan kesalah-fahaman.

Apa yang perlu difahami di sini bukanlah bahawa usaha tersebut telah menemui kegagalan, tetapi kedegilan yang menyifatkannya. Menurut teori perang gerila, tidak terdapatnya keperluan bagi pihak revolusioner untuk menanam akar sosial dan politik, tidak terdapatnya keperluan untuk menjadi sebahagian daripada gerakan rakyat meluas, tidak terdapatnya keperluan untuk memahami keadaan-keadaan bersejarah dan kelas khusus. Satu-satunya keperluan merupakan keinginan untuk menciptakan revolusi. Usaha di Kongo itu menawarkan contoh jelas mengenai kesan-kesan sebenar akibat sesuatu teori yang menggantikan kelas revolusioner dengan pihak revolusioner sendiri. Tetapi ia merupakan pelajaran yang diabaikan oleh Che.

Che telah mengalihkan perhatiannya kepada Bolivia. Wawasan Che sebenarnya lebih luas – dia merancangkan sebuah rangkaian pertubuhan gerila dengan Bolivia di pusat geografi. Tetapi keputusannya untuk membina fokus gerila di kawasan Nancahuazu, di perhutaran Bolivia, merupakan pilihan yang kurang baik. Kawasan itu susah dijelajah dan penduduknya sangatlah tersebar dan terdiri secara umumnya daripada kaum petani tanpa pemahaman yang lebih luas mengenai realiti di Bolivia.

Pengalaman Che di Bolivia direkodkan dalam Diari Bolivia. Ia merupakan dokumen yang sangat mengharukan kerana ia merupakan rekod kegagalan. Pada satu ketika, Che menotakan bahawa permogokan pelombong sedang berlaku di kawasan Siglo XX, kurang daripada 200 batu dari tapak pejuang gerila itu, tetapi kumpulan Che tidak mempunyai hubungan dengannya. Sepanjang ekspidisi tersebut, tentera Bolivia – yang dilatih oleh Agensi Perisikan Pusat (CIA) Amerika Syarikat – semakin mengejar kumpulan gerila Che ke dalam hutan Bolivia. Hari-hari terakhir, apabila Che menjadi sangat lemah dan terpaksa diangkat oleh seorang pelombong muda, sangatlah menyedihkan. Che akhirnya ditangkap pada 8hb Oktober 1967 di kampung La Higuera, dan pada hari seterusnya, dia dibunuh oleh tentera Bolivia.

Kesimpulan
Kehidupan Che merupakan kesetiaan kepada kepentingan dan kesusahan golongan bawahan dalam masyarakat, perjuangan untuk menggalakkan orang ramai untuk meletakkan kepentingan rakyat sebelum keinginan dan hasrat peribadi, dan kesediaan untuk membuat pengorbanan demi susunan sosial yang lebih adil. Dan dari segi itu, pihak sosialis pada hari ini menghormati memori Che Guevara dan kewiraannya.

Tetapi kita tidak patut melayani warisan Che dengan tidak kritikal. Tekanan Che pada sebuah kumpulan gerila kecil yang menciptakan revolusi bagi rakyat sangatlah jauh daripada pandangan Marxsis bahawa kaum pekerja – iaitu kelas yang menciptakan kekayaan dalam masyarakat – perlu mengambil peranan aktif dalam menentukan masa depan mereka. Tragedi Revolusi Kuba adalah bahawa ia tidak berjaya melepaskan diri dari belenggu sistem kapitalis sedunia. Meskipun populariti awal rejim Castro, dan meskipun pencapaian segala reformasi dalam bidang kesihatan dan pendidikan, ia merupakan revolusi dari atas. Jika kepentingan kaum pekerja di Kuba terletak dalam revolusi sosialis antarabangsa, mereka juga akan perlu menumbangkan birokrasi kapitalis Castro yang memerintah mereka pada hari ini. Hanya dengan itu dapatnya warisan Che Guevara dicapai. John Lee Anderson merumuskan warisan ini:
Dengan kematiannya, mereka berharap, mitos Che Guevara akan berakhir. Sebaliknya, mitos Che telah bertumbuh dan berpusar keluar dari kawalan sesiapa. Berjuta-juta orang telah berkabung kerana kematiannya. Penyair dan ahli falsafah telah menulis sanjungan kepadanya, ahli-ahli muzik telah menulis lagu, dan pelukis telah melukis potretnya dalam pelbagai bentuk berwira… Dan sambil pemuda-pemudi di Amerika Syarikat dan Eropah Barat bangkit menentang pihak berkuasa berkenaan dengan Perang Vietnam, prasangka rasis dan ortodoksi sosial, wawasan tabah Che menjadi lambang baik pemberontakan subur mereka yang akhirnya gagal. Badan Che mungkin melesap, tetapi semangatnya terus hidup; Che tidak terdapat di mana-mana dan berada di merata-rata pada masa yang sama.

Jim Nolan (September 2003)

Wednesday, June 28, 2006

NICCOLO MACHIAVELLI (1469-1527)


Filosof politik Italia, Niccolo Machiavelli, termasyhur karena nasihatnya yang blak-blakan bahwa seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan.

Dikutuk banyak orang selaku bajingan tak bennoral, dipuja oleh lainnya selaku realis tulen yang berani memaparkan keadaan dunia apa adanya, Machiavelli salah satu dari sedikit penulis yang hasil karyanya begitu dekat dengan studi baik filosof maupun politikus.

Machiavelli lahir tahun 1469 di Florence, Italia. Ayahnya, seorang ahli hukum, tergolong anggota famili terkemuka, tetapi tidak begitu berada.

Selama masa hidup Machiavelli --pada saat puncak-puncaknya Renaissance Italia-- Italia terbagi-bagi dalam negara-negara kecil, berbeda dengan negeri yang bersatu seperti Perancis, Spanyol atau Inggris. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa dalam masanya Italia lemah secara militer padahal brilian di segi kultur.

Di kala Machiavelli muda, Florence diperintah oleh penguasa Medici yang masyhur, Lorenzo yang terpuji. Tetapi Lorenzo meninggal dunia tahun 1492, dan beberapa tahun kemudian penguasa Medici diusir dari Florence; Florence menjadi republik (Republik Florentine) dan tahun 1498, Machiavelli yang berumur dua puluh sembilan tahun peroleh kedudukan tinggi di pemerintahan sipil Florence. Selama empat belas tahun sesudah itu dia mengabdi kepada Republik Florentine dan terlibat dalam pelbagai missi diplomatik atas namanya, melakukan perjalanan ke Perancis, Jerman, dan di dalam negeri Italia.

Tahun 1512, Republik Florentine digulingkan dan penguasa Medici kembali pegang tampuk kekuasaan, Machiavelli dipecat dari posisinya, dan di tahun berikutnya dia ditahan atas tuduhan terlibat dalam komplotan melawan penguasa Medici. Dia disiksa tetapi tetap bertahan menyatakan tidak bersalah dan akhirnya dibebaskan pada tahun itu juga. Sesudah itu dia pensiun dan berdiam di sebuah perkebunan kecil di San Casciano tidak jauh dari Florence.

Selama empat belas tahun sesudah itu, dia menulis beberapa buku, dua diantaranya yang paling masyhur adalah The Prince, (Sang Pangeran) ditulis tahun 1513, dan The Discourses upon the First Ten Books of Titus Livius (Pembicaraan terhadap sepuluh buku pertama Titus Livius). Diantara karya-karya lainnya adalah The art of war (seni berperang), A History of Florence (sejarah Florence) dan La Mandragola (suatu drama yang bagus, kadang-kadang masih dipanggungkan orang). Tetapi, karya pokoknya yang terkenal adalah The Prince (Sang Pangeran), mungkin yang paling brilian yang pernah ditulisnya dan memang paling mudah dibaca dari semua tulisan filosofis. Machiavelli kawin dan punya enam anak. Dia meninggal dunia tahun 1527 pada umur lima puluh delapan.

The Prince dapat dianggap nasihat praktek terpenting buat seorang kepada negara. Pikiran dasar buku ini adalah, untuk suatu keberhasilan, seorang Pangeran harus mengabaikan pertimbangan moral sepenuhnya dan mengandalkan segala, sesuatunya atas kekuatan dan kelicikan. Machiavelli menekankan di atas segala-galanya yang terpenting adalah suatu negara mesti dipersenjatai dengan baik. Dia berpendapat, hanya dengan tentara yang diwajibkan dari warga negara itu sendiri yang bisa dipercaya; negara yang bergantung pada tentara bayaran atau tentara dari negeri lain adalah lemah dan berbahaya.

Machiavelli menasihatkan sang Pangeran agar dapat dukungan penduduk, karena kalau tidak, dia tidak punya sumber menghadapi kesulitan. Tentu, Machiavelli maklum bahwa kadangkala seorang penguasa baru, untuk memperkokoh kekuasaannya, harus berbuat sesuatu untuk mengamankan kekuasaannya, terpaksa berbuat yang tidak menyenangkan warganya. Dia usul, meski begitu untuk merebut sesuatu negara, si penakluk mesti mengatur langkah kekejaman sekaligus sehingga tidak perlu mereka alami tiap hari kelonggaran harus diberikan sedikit demi sedikit sehingga mereka bisa merasa senang."

Untuk mencapai sukses, seorang Pangeran harus dikelilingi dengan menteri-menteri yang mampu dan setia: Machiavelli memperingatkan Pangeran agar menjauhkan diri dari penjilat dan minta pendapat apa yang layak dilakukan.

Dalam bab 17 buku The Prince , Machiavelli memperbincangkan apakah seorang Pangeran itu lebih baik dibenci atau dicintai. Tulis Machiavelli: "... Jawabnya ialah orang selayaknya bisa ditakuti dan dicintai sekaligus. Tetapi ... lebih aman ditakuti daripada dicintai, apabila kita harus pilih salah satu. Sebabnya, cinta itu diikat oleh kewajiban yang membuat seseorang mementingkan dirinya sendiri, dan ikatan itu akan putus apabila berhadapan dengan kepentingannya. Tetapi ... takut didorong oleh kecemasan kena hukuman, tidak pernah meleset ..."

Bab 18 yang berjudul "Cara bagaimana seorang Pangeran memegang kepercayaannya." Di sini Machiavelli berkata "... seorang penguasa yang cermat tidak harus memegang kepercayaannya jika pekerjaan itu berlawanan dengan kepentingannya ..." Dia menambahkan, "Karena tidak ada dasar resmi yang menyalahkan seorang Pangeran yang minta maaf karena dia tidak memenuhi janjinya," karena "... manusia itu begitu sederhana dan mudah mematuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukannya saat itu, dan bahwa seorang yang menipu selalu akan menemukan orang yang mengijinkan dirinya ditipu." Sebagai hasil wajar dari pandangan itu, Machiavelli menasihatkan sang Pangeran supaya senantiasa waspada terhadap janji-janji orang lain.

The Prince (Sang Pangeran) sering dijuluki orang "buku petunjuk untuk para diktator." Karier Machiavelli dan pelbagai tulisannya menunjukkan bahwa secara umum dia cenderung kepada bentuk pemerintahan republik ketimbang pemerintahan diktator. Tetapi dia cemas dan khawatir atas lemahnya politik dan militer Italia, dan merindukan seorang Pangeran yang kuat yang mampu mengatur negeri dan menghalau tentara-tentara asing yang merusak dan menista negerinya. Menarik untuk dicatat, meskipun Machiavelli menganjurkan seorang Pangeran agar melakukan tindakan-tindakan kejam dan sinis, dia sendiri seorang idealis dan seorang patriot, dan tidak begitu mampu mempraktekkannya sendiri apa yang dia usulkan.

Sedikit filosof politik yang begitu sengit diganyang seperti dialami Machiavelli. Bertahun-tahun, dia dikutuk seperti layaknya seorang turunan iblis, dan namanya digunakan sebagai sinonim kepalsuan dan kelicikan. (Tak jarang, kutukan paling sengit datang dari mereka yang justru mempraktekkan ajaran Machiavelli, suatu kemunafikan yang mungkin prinsipnya disetujui juga oleh Machiavelli)!

Kritik-kritik yang dilempar ke muka Machiavelli dari dasar alasan moral tidaklah, tentu saja, menunjukkan bahwa dia tidak berpengaruh samasekali. Kritik yang lebih langsung adalah tuduhan keberatan bahwa idenya itu bukan khusus keluar dari kepalanya sendiri. Tidak orisinal! Ini sedikit banyak ada benarnya juga. Machiavelli berulang kali menanyakan bahwa dia tidak mengusulkan sesuatu yang baru melainkan sekedar menunjukkan teknik yang telah pernah dilaksanakan oleh para Pangeran terdahulu dengan penuh sukses. Kenyataan menunjukkan Machiavelli tak henti-hentinya melukiskan usulnya seraya mengambil contoh kehebatan-kehebatan yang pernah terjadi di jaman lampau, atau dari kejadian di Italia yang agak baruan. Cesare Borgia (yang dipuji-puji oleh Machiavelli dalam buku The Prince) tidaklah belajar taktik dari Machiavelli; malah sebaliknya, Machiavelli yang belajar darinya.

Kendati Benito Mussolini adalah satu dari sedikit pemuka politik yang pernah memuji Machiavelli di muka umum, karena itu tak meragukan lagi sejumlah besar tokoh-tokoh politik terkemuka sudah pernah baca The Prince dengan cermat. Konon, Napoleon senantiasa tidur di bantal yang di bawahnya terselip buku The Prince, begitu pula orang bilang dilakukan oleh Hitler dan Stalin. Meski demikian, tidaklah tampak jelas bahwa taktik Machiavelli lebih umum digunakan dalam politik modern ketimbang di masa sebelum The Prince diterbitkan. Ini merupakan alasan utama mengapa Machiavelli tidak ditempatkan lebih tinggi dari tempatnya sekarang di buku ini.

Tetapi, jika efek, pikiran Machiavelli dalam praktek politik tidak begitu jelas, pengaruhnya dalam teori politik tidaklah perlu diperdebatkan. Penulis-penulis sebelumnya seperti Plato dan St. Augustine, telah mengaitkan politik dengan etika dan teologi. Machiavelli memperbincangkan sejarah dan politik sepenuhnya dalam kaitan manusiawi dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan moral. Masalah sentral, dia bilang, adalah bukan bagaimana rakyat harus bertingkah laku; bukannya siapa yang mesti berkuasa, tetapi bagaimana sesungguhnya orang bisa peroleh kekuasaan. Teori politik ini diperbincangkan sekarang dalam cara yang lebih realisitis daripada sebelumnya tanpa mengecilkan arti penting pengaruh Machiavelli. Orang ini secara tepat dapat dianggap salah satu dari pendiri penting pemikir politik modern.

Wednesday, June 21, 2006

Roque Dalton: "Aku Senang Tertawa dan Mengasihi Rakyat"

Roque Dalton lahir pada 14 Mei, 1935, di San Salvador, El Salvador. Bapaknya salah seorang dari residivis Dalton Bersaudara. Ibunya lah, seorang perawat, yang menanggung hidup keluarganya. Setelah setahun di Universitas Santiago, Chili, Roque mendaftar ke Universitas San Salvador, 1956-di sini ia mendirikan Lingkaran Studi Sastra Universitas, yang gedungnya kemudian dibakar tentara. Setahun setelah itu, ia bergabung dengan Partai Komunis; karenanya, pada tahun 1959 dan tahun 1960, ia dipenjara, dengan dakwaan: menghasut tentara dan kaum tani untuk memberontak pada tuan tanah. Dalton divonis mati, tapi hidupnya diselamatkan sehari sebelum eksekusi-saat diktator Kolonel José Maria Lemus terguling. Pada tahun 1961, ia menjalani pembuangan di Mexico, menulis beberapa sajak, yang dipublikasikan dalam La Ventana en el rostro (“Jendela yang di Hadapan Mukaku”) dan El turno del ofendido (“Giliran Mereka yang dizalimi”)-yang ia dedikasikan untuk kepala kepolisan El Salvador, yang gagal mendakwanya.

Ia ke Mexico, sebagai buangan politik. Dari Mexico, Roque, secara sukarela, pindah menetap di Kuba-dengan hangat, para penulis Kuba dan buangan Amerika Latin, yang biasa ngumpul-ngumpul di Casa de las Amèricas, menyambutnya. Sejak saat itu, dimulai dengan karyanya “Jendela di Hadapan Mukaku” dan El Mar (“Laut Itu”) pada tahun 1962, hampir seluruh karya puisinya diterbitkan di Kuba. Pada musim panas 1965, ia kembali ke El Salvador untuk melanjutkankan perjuangan politiknya. Dua bulan setelah kedatangannya, ia ditangkap lagi, disiksa dan, lagi-lagi, divonis mati. Tapi, lagi-lagi juga, ia berhasil melarikan diri saat gempa bumi menghancurkan dinding selnya-ia gali reruntuhan dinding selnya menjadi lubang jalan lari.

Monday, June 19, 2006

Duh, Gerahnya Ormas ala Militer

“Yang merusak moral bangsa… usir! Yang merusak moral bangsa... usir! Hidup FBR! Yang kurang ajar... hajar! Yang merusak moral bangsa, yang anarkis, hajar! Yang di belakang Inul, iblis! Yang di belakang Inul, iblis.”

Itu adalah salah satu teriakan massa Forum Betawi Rempug (FBR) saat menggelar aksi. Setiap melakukan aksi, organisasi kemasyarakatan berseragam hitam-hitam ini bergaya militer. Polah tingkah ormas sipil berseragam seperti FBR, Front Pembela Islam (FPI), dan sebagainya membuat gerah banyak orang. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah salah satu orang yang gerah melihat tingkah mereka. Makanya, Gus Dur meminta agar kelompok seperti itu dibubarkan.

Tuesday, June 13, 2006

Bencana dan Mitologi Kekuasaan

Hidup di negeri ini akhir-akhir ini memang terasa sedikit agak mengerikan. Betapa tidak. Krisis ekonomi kian tak menentu kapan akan berakhir, bahkan justru semakin menjadikan rakyat banyak di bangsa ini menderita. Masalah yang terjadi di beberapa daerah juga tak kunjung terselesaikan. Yang paling dahsyat adalah terjadinya bencana alam dan musibah lain yang membawa korban jiwa manusia begitu banyak, silih berganti dari satu daerah ke daerah lain, seolah-olah tak ada hentinya. Dan Sabtu pagi lalu, dunia kembali dikejutkan oleh gempa tektonik di Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang menelan korban manusia sekitar 4.000 jiwa. Kondisi korban materinya hampir seperti di Aceh dan Nias, yakni rumah-rumah penduduk dan bangunan lain umumnya rata dengan tanah.

Wednesday, June 07, 2006

Kisah Cahaya

Aku bergerak melayang sambil memperhatikan sekelilingku. Cahaya-cahaya itu sebagian terlihat berkelompok. Beberapa lainnya terlihat menyendiri atau berdua. Semua mengeluarkan suara bergumam. Seperti dengungan lebah.

Tubuhku tergeletak di aspal hitam yang basah oleh air hujan. Kepalaku mengeluarkan darah segar yang lama kelamaan mengalir membentuk kubangan kecil. Orang-orang mengerumuniku. Beberapa mencoba menepuk wajahku, berusaha membuatku berbicara. Tak jauh dari tubuhku, tampak sebuah mobil sedan hitam, dengan setengah badan hancur remuk menghantam besi pembatas jalan.

Tuesday, June 06, 2006

Bob Marley, Revolusi, dan Perdamaian

Jalan Riang Menafsir Revolusi

Di tengah gemuruh revolusi dunia, tepatnya 6 Februari 1945, Bob Marley yang bernama asli Robert Nesta Marley lahir di Jamaika.

oleh Chavchay Syaifullah, Sastrawan Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat

It takes a revolution, to make a solution Too much confusion, so much frustrationI don't wanna live in the park Can't trust no shadows after darkSo, my friend, I wish that you could seeLike a bird in the tree, the prisoners must be free!(Revolution, Bob Marley)

Di tengah gemuruh revolusi dunia, tepatnya 6 Februari 1945, Bob Marley yang bernama asli Robert Nesta Marley lahir di Jamaika. Seperti anak kecil umumnya di sebuah negeri miskin, Bob pun ikut bekerja mencari nafkah.

Sepulang dari sekolah, ia bersama ibunya, Cedella Marley, membuat usaha pengelasan secara kecil-kecilan, meski Bob akhirnya menyadari potensinya bukan di situ. Lalu ia pilih bernyanyi dan bermusik dengan banyak belajar dari Joe Higgs, tetangganya di Kingstone, yang juga pemusik dan pencipta lagu.

Sejak itu dia aktif mempelajari musik, termasuk mengkonsumsi musik asal Amerika melalui radio. Begitu banyak aliran yang didengar, pilihan jatuh pada reggae. Dia pun banyak mempelajari musik-musik reggae dari para pendahulunya, seperti Jimmy Cliff dan Horace Andy.

Berkat Bob, reggae makin digemari khalayak. Musik serapan ska, calypso, dan mento ini terus mendayu menelisik telinga, menggerakkan tubuh.

Keberadaan ganja yang dihalalkan oleh Perdana Menteri Jamaika, Michael Manley, pada dekade 1970-an, ikut memberikan kontribusi bagi reggae. Ganja yang oleh kaum Rastafarian dianggap sebagai ritual dalam menegaskan diri sebagai manusia pencinta perdamaian dan kebersamaan hidup, ternyata sangat cocok dialognya dengan irama musik reggae.

Bob Marley bukan sekadar penyanyi. Dari buku yang ditulis Helmi Y. Haska, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi, kita kian tahu bahwa dia juga pejuang, penyeru revolusi, dan pengabdi kemerdekaan manusia dari segala bentuk penjajahan.

Dia bukan sekadar pengikut kaum Rastafarian, tapi telah menjadi guru bagi mereka. Ia juga tidak semata mengajak orang untuk selalu optimistis dalam memandang hidup, tapi ia telah mencontohkan itu sepanjang masa hidupnya.

Ketegaran Bob Marley terutama tampak saat tragedi penembakan pada 3 Desember 1976 menimpa dirinya. Tragedi itu tak membuat dia ciut, meski lengan dan dadanya ditembus peluru panas.

Bob makin tegas. Bahkan dua hari setelah peristiwa itu, ia tetap menggelar konser besarnya yang telah lama direncanakan, "Smile Jamaica", di arena National Heroes Circle. Konser ini digelar khusus untuk misi perdamaian menjelang pemilihan umum 15 Desember 1976 di Jamaika yang sedang berkecamuk.

Saat pertunjukan berakhir, Bob menunjukkan bekas luka tembak yang belum sembuh kepada para penggemarnya. Di atas panggung besar itu ia tertawa lantang. Menertawakan para penembak yang pengecut.

Sebagai musisi yang taat pada nilai-nilai kemanusiaan, Bob Marley selalu menyerukan perdamaian di setiap konsernya.

Tak berhenti di situ. Bob disebut ikut memberi dukungan moril dan materiil bagi perjuangan kemerdekaan negeri Zimbabwe dari nafsu imperialisme Inggris. Dia pun "terlibat" dengan kelompok perjuangan teologis sekte Rastafari asal Karibia. Musisi ini kian akrab dengan perjuangan kaum marginal di belahan negeri Afrika.

Dalam banyak tulisannya, sosiolog Antonio Gramsci pernah menyinggung kategori tokoh pinggiran semacam ini. Di setiap kelas sosial tertentu, perlu ada satu atau lebih kekuatan intelektual yang dapat merumuskan peran bersama dalam reformasi moral, intelektual, ekonomi, dan sosial.

Dengan demikian, setiap golongan dari yang besar hingga kecil mampu menciptakan kekuatan intelektualnya sendiri dalam menghadapi hegemoni. Itulah "intelektual lokal" yang oleh Gramsci disebut dengan "intelektual organik".

Rasa-rasanya tak berlebihan menyebut Bob Marley sebagai intelektual organik dari Jamaika yang miskin atau dari sekte Rastafarian yang bergelora itu. Sebagai penganut sekte Rastafari, Bob tahu persis bagaimana ia harus bersikap mengatasi kegagapan makna dalam janji perdamaian yang terbungkus rapi dalam kitab suci agama-agama formal.

Rastafarian sendiri merupakan wujud sekte yang lahir dari pemberontakan atas Judaisme dan Kristenitas. Rastafarian juga merupakan perlawanan atas warisan kesombongan Babilonia, seperti tecermin juga dalam otoritarianisme Mussolini yang menjajah tanah suci kaum Rastafarian, Ethiopia, pada 1935.

Pergolakan spiritual Bob Marley, dengan demikian, seiring dengan revolusi teologis kaum Rastafarian. Begitulah, dalam sejarahnya, kaum Rastafarian mengangkat Ras Tafari Makkonen sebagai Haile Selassie (raja segala raja) atau kurang-lebih "sejajar" sebagai pengejewantahan Tuhan.

Bob Marley makin meresapi hakikat kemanusiaan, saat dia (terpaksa) mengikuti wajib militer, dalam perantauan di Amerika Serikat. Musuhnya adalah Vietnam.

Dia lari dari kewajiban itu. Diam-diam, banyak karya lagu yang bersinggungan dengan revolusi, perang, politik, dan tragedi kemanusiaan lahir.

Coba saja kita perhatikan seruannya: "One love, one hearth. Let's get together and feel all right. Hear the children crying!" (One Love). Dengan riang, dia mengembuskan indahnya perdamaian.

-Koran TEMPO, 24 Juli 2005

Thursday, June 01, 2006

The Soeharto issue and the Porn Laws – Dark clouds above Indonesia

One could recite a litany on the problems facing the Indonesia: unsolved corruption cases, new corruption, regional anarchy, legal uncertainty, poor public health, nonexistent education system, gender issues, environmental abuse, religious violence, ethnic violence, rich-poor gap, high fuel prices, high electrical prices, traffic congestion, add your faves. They are the ‘real’ issues. They are the operational issues – things a lot people can deal with, if only they would.

But the Soeharto and the APP (Anti-Porn Bill) issues, which seemed at first to be distractions from the main problems, are actually the real problems. They are by definition the fundamental problems because without some motion in solving the problem, no political will exists to mobilize people for the operational issues. Let us take a look at them separately:

Menolak Pornografi, Menolak UU APP


Perjuangan melawan UU APP diangkat oleh Srikandi Demokrasi. Pemrakarsa adalah Sukmadewi SH, Elen Moniung SH, Dwi Ria Latifa SH, Merry Girsang SH, Herdiana SH, Dea Sum Hastury, Nuraini Sip, Tumbu Saraswati SH, Dr Ciptaning, Rara SH, Edi Mihati SH, Ir Ismayatun, Dra Supami, Elva Hartati SH, Septi SE.Mm, Dra Hanna, Dewi Permadi,Lady, Dra Emi, Pier Se, Rukiah, Tunggal, Sere, Yuli, Ade, Ety, Rena, Putri Alexandra, Maya . Srikandi Demokrasi Indonesia menyatakan diri sebagai perempuan yang peduli terhadap demokrasi, hak azasi manusia, anti korupsi dan pluralisme.

Monday, May 29, 2006

Gempa dari Lautan Kidul


Sabtu 27 Mei lalu Yogyakarta dikejutkan oleh gempa bumi berkekuatan 6,2 pada skala Richter. Saat ini (29/05) jumlah korban tewas dikabarkan sudah di atas 5000 jiwa. Lewat berbagai pemberitaan cetak yang terbit di Yogya, Surabaya, Malang dan Jakarta, RN menghimpun perkembangan keadaan di Yogya dan sekitarnya sampai hari Minggu siang (28/05), mengenai tragedi bencana alam tersebut.

Friday, May 26, 2006

Menimbang Sewindu Reformasi


Duapuluh satu Mei lalu, tepat delapan tahun sudah bekas Presiden Soeharto lengser dari tampuk kekuasaannya. Tuntutan mundurnya orang kuat orde baru itu merupakan salah satu butir agenda reformasi yang diusung para mahasiswa. Sementara di tengah sakitnya Soeharto sekarang, pemerintah berencana mengampuninya. Kini, sewindu sudah gerakan reformasi berjalan. Bagaimana para tokoh Reformasi dan bekas aktivis mahasiswa 1998 menilai perjalanan reformasi? Laporan kantor berita 68h di Jakarta.

Wednesday, May 24, 2006

Soeharto Harus Diadili



Kondisi kesehatan Soeharto kembali memburuk. Mantan presiden RI ini mengalami pendarahan pada lambung. Tim dokter belum tahu apa penyebab terjadinya pendarahan. Menurut tim dokter kondisi kesehatan Soeharto jauh lebih buruk ketimbang Senin kemarin. Namun bagi Dr. Adnan Buyung Nasution, bagaimana pun juga, mantan diktator ini harus diadili supaya jelas apakah ia bersalah atau tidak bersalah. Dan kalaupun Soeharto dinyatakan bersalah dan harus dihukum, hukumlah dia seadil-adilnya. Sehari di penjara sudah cukup. Demikian tandas pengacara Dr. Adnan Buyung Nasution kepada Radio Nederland Wereldomroep.

Menggali Kebenaran

Jerman pernah menanggung beban masa silam yang carut marut : rezim NAZI, perang dunia, pembelahan bangsa, dan rezim totaliter di Jerman Timur. Beban tersebut dapat dihadapi dengan terbuka, seperti di Jerman, atau dengan menggelar proses mencari kebenaran dan rekonsiliasi seperti dipelopori Afrika Selatannya Presiden Nelson Mandela. Di Indonesia, belum ada kesadaran akan pentingnya pelurusan sejarah, para pelanggar HAM di rezim lama masih berkuasa, dan stigmatisasi terhadap para korban masih juga terjadi.

Monday, May 22, 2006

Milisi, Kenapa Dibiarkan ?


Seiring proses reformasi, bermunculan sejumlah kelompok milisi yang dibentuk berdasarkan ide sektarian. Di antara kelompok milisi tersebut, dua yang paling menonjol Front Pembela Islam dan Forum Betawi Rembug. Kekerasan adalah metode yang kerap mereka pergunakan dalam aksinya. Kenapa dibiarkan? Bagaimana pandangan masyarakat?

Hari Nasional Anak-Anak Jalanan

Keteguhan dan kreativitas anak-anak jalanan jadi tema utama Hari Nasional Anak-Anak Jalanan, Rabu, 17 Mei. Anak-anak jalanan dari berbagai belahan dunia berkumpul di Belanda untuk unjuk kemampuan melalui festival teater jalanan internasional. Namun seberapa jauh itu menggambarkan kenyataan yang ada?

Apa definisinya?Definisi anak-anak jalanan terus meluas. Dari anak-anak yang baik siang dan malamnya ada di jalan, hingga anak-anak yang sebagian besar waktunya ada di jalan tapi malamnya beristirahat di rumah. Jumlah anak jalanan juga turut bertambah. Diperkirakan terdapat 25 hingga 140 juta anak jalanan di dunia, tergantung definisi mana yang dipakai. Menurut Foussini Trabouri, umur 16 tahun, asal Burkina Faso, mereka yang ada di jalan dari usia tiga sampai 11 tahun punya pengertian sendiri tentang apa itu anak jalanan.

"Sebagai anak jalanan anda harus mandiri setiap harinya. Kalau anda sakit tidak ada orang yang merawat anda. Anda harus menghadapinya sendiri."

Rwanda Adili Pelaku Genosida Secara Massal


Pengadilan Gacaca secara resmi dimulai di Rwanda bulan ini. Sekitar 12.000 pengadilan rakyat siap mengadili ratusan ribu orang yang terlibat dalam genosida tahun 1994 di Rwanda. Sekretaris sistem pengadilan Gacaca, Domitila Mukantaganzwa, bersama Menteri Luar Negeri Charles Murigande sengaja datang ke Belanda menjelaskan tentang pengadilan istimewa itu.

Penegakan HAM Pasca Helsinki

Sebuah pertanyaan masih menggelembung berkaitan dengan perdamaian Aceh. Akankah pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh selama ini dibiarkan begitu saja atau kembali diusut dari awal?
Jika merujuk kepada MoU Helsinki antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, keinginan untuk mengusut kembali kasus pelanggaran HAM itu mamang tertuang jelas. Dalam pasal 2 perjanjian tersebut dikatakan, Pemerintah RI akan mematuhi Kovenan Internasional PBB mengenai Hak-hak Sipil dan Politik dan mengenai Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya; Pengadilan HAM akan dibentuk untuk Aceh dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) akan dibentuk oleh KKR nasional.

KORBAN, KEADILAN DAN KEDAMAIAN

Dimulai ketika Hasan Tiro Cs memproklamirkan berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1976, upaya untuk meredam sikap protes rakyat Aceh terhadap kebijakan pemerintah pusat, disambut dengan sikap otoriter dan fasis oleh pemerintah RI. Pencarian Hasan Tiro Cs dilakukan, dengan pengiriman pasukan dan status Daerah Operasi Militer (DOM), hidup atau mati. Lantas, masyarakat sipil yang diduga dan dituduh sebagai bagian dari Gerakan Aceh Merdeka, tewas terbunuh sia-sia dengan beragam cara.

Nilai-nilai kemanusiaan tercabik-cabik pada masa itu. Pelanggaran HAM bukan saja menjadi satu hal yang ditentang, tapi sudah menjadi rutinitas dan santapan para pelaku kejahatan kemanusiaan. Tak ada satupun kata belas kasihan terhadap rakyat Aceh yang sudah dijerat dengan dugaan dan tuduhan terhadap label GAM.

Seiring berakhirnya status DOM pada tahun 1989 dan rentetan peristiwa kekerasan lainnya, MoU Helsinski dalam salah satu butirnya mengamanatkan upaya untuk mencari keadilan bagi para korban tindak kekerasan selama kurun waktu tersebut. Pun sebelum diamanatkan oleh MoU Helsinski, beragam upaya sudah ditempuh oleh Pemerintah RI dengan desakan dari berbagai kalangan. Namun hasilnya, segala temuan dari kasus-kasus pelanggaran HAM hanya sebatas menjadi rekomendasi tanpa adanya langkah konkrit dari pemerintah RI untuk menyikapinya lebih lanjut.

Iklim politik dan proteksi terhadap pelaku kekerasan, mendominasi proses yang seharusnya signifikan untuk diselesaikan jauh-jauh hari sebelumnya berdasar dari temuan-temuan dilapangan. Bukan tanpa dasar ini dilakukan, mengingat pelaku kekerasan melibatkan institusi militer, tapi juga mengarah pada perlindungan kepentingan politik dari “investasi” operasi militer yang sudah dilakukan di Aceh.

Memilukan memang pada akhirnya, disatu sisi korban masih mencari dan bertanya-tanya tentang keadilan, disisi lainnya sikap ambigu dari pemerintah RI mendominasi iklim politik terhadap kebenaran dan rekonsiliasi. Sikap mengambil jalan tengah untuk melupakan semua peristiwa dan memaafkan, disinyalir menjadi satu topik yang utama untuk penyelesaian.

Lalu, dimanakah posisi korban dan dimanakah posisi pelaku yang harus bertanggung jawab? Kemana juga damai dan keadilan yang selama ini menjadi substansi dari kesepakatan damai? Akankah semua jawaban tersebut dapat terakomodir dalam pembahasan RUU PA?

Aceh dimasa konflik, bukan saja meninggalkan trauma yang mendalam untuk para korban. Tapi juga, meninggalkan beragam pertanyaan yang hingga hari ini belum bisa dijawab oleh pemegang tampuk kekuasaan negeri ini. Terutama untuk para korban dan rasa keadilan yang niscaya akan menuntun Aceh dalam kedamaian.[T]
Editorial Aceh Loen Sayang
Edisi April 2006

Tuesday, May 09, 2006

RUMOH GEUDONG: THE TORTURE CAMP

The District of Pidie was well-known in Aceh for its agricultural abundance. This 4, 160.55 square km area is comprised of district (wilayah pembantu bupati), 23 sub-district (kecamatan), 127 residential areas (pemukiman) and 948 villages (desa/kelurahan) with Tangse and Geupang sub-district in the highland and the rest in the lowland. Situated between 4.39-4.60 degrees of north latitude and 95.75-96.20 of east longitude, Pidie is bordered by the Mallaca straits in the north, Aceh Tengah district in the south and Aceh Besar district in the west.

The 1995 statistics showed that this area contributed the biggest share of 47.06 per cent Gross Regional Domestic Product (GRDP). In short, Pidie was the rice bowl of Aceh. This however did not reflect in the economic outlook of the area. More that 50 per cent of the villages in Pidie were considered as deprived ones, menaing that 590 villages from 948 villages were categorized as underprivileged according to the official Presidential Decree. This irony was due to the prolong conflict occurred under the endorsement of DOM status. Not only were the Aceh people marginalized economically, they also lived their life in continuous terror.

One of many sources of terror to the people in Aceh was Rumoh Geudong. Rumoh Geudong was located in Billie Aron village in Geulumpang Tiga sub-district, around 125 km away from the city of Banda Aceh. Rumoh Geudong was built in 1818 by ampon Raja Lamkuta, the son of an Acehnese royal soldier. During the Dutch colonialism, King Lamkuta and his associates used the house as a place to prepare their strategies. Later on King Lamkuta was shot dead by the Dutch military police surrounded his place in Pulo Syahi, Keumala. He was buried in the royal cemetery in Aron Village nearby Rumoh Geudong. His 15-year old brother Teuku cut Ahmad continued the struggle but got shot by the Dutch troops as well. Later on, Rumoh Geudong was consecutively occupied by Teuku Kejreun Rahman, Teuku Kejreum Husein and Teuku Kejreun Gade. During the Japanese occupation until the independence of Indonesia in 1945, the son of Teuku Kejreun Husein, Teuku Raja Umar (known as Kejreun Umar) and his son Teuku Muhammad resided in Rumoh Geudong is in the hand of Cut Maidawati, the daughter of Teuku A. Rahman who inherented the house from his father, Teuku Ahmad or Ampon Muda, the son of Teuku Kejreun Gade.

Situated in the middle of a 150 x 80 square meter land near the main road connecting the cities of Banda Aceh in Aceh and Medan in North Sumatera province, Rumoh Geudong looked like any ordinary Aceh traditional houses. It was equipped with verandah, kitchen and a number of rooms in the front, central and back sides of the houses. Under its latest renovation, the top made of palm leaves was changed with an iron roof. The decayed wooden walls were replaced with the new carved ones. They built an additional room at the back side and a hall at the front. Every ‘bara’ (pillar of Aceh traditional houses) of Rumoh Geudong was carved with verses from one ‘juz’ (chapter) for the Holy Quran.

Since April 1990, Rumoh Geudong was transformed into a military post. According to the owner of Rumoh Geudong, the military officers occupied the houses without permission. They resided in Rumoh Geudong simply by insisting to the houses guard that they wanted to do so. The owner disagreed nevertheless the Kopassus officers continued to stay there. The officers changed the house into military post, put partitions in Rumoh Geudong and turned the house as the prison in the end of 1995. In 1996, the sub-district chief (Musyawarah Pimpinan Kecamatan/Muspika) issued a signed official letter requesting for temporary rent. However the owner of the houses never signed the paper. Since then, Rumoh Geudongwere known as Billie Aron Pos Sattis, covering three military regions in the sub-districts of Pidie: Glumpang Tiga, Kembang Tanjong and Bandar Baru sub-district.

The front and the middle rooms were divided with wooden and bamboo partitions and transformed into a number of 2 x 2 meter cells to accommodate the detainees for further interrogation an torture sessions. Cemented bricks made half of the wall at the back room and also the floor. The rooms were used as the office Rumoh Geudong chief, bedrooms for personnel, cells, torture rooms and kitchen. At the left side of backyard, a 1.5-meter deep septic tank was used as torture poles for the detainees. Here in Rumoh Geudong, various human rights violations such as kidnapping, rape, and robbery were committed during military operation under the authority of the chief of Billie Aron area.

When the DOM status was withdrawn on August 7, 1998, eight different chiefs from the Special Forces of the Armed Forces (Kopassus) unit were in charged of Rumoh Geudong, chiefs commanders of Rumoh Geudong were Hartono, Cecep, Dadang, Lieutenant II Sugiono, Lieutenant II Umar, Lieutenant I Partono from Battalion IV 42 Kopassus in Cijantung (the most sadistic commander), Lieutenant I Infantry Sutarman and Cakra. This chief, usually a second rank lieutenant from the infantry, headed a unit of 6 to 10 personnel of junior sergeants, senior sergeants, first rank soldier (Prajurit Satu/Pratu) and chief soldiers (Prajurit Kepala/Praka). It was difficult to identify military officers assigned in Rumoh Geudong since they rarely wore uniforms. Some even looked more like bandits with long hairs and earrings. Some victims were able to recall some of the perpetrators such as Sasmito (top assistant to Commander Sutarman, Umar and Partono), Prapat (a Bataknese), Nasrul, Arman (a Chinese-like young man with long hair), Joni, Faisal, Mirsal, Hartono, Rahmad, Sutrisno, Pranut, Joko and Adi. The officers would frequently recruited youths such as Bakar and Basri as assistances to torture and execute their own neighbors. One villager said, “People were scared of the officers and those 10-15 year-old delinquent juveniles. They drank, hanged around and play domino together. We loaded them all”.

The military, including those posted in Billie Aron Pos Sattis or Rumoh Geudong were involved in this unbroken vicious circle of physical, psychological and economic violence. Banning the mountainous part of Pidie from civilians and declaring it as target area for military action, the officers in Rumoh Geudong stole livestock of the Aceh people such as goats and buffaloes which were left roaming for grass in the pasture in the valley and the forest nearby. During the harvest period, the military also banned the Aceh people to the fields by declaring the areas as military regions. Quickly they turned the fields into stretches of bare grounds and pocketed the profit. Slowly the Aceh people lost all of their hard-earning crops and cattles and were left empty handed.

Sometimes the officers including the cuaks (mata-mata) from Rumoh Geudong ordered the villagers to clear the roads from twigs and branches. As a result, the officers enjoyed clear passable roads for their trucks and pockets full of money earned by selling all firewood’s to the local market. They also asked the villagers for rice, sugar, chicken, money and palm leaves for Rumoh Geudong’s new roof. They also ordered villagers, including 13-17 year-old boys and girls, to do the cooking, wash the dishes and clothes, mow the lawn, feed the detainees, chop the firewood’s and so on. The villagers was instructed to dig for sewers, clear new paths and set up security posts. Those who refused were accused as supporters of GAM and the ones who made mistakes received severe sanctions. The military also ordered 12 people from the neighboring villages to secure Rumoh Geudong every evening to ensure no detainees escaped from the house. Divided into two groups, the villagers started to take turns in their rounds at 7 in the evening and finished at 7 in the next morning. One villagers admitted that, “Sometimes we were tired and fell asleep. Then suddenly some officers popped out. Then they beats us up. Some of us were immediately dragged into Rumoh Geudong. We were in constant fear at the time”. If some detainees managed to flee, these villagers were punished heavily. So some villagers tried to pass up their turns to guard Rumoh Geudong at night by paying substitutes for Rp. 15.000. Some avoided this task for personal reason, a former detainee said, “My neighbors often substituted for me because my father was detained in Rumoh Geudong. I couldn’t bear seeing him being tortured in front of my very own eyes”.

Even talking to the officers caused them great fear. Minor mistakes would lead into major sufferance’s, whether they were physical or mental abuses or loss of property. “We didn’t have the courage to talk to the officers, we were too nervous. We might say wrong things, even just one sentence,” said one victim. A villager shared his experience, “One day, Tengku Hasballah was looking for his goat nearby Rumoh Geudong. When he was there, the officers called him out of the blue and asked him to take off his watch. Rumoh Geudong was risky even to bystanders”. All were done under the slogan of “ABRI Masuk Desa” (military village development program).

Moreover, when the Kopassus officers were transferred to different areas due to their tour of duty, the villagers were instructed to organize farewell parties and invite notable figures such as village chiefs, local businessmen and other public authorities to donate their money. The officers were no more than thieves or robbers in the eyes of the Aceh people. However the trauma from the torture in Rumoh Geudong was tremendous so they were unable to fight back or report wrongdoings to the higher authority. Powerless, they could only suffer in silence. One of the victims testified, “Hearing the word “Rumoh Geudong” was enough to make me shiver in fear. I simply couldn’t describe the hatred I felt inside. Here we call it as ‘hell of the world’ (neuraka donya), ‘the torture camp for the Aceh people’ or ‘the place of the evil Pa’i (the Armed Forces or the National Police)’.

The fear casted by Rumoh Geudong affected the daily routines as well. According to a villager, before it was transformed inti a Pos Sattis, the people used to paid friendly visits to their neighbours, “…but things were not the same anymore. Children could no longer return home after attending their Quran learning classes in the evening because they were too scared. So they had to stay over and returned in the next morning. When our neighbours passed away or organized gatherings, it was difficult for us to attend those kind of social meetings. “The villagers chose to take different routes away from Rumoh Geudong to avoid the officers. “When officers were nearby, we prefer to keep our distance. If necessary, we would run away as far as we could,” said a villager.

Living nearby Rumoh Geudong also exposed the villagers to horrendous experience. Cries for mercy, screams in pain and hurtful groans leaked from the walls of Rumoh Geudong at night. To suppress the creeping noise, the officers in charge raised the volume from the tape recorder. Many villagers could not stand such psychological pressure and chose to move to different places. One villagers testified, “The neighbouring villagers were heavily depressed and suffered sleep deprivation. They became as skinny as the detainees of Rumoh Geudong. The feeling of listening to the sound of suffering was indescribable”.

Later on Rumoh Geudong was also well-known as a haunted house. The military personnel frequently witnessed the presence of a mysterious tiger. According to the local legend, this tiger emerged from bloody sheet in the coffin that used to be in Rumoh Geudong. The coffin belonged to an old woman who was brutally murdered by the Dutch soldiers. Some non-Moslem officers were strangely ‘moved’ downstairs from their room upstairs. In 1992, an officer shot his own colleague because he heard the voice of the tiger telling him to do so. Only after the officers asked a famous local Moslem cleric Abu Kuta Krueng to exorcise the spirits, then they occupied Rumoh Geudong.

When the Reform Era took place on August 21, 1998, the government lifted the DOM status on Aceh. The military authorities started to leave Rumoh Geudong and other Pos Sattis and headed to the city of Lhokseumawe. They left around Rp. 6 million of unpaid phone bills to the relatives of Rumoh Geudong owner. He officer in charge simply suggested the owner not to pay the bill, “Let the telephone company cut the line off. Just install the new one, it would cost you only Rp. 300.000. According to the Human Rights Fact Finding Team report, 50 per cent of the crimes done by the military officers assigned in Pidie during the DOM status took place in Rumoh Geudong. Since 1990 to 1998, thousands of people have been tortured in this house.

When the National Commission of Human Rights investigated Rumoh Geudong, they found electric cables scattered on the wooden floor along with ropes and chains hanging down the ceiling. They also came across 1 70 cm wooden pole assumed as one of the torture instruments. Blood were splattered on the walls. They also found 150 x 180 square meter of mass graveyard nearby Rumoh Geudong. No complete skeleton found though, there were only remains of human fingers, hands, feet and other body parts such as human hair. Some victims and witnesses observed that a number of military officers had ordered several detainees and villagers to clean the graveyard in the evening and put the bodies into the car to be brought to an unknown place. Those remains invoked the suppressed hatred of the people. Thirty minutes after the Head of the National Commission of Human Rights Baharuddin Lopa left Rumoh Geudong, the villagers burned down the house. This was considered as an extraordinary occurrence to the villagers. According to the local legend, in 1945 a group of people tried to burn down Rumoh Geudong but failed because three mysterious tigers came out from this house and attacked them. The owner, Teuku Djakfar Ahmad, interpreted this incident in his own way and said, “Perhaps the house itself requested to be destroyed so the flame would rinse all the memories of the unimagined cruelty which took place here in Rumoh Geudong.”

As the flames engulfed Rumoh Geudong, the neighbouring villagers bursted in tears and thanked God. One of them said, “We thanked God for this. We could not stand the cries and screams anymore from the Rumoh Geudong.” Another victims wished, “The responsible ones must be brought to justice.” One Acehnese said, “I wish we could hang the perpetrators in public places.” Another mentioned, “Nothing would heal us unless we could see them in court and received appropriate punishment.”


Rumoh Geudong; The Scar of The Acehnese, Dyah Rahmany, Cordova-2001